Pendidikan

Historiografi Teosofi di Indonesia

Oleh: Pradipto Niwandhono

Historiografi Teosofi di Indonesia
(Foto: Para tokoh utama Teosofi Henry Olcott.,Annie Besant dan Charles W. Leadbeater )

Di Indonesia, topik mengenai esoterisme dan khususnya gerakan Teosofi dibicarakan dalam dua atau tiga persepektif utama. Pertama, Teosofi sebagai objek kajian sejarah, kedua sebagai kajian fenomena keagamaan atau ‘religious studies’, dan terakhir adalah Teosofi sebagai ajaran (doktrin) esoterik dan spiritual itu sendiri. Untuk kategori pertama masih bisa dibagi menjadi sejarah akademis, atau sejarah ‘konspirasional’ yang sering mengklaim diri sebagai alternatif dari pengetahuan sejarah arus utama, tapi kemudian sering lebih diwarnai bias konservatisme religius. Sementara itu, keberadaan media sosial khususnya polarisasi (dan sentimen anti Islam politik) yang meningkat pada masa Jokowi telah memungkinkan berbagai kelompok sekuler maupun minoritas religius untuk mengekspresikan diri. Beberapa diantaranya cukup terang-terangan menjadi penggiat spiritual dan mendakwahkan ajaran spiritual ataupun wawasan lintas agama.

Dalam tulisan ini saya akan memaparkan dalam bentuk apa saja gerakan Teosofi telah didiskusikan ataupun dikaji baik secara akademis maupun non-akademis. Harus diakui juga bahwa pembicaraan tentang aliran esoterik ataupun okultisme Barat di kalangan awam masih didominasi unsur pseudo-historis yang berkaitan dengan teori konspirasi. Karena itu saya akan memulai uraian ini dengan suatu fakta, bahwa Teosofi harus diakui merupakan bagian dari arus intelektual Barat yang terbentuk oleh pertemuan kolonial dengan dunia Timur, suatu perwujudan dari ‘orientalisme’. Selain itu, Teosofi juga berperan besar dalam hal-hal seperti: Pertama, meningkatnya kesadaran baru akan keunggulan spiritual dunia Timur dan kebanggaan akan warisan kearifan lokal di dunia terjajah, khususnya India dan Indonesia; kedua, ia juga mendorong kebangkitan semacam ‘humanisme trans-religius’ yang dibentuk baik oleh semangat persaudaraan kemanusiaan universal maupun dorongan intelektual untuk melakukan pengkajian lintas agama. Saya juga akan meninjau beberapa artikel atapun monografi / buku bermuatan sejarah ataupun kajian agama yang membahas Teosofi beserta pendekatan dan implikasinya.

 

Teosofi sebagai bentuk ‘orientalisme’

Kemunculan gerakan dan Perhimpunan Teosofi pada tahun 1875 di Amerika Serikat, yang kemudian dipindahkan pusatnya di Adyar (India), tidaklah berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari gerakan intelektual-kultural yang berlangsung sejak berakhirnya masa Pencerahan dan Revolusi di dunia Barat (Amerika-Prancis), yaitu ‘renaisans oriental’ yang didukung oleh para pemikir Eropa zaman romantik. Meski akar dari tradisi literer dan intelektual yang disebut orientalis sudah berlangsung lebih lama dari imperialisme Eropa itu sendiri, ia baru dilembagakan sekitar akhir abad kedelapan belas. J.J Clarke dalam ‘Oriental Enlightenment: The Encounter between Asian and Western Thought’ (1997) mengurai keterlibatan pemikir dan sarjana Eropa dalam menciptakan imaji tentang kearifan pemikiran filosofis dan keagamaan dunia Timur, khususnya India dan Cina, di dunia Barat. Tulisan Clarke merespon penggambaran tentang wacana orientalis sebagai semata landasan intelektual untuk membenarkan hubungan kekuasaan imperial Eropa atas dunia Timur sebagaimana dilakukan Edward Said. Justru zaman Pencerahan Eropa dengan skeptisisme-nya pada tradisi Judeo-Kristiani secara tidak langsung memberi ruang pada pencarian dan pertemuan saintifik dengan pemikiran maupun tradisi religio-spiritual non-Barat.

Beberapa faktor yang mendahului kelahiran gerakan Teosofi modern bisa disebutkan di sini. Pertama, lahirnya ilmu kajian perbandingan agama. Ini sedikit banyak berkaitan dengan aktivitas sarjana keagamaan dan filolog Jerman, Frederich Max Muller dalam menterjemahkan sejumlah naskah keagamaan kuno dari India seperti Upanishad atau Bhagavad Gita. Kedua, perkembangan saintifik dan pertentangan sains-agama yang mengemuka setelah dimunculkannya teori evolusi dan seleksi alamiah Darwinian — termasuk sejumlah penemuan teoretis mengenai tatanan ras manusia. Terakhir berkaitan dengan fenomena spiritualisme atau spiritisme di Amerika Serikat. Spiritualisme adalah aliran esoteris mengenai kemampuan manusia untuk berkomunikasi dengan alam spirit dari orang-orang yang telah mati, tetapi juga mengklaim bahwa fenomena tersebut (mediumship) dapat dijelaskan secara saintifik. Hal ini kemudian diikuti dengan lahirnya ilmu parapsikologi, suatu cabang psikologi mengenai keparanormalan dan dibentuknya Society for Psychical Research (SPR) di Inggris pada tahun 1882, yaitu perhimpunan saintifik untuk pengkajian tentang kekuatan kejiwaan manusia. Dalam mahakarya Helena Blavatsky, “The Secret Doctrine” (1888) secara umum digambarkan bahwa Teosofi adalah sebuah ilmu yang diilhami kearifan ilahi, suatu amalgamasi teori evolusi dan wawasan-wawasan esoteris kuno yang (seperti halnya spiritualisme) bertujuan untuk menjelaskan secara ‘ilmiah’ potensi-potensi tersebunyi (okult) dalam diri manusia.

Baca Juga:  Kesabaran

Kajian Farabi Fakih dalam tesis masternya, “Political Java in Modern Times : The Political Thoughts of Tjipto Mangunkusumo and Noto Soeroto 1908-1930” menempatkan Teosofi sebagai bagian dari proyek saintifik kolonial tentang dunia Timur, sekaligus memiliki peran esensial dalam kemunculan nasionalisme kultural Jawa. Sejak magnum opus Raffles mengenai sejarah Jawa (1817), para sarjana kolonial mulai melihat Jawa sebagai perluasan peradaban India sekaligus menganggap Jawa sebagai ‘ras unggul’ kepulauan Indonesia yang memiliki kapasitas bawaan untuk menciptakan peradaban tinggi dibanding kelompok lainnya. (Menurut doktrin teosofis, Jawa dan Asia Timur lainnya merupakan perkembangan dari ‘ras akar’ keempat sementara ras Indo-Arya adalah ‘ras akar’ kelima yang berada dalam tahapan evolusi lebih tnggi) Hal ini semakin diperkuat dengan penemuan arkeologis peradaban-peradaban Nusantara kuno dan kajian filologis mengenai bahasa Kawi dan keterkaitan etnolinguistik-nya dengan Sanskrit India. Akan tetapi aktivitas kaum orientalis dalam mendukung ‘renaisans oriental’ ala Jawa agaknya paralel dan saling mendukung dengan kebijakan asosiasi kaum etisi kolonial yang bertujuan pada penciptaan elite birokratis baru — di samping untuk mengantisipasi kebangkitan politik Islam dengan mengisolasi kelompok ini baik dengan Islam kultural maupun arisrokrasi tradisional.

Historiografi Teosofi di Indonesia 1
(Foto: logo perhimpunan Teosofi)

Teosofi, Kearifan lokal dan Nasionalisme kultural

Sebagian besar kajian sejarah mengenai Teosofi Indonesia berkaitan dengan tahapan awal gerakan nasionalis, di mana kaum aristokrat dan unsur nasionalis kultural dominan. Sementara itu, kecuali di kalangan antropolog agama tampaknya hanya sedikit kajian yang menunjukkan kontinuitas historis ataupun pengaruh Teosofi terhadap mistisisme lokal di Jawa. Beberapa studi yang penting mencakup tulisan Iskandar P. Nugraha (1989/2001), Herman A.O. de Tollenaere (1996), dan Laurie J. Sears (1996). Studi skripsi Iskandar bisa dikatakan merupakan pelopor dalam bidang ini, untuk sebagian besar mengangkat aspek intelektual dan pendidikan dari Teosofi. Tollenaere menggali lebih lanjut segi politis dari gerakan Teosofi Hindia Belanda dalam perbandingan dengan India Britania. Dengan membandingkan peran Annie Besant di India maupun Inggris (sebagai teosof dan mantan pemimpin sosialis Fabian yang pro-kemerdekaan India) dengan D. van Hinloopen Labberton di Hindia Belanda, tulisan ini menunjukkan peran Teosofi dalam nasionalisme Dunia Ketiga, dan pada dasarnya menolak tatanan kolonial berdasarkan ketidaksetaraan manusia. Akan tetapi kaum teosof ini juga berlawanan dengan nasionalisme yang dipengaruhi Marxisme karena doktrin pertentangan kelasnya yang mengingkari prinsip ‘kemanusiaan universal’, serta menegaskan bahwa bagaimanapun hubungan kolonial harus diselesaikan secara gradual dan sesuai dengan kapasitas evolusioner manusia untuk mencapai taraf peradaban yang lebih tinggi.

Buku karya Laurie Sears, ‘Shadows of Empire : Colonial Discourse and Javanese Tales’ (1996), sedikit banyak terangkum dalam artikelnya yang berjudul “Intellectuals, Theosophy, and Failed Narratives of the Nation in late Colonial Java”. Menurut Sears, Teosofi menjadi penting sebagai bagian dari praktek diskursif kolonial mengenai tradisi ‘Indic’ Jawa, khususnya berkaitan dengan wayang yaitu epos Mahabharata, Ramayana serta lebih khusus lagi ialah Bhagavad Gita. Naskah klasik terakhir tersebut berisi pencerahan spritual Arjuna selama pertemuannya dengan Krishna sebagai inkarnasi dari Dewa Wisnu. Justru wawasan-wawasan para teosof Belanda menarik bagi kalangan priyayi pergerakan karena menunjukkan pengakuan Eropa akan keunggulan spiritual dunia Timur, dan menempatkan peradaban Jawa setaraf dengan Barat. Sebagai teosof, Van Hinloopen Labberton juga mendapat simpati di kalangan Islam yang lebih berorientasi kultural karena kemahirannya menerjemahkan kearifan kuno dari epos-epos wayang dalam kerangka spiritualitas Islam (sufisme), bahkan mendapat julukan ‘kiai santri’. Sears juga membahas bagaimana wayang menjadi sumber rujukan utama filosofi politik dalam gerakan nasionalisme Jawa yang berlangsung singkat, tetapi kemudian terserap dalam arus utama nasionalisme Indonesia misalnya melalui gerakan pendidikan Taman Siswa.

Baca Juga:  Buruh dan Hegemoni?

Aspek yang lebih menarik dari Teosofi diungkapkan oleh artikel Marieke Bloembergen “New Spiritual Movements, Scholars, and ‘Greater India’ in Indonesia”, yang dimuat dalam Modern Times In Southeast Asia 1920s-1970s yang diedit oleh Susie Protschky dan Tom van den Berge. Ini adalah proyek bersama para sejarawan Australia dan Belanda tentang aspek-aspek budaya Asia Tenggara modern. Bloembergen tidak saja menghubungkan Teosofi dengan aliran-aliran mistik Jawa sejenis seperti Sumarah atau Subud (Susila Budi Dharma) melalui pengalaman orang-orang yang mengikuti berbagai perkumpulan tersebut secara bersamaan, namun juga dengan fenomena kebangkitan spiritual ‘pan-India’ yang lebih luas di dunia Barat. Dua individu yang dijadikan prototip pencari spiritual dari Jawa itu adalah Sutadi dan Suyono.

Sutadi berasal dari priyayi rendah masa akhir kolonial (tahun 1920-an dan 1930-an), terasosiasi dengan perkumpulan Sumarah sekaligus mempelajari Teosofi hingga pusatnya di India. Sementara Suyono (dari Solo) bergabung dengan Teosofi sekaligus Sumarah pada masa revolusi, tetapi kemudian aktif dalam kebangkitan Buddhisme dan menyimpan perpustakaan pribadi berisi literatur esoterisme dan rumahnya menjadi persinggahan bagi para pencari spiritual yang datang dari berbagai negara Barat.

Tulisan Marieke Bloembergen sebagaimana juga Paul Stange pada tahun 1990-an menjadi sedikit dari literatur yang berhasil merekonstruksi secara historis berbagai aliran dan lembaga kebatinan lokal pada masa pasca-kemerdekaan. Kecuali kajian Geertz yang bersetting di tahun 1950-an, sayangnya kita tidak mengetahui lebih banyak aspek yang lebih luas (sosial-politik) dari kebatinan setelah masa peralihan kekuasaan berdarah pada tahun 1965-1966.

 

Masalah Pluralisme : Teosofi dan kajian (perbandingan) agama

Salah satu pokok masalah yang kerap diajukan kalangan Islamis untuk menyerang Teosofi atau esoterisme Barat sejenis ialah ‘pluralisme’ religius dengan menganggap semua agama sama benarnya. Penulis dari kalangan konservatif seperti Artawijaya menampilkan Teosofi sebagai perpanjangan Freemasonry, organisasi yang dikendalikan ‘elite global’ Barat dan Yahudi untuk mensekularkan dunia dengan merusak keyakinan agama-agama lain. Meski demikian pendekatan konspiratif dan antisemitik semacam ini sudah sering dibantah oleh sarjana kajian Islam seperti Martin van Bruinessen, dengan memaparkan asal mula teori konspirasi Judeo-Masonik di dunia Islam yang hanya merupakan salinan dari Eropa.

Dalam bidang ini tulisan yang cukup penting ialah karya Media Zainul Bahri, “Wajah Studi Agama-agama : Dari Teosofi Indonesia hingga Masa Reformasi” (2015). Media bertolak dari berdirinya Perhimpunan Teosofi Hindia sebagai wadah institusional pertama di mana kajian perbandingan agama dapat dilakukan dalam perspektif yang ‘pluralis’, dan keluar dari kepentingan misioner Kristen sebagaimana sebelumnya dilakukan para sarjana kolonial. Tesis pokok dari buku ini adalah melacak asal mula disiplin ‘religious studies’ di Indonesia yang antara lain terinspirasi dari Teosofi, dan berlangsung paralel namun terpisah dari ‘perbandingan agama’ yang bersifat apologetis dan terus dipertahankan baik dari kalangan Kristen maupun Islam. Berkembangnya kajian religius (dalam perspektif netral-agama) sedikit banyak berhubungan dengan kebijakan awal Orde Baru yang bersifat anti Islam politik khususnya dengan diangkatnya tokoh-tokoh seperti Mukti Ali atau Alamsyah Ratu Perwiranegara sebagai menteri agama. Akan tetapi dengan adanya pergeseran kebijakan terhadap Islam pasca terbentuknya ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), eksponen utama aliran ‘pluralisme’ lintas agama ini lebih banyak berkaitan dengan kelompok post-tradisionalis Islam yang berada di luar lingkaran kekuasaan.

***

Jokowi : ‘Suharto baru’ berbaju Sukarnois ?
Penulis: Pradipto Niwandhono ~ Dosen Universitas Airlangga
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close