Opini

TERAWANG IBN SJAMSU (22)

Oleh: Rudolfus Antonius, Pengajar STT Abdiel Ungaran

Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 di bawah “naungan” Republik Investasi:

  1. Menginsyafi kembali bahwa Republik Investasi adalah salah satu gejala dari kapitalisme nasional yg terlambat hadir di panggung sejarah.
  2. Sejak penyerahan kedaulatan, kelas borjuis Pulau Melati bergulat dengan pertanyaan besar perihal pembangunan kapitalisme nasional: antara (1) berintegrasi dgn kapitalisme dunia (di bawah hegemoni imperialis AS) dan (2) berdikari membangun perekonomian kuasi-sosialis sambil memanfaatkan situasi Perang Dingin.
  3. Dalam periode 1950-1957 kecenderungan (1) lebih kuat. Sistem politik: demokrasi liberal.
  4. Dalam periode 1957-1966 kecenderungan (2) lebih kuat. Sistem politik: Demokrasi Terpimpin, yang ipso facto merupakan otoritarianisme Bonapartis Wong Agung Karno, yang bertumpu pada politik keseimbangan yg goyah antara kekuatan sipil Semut Merah dan kekuatan militer Laler Ijo.
  5. Dalam periode 1966-1998, setelah Laler Ijo membasmi Semut Merah dan menggulingkan Wong Agung, kecenderungan (1) mendominasi. Sistem politik: Ordine Nuovo, yg sejatinya merupakan modifikasi dari Demokrasi Terpimpin, yg berpijak pada konsolidasi tiga pilar sosial-politik: the gunners, birokrasi negara, dan partai negara.
  6. Tugas Ordine Nuovo, yang mempertemukan aspirasi & kepentingan komprador & kapitalis birokrat Pulau Melati dan imperialis pimpinan AS: (1) mengintegrasikan Pulau Melati dgn kapitalisme dunia dgn status kapitalisme pinggiran, dan (2) memastikan Semut Merah tidak bangkit (lagi) di Nusantara.
Baca Juga:  Eforia 51 Persen Saham Freeport

(Bersambung)

***

BELAJAR DARI UAS
Penulis: Rudolfus Antonius, Pengajar STT Abdiel Ungaran
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close