Opini

Orientalisme, Studi Agama dan Islam Nusantara

Oleh: Pradipto Niwandhono

Sudah beberapa minggu terakhir ini saya disibukkan bukan saja dengan urusan persiapan studi lanjut dan agenda-agenda terkait, tetapi juga dengan penyelesaian laporan penelitian yang jadi agak kacau. Proposal riset saya tahun ini sebenarnya saya buat untuk kompetisi penelitian tentang Islam Nusantara, yang belakangan baru saya ketahui bahwa itu bukan untuk bidang studi di luar pendidikan tinggi keislaman (UIN) seperti sejarah. Tetapi diluar dugaan ketika saya ajukan kembali sebagai proposal riset di fakultas ternyata malah diterima. Apa boleh buat jadinya saya buat seadanya dulu. Meski demikian dalam proses penyelesaian laporan penelitian ini saya menemukan dua buku menarik yang kemudian agak mengubah fokus kajian saya yang semula ditekankan pada sejarah Indonesia pasca-kemerdekaan atau masa kontemporer, menjadi lebih banyak dominan masa kolonialnya.

Buku pertama adalah karya Michael Laffan, “The Making of Indonesian Islam” yang terjemahannya diberi judul “Sejarah Islam di Nusantara” (2015). Ini adalah buku yang cukup sulit untuk diikuti (dan dipahami) bagi orang-orang yang tidak familiar dengan kajian naskah-naskah kuno, khususnya literatur Neo-Sufisme Islam — gerakan reformasi dalam jaringan tarekat-tarekat Sufi di Nusantara pada abad ke-17 dan 18 (sebelumnya telah dikaji secara intensif dalam disertasi Azyumardi Azra). Judul “Sejarah Islam di Nusantara” juga tampak terlalu kabur dan menyesatkan untuk sebuah buku yang sebenarnya membahas mengenai sejarah pengkajian literatur Islam pada masa kolonial oleh para orientalis Eropa, yang kemudian — pada masa Snouck Hurgronje sebagai penasihat urusan bumiputra dan Islam (1889-1906) — sangat mempengaruhi kebijakan pemerintah terhadap berbagai komunitas dan gerakan sosial Islam. Tema ini memang bukan hal baru, tetapi Laffan menjadikan pengetahuan kolonial tentang hubungan antara Sufisme dan tarekatnya sebagai bentuk dominan Islam di kepulauan Nusantara dengan gerakan reformasi maupun pemurnian Islam yang digagas di Timur Tengah, menjadi sentral untuk memahami ‘Islam Indonesia’. Apa hubungan antara konstruksi pengetahuan kolonial tentang Islam dengan kajian Islam oleh orang-orang Indonesia kekinian memang tidak dijelaskan dalam buku ini mengingat penulisnya mengakhiri uraiannya pada masa akhir kekuasaan negara kolonial.

Baca Juga:  BELAJAR DARI UAS

Selanjutnya buku yang saya temukan adalah “Wajah Studi Agama-Agama : Sejak Era Teosofi Indonesia hingga Masa Reformasi” karya Media Zainul Bahri. Tulisan ini menjadi terkait dengan buku pertama karena dua sebab. Pertama, ia membahas genealogis kajian keagamaan di Indonesia dari apa yang dinamakan ‘Ilmu perbandingan agama’ hingga bertransformasi menjadi Kajian Agama (Religious Studies) inter-disipliner. Menurutnya, keberadaan studi agama ini berasal dari kebutuhan intelektual para penyiar agama Kristen maupun Islam untuk menguasai dasar-dasar agama lain dan sebagai bentuk apologi (pembelaan iman) dari klaim kebenaran agama lain. Dengan demikian ‘ilmu perbandingan agama’ pada dasarnya adalah pengkajian lintas agama dengan menggunakan standar atau tolok ukur dari agama tertentu yang dianut sang peneliti, sehingga kadar subjektivitasnya menjadi sangat tinggi. Berlainan dengan itu, Kajian Agama merupakan upaya untuk melihat fenomena-fenomena keagamaan dari perspektif netral dan murni saintifik, baik itu dari segi kesejarahan, sosiologis, antropologis, filosofis maupun psikologis. Meski demikian dalam kenyataanya kajian keagamaan di Indonesia masih menjadi ‘ilmu eksklusif’ di perguruan tinggi dan menjadi medan wacana yang sensitif, berbeda dengan kondisi di negara Barat sekuler yang netral agama.

Dari kedua buku dapat disimpulkan bahwa pengkajian terhadap agama khususnya terhadap Islam telah dirintis oleh orang-orang Eropa, pada awalnya dengan tujuan-tujuan apologis untuk mendukung misi Kristen. Akan tetapi dengan kemenangan kaum humanis dengan politik etisnya, mulai diupayakan adanya pengkajian keislaman atau lintas agama yang bersifat netral, dimana peneliti secara bersungguh-sungguh mengungkapkan makna keagamaan dari perspektif penganut agama yang dijadikan objek kajiannya — baik individual maupun sebagai kolektivitas. Kajian agama sebagai disiplin independen ini dirintis pertama kalinya oleh Friedrich Max Muller dari Jerman dengan kajiannya akan agama-agama India kuno, tetapi di Hindia Belanda upaya-upaya ke arah ‘pass-over’ keagamaan atau spiritualitas agaknya dimulai oleh para pendukung perkumpulan Teosofi Hindia pada tahun-tahun 1910-an hingga 1930-an. Meski pengaruh Teosofi dengan politik asosiasi Barat dan Timur-nya mulai surut di kalangan nasionalis arus-utama yang mulai menonjolkan ideologi anti-kolonial secara tanpa kompromi, perspektif netral-agama kaum nasionalis sedikit banyak diwarisi dari mereka.

Baca Juga:  Kinerja Perpajakan 2018 Membaik, Buah Kerja Keras dan Trust.

Apa yang terjadi dengan kajian agama di Indonesia setelah kemerdekaan kurang lebih sama saja dengan zaman kolonial, hanya posisinya dibalik saja 180 derajat ; Bukan kalangan orientalis Eropa yang mengkaji Islam untuk tujuan-tujuan apologis dari misi keagamaan Kristen, melainkan Islam dan tokoh-tokohnya yang mengkaji agama lain — khususnya Kristen dan Kristologi — untuk memfasilitasi kepentingan dakwah Islam dengan menunjukkan ‘penyimpangan’ atau inkonsistensi doktrin teologis Kristen. Paradigma ‘perbandingan agama’ yang bersifat apologetik ini memang masih terus bertahan, meski terdapat cukup banyak upaya untuk mempublikasikan karya akademis ataupun ilmiah-populer bidang kajian keagamaan komparatif dengan mengambil posisi netral. Pada masa-masa Orde Baru dan khususnya awal Reformasi, upaya penciptaan disiplin kajian agama yang independen ini juga berkaitan dengan kebijakan negara untuk menetralisir kaum ‘Islam politik’ dengan mendukung terbentuknya kelompok intelektual muslim moderat dan menciptakan Islam sebagai agama sipil sekaligus mempribumikan (atau menasionaliasikan) Islam itu sendiri….

Itu saja kesimpulan sementara dari pembacaan-pembacaan untuk penelitian saya kali ini, karena sesungguhnya saya juga masih cukup bingung untuk menyelesaikannya secara tuntas….

***

Jokowi : ‘Suharto baru’ berbaju Sukarnois ?
Penulis: Pradipto Niwandhono ~ Dosen Universitas Airlangga
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close