Opini

Tentang Bintang Suradi

Oleh: Andreas Joko Waskito

Dalam tulisan penutup (epilog) untuk buku tentang Dipa Nusantara, karya Satriono Priyo Utomo, yang segera terbit, sejarawan Asvi Warman Adam sepintas menyinggung disertasi Jacques Leclerc yang ditulis pada tahun 1967-1969. Antara lain mengutip, … “Leclerc menyebut peran Bintang Suradi yang menjadi sekretaris pribadi DN Aidit, di samping menjadi Pemimpin Redaksi jurnal berbahasa Inggris “Review of Indonesia”. Jurnal itu dilarang terbit Oktober 1960 dan kembali dihidupkan tahun 1963, justru ketika Bintang Suradi sudah meninggal karena kecelakaan di tempat parawisata Pantai Pelabuhan Ratu….”

Memang hanya sedikit yang tahu tentang sosok Bintang Suradi. Beruntung dalam buku memoar Siswoyo, sempat dikisahkan cukup panjang sosok kader intelektual tersebut. Begini penuturan Siswoyo tentang Bintang Suradi:

“Akan halnya mengenai tugas saya membantu pekerjaan Bung Disman sebagai Kepala Sekretariat, adalah menyusun serta mengkoordinasi tenaga-tenaga piket di Kantor CC. Kader-kader piket antara lain diambil dari anggota DPR, seperti Bung Anwar Kadir, Nungcik, Sundari, dan Sujito. Kemudian Bung Jamhari dari BTI, Usman Mufti Wijaya dari PPDI. Sedang yang menangani tamu-tamu dari luar negeri adalah Bung Bintang Suradi. Dia juga merangkap sebagai anggota Deplu CC.

Siapakah Bintang Suradi? Sesungguhnya, dia adalah seorang Belanda totok, yang nama aslinya Van der Ster. Sebelumnya dia anggota CPN (Communis Party Nederland). Tahun 1951, ia pindah ke Indonesia, dan menjadi WNI. Dia semula pendamping dan penerjemah delegasi EVC, bernama Joop Wolf serta Geugjes, ketika hadir dalam Konfernas SOBSI di Solo tahun 1952. Kemudian hari ia pernah juga mendampingi Aarons, Wakil Ketua Partai Komunis Australia, yang mengadakan kunjungan ke beberapa kota di Indonesia. Begitu pula tatkala kawan Wilcox, Sekjen Partai Komunis Selandia Baru serta Sanmugathasan, Ketua Partai Komunis M/L Srilangka berkunjung ke Indonesia; Bung Suradi jugalah yang mendampingi mereka. Bung Bintang Suradi adalah perjaka tua. Pada suatu waktu, berkat dorongan serta bantuan partai, dia kemudian menemukan pendamping hidupnya, yaitu zus Suwarti dari Solo. Suwarti adalah seorang guru HIS Muhammadiah dan bekas aktivis Partai Buruh Solo, ketika era FDR.

Baca Juga:  ISLAM YANG LENGGANG

Bagi saya, Bung Bintang Suradi adalah kader intelektual yang hebat, setidaknya dalam hal penguasaan bahasa. Meskipun ia tidak punya gelar akademik di bidang bahasa. Betapa tidak luar biasa, dia menguasai dengan baik delapan bahasa, yaitu empat bahasa Eropa: Belanda, Prancis, Inggris dan Jerman; kemudian mampu berdialog dengan fasih dalam Bahasa Spanyol dan Rusia. Dengan sendirinya pula ia bisa berbahasa Indonesia secara baik, termasuk bahasa Jawa.

Berkat kemampuan bahasanya itu Sekjen DPR pernah meminta bantuan kepada CC PKI untuk meminjamkan Bung Bintang Suradi guna menjadi penerjemah. Ini terjadi tatkala Kepala Negara Kerajaan Kamboja, Pangeran Norodom Sihanouk melakukan kunjungan ke Indonesia. Pada kesempatan menyampaikan pidato kenegaraan di depan Sidang Pleno DPR, Pangeran Norodom Sihanouk menggunakan Bahasa Prancis, dan diterjemahkan secara langsung oleh Bung Bintang Suradi ke dalam Bahasa Indonesia dengan bagus dan cermat. Sejak itu ia sering diminta bantuan menjadi penerjemah dalam kesempatan acara-acara resmi kenegaraan.

Baca Juga:  “Merespon Komentar Nyasar Gede Sandra”

Boleh dikatakan, Bung Bintang Suradi adalah salah satu contoh kader intelektual yang berpredikat “merah dan ahli”. Dia juga seorang intelektual kerakyatan, yang kehidupan sehari-hari, perilaku, serta penampilannya sangat sederhana. Dia pun akrab dengan kader-kader pekerja serta senang belajar dari pengalaman mereka. Sehari-hari ia menggunakan sepeda sebagai alat transportasinya. Ia juga tidak rikuh mengerjakan pekerjaan kasar apapun.

Hubungan saya dengan Bung Bintang Suradi sangat dekat, sejak ia banyak membantu pekerjaan saya dalam mengelola Lembaga Pendidikan UNRA. Tentu saja masih banyak kader intelektual yang “merah dan ahli” selain Bung Bintang Suradi. Misalnya, Dekan Universitas Gajah Mada DR. Busono Wiwoho, seorang pedagog dan psikolog; Drs. Porkas, S.H., Lektor Fakultas Sastra UI Drs. Jan Ave, dan masih banyak lagi yang lain. Saya khusus mengenang Bung Bintang Suradi bukan karena kedekatan saya secara pribadi, namun merupakan penghormatan saya kepadanya, serta sebagai bentuk tanda terima kasih kepada partai sekawan CPN.

Namun akhir hidupnya cukup tragik. Pada 1963, tatkala mendamping Bung Aidit menjamu tamu anggota Polit Biro Partai Komunis Australia berwisata ke Pelabuhan Ratu, terjadilah musibah. Bung Bintang Suradi terseret ombak ketika tengah santai berenang. Ia ditemukan nelayan sudah menjadi mayat. Jenazahnya kemudian dibawa ke Jakarta dan disemayamkan di Kantor CC PKI. Saya sempat melihat jenazahnya di dalam keranda. Wajahnya masih kelihatan segar seperti orang sedang tidur. Esok harinya, jenazah dimakamkan di TPU Karet.”

***

DASAR KONSEPSI PANCA CINTA
Penulis: Andreas Joko Waskito
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close