FeaturedPendidikan

TAN JOE HOK

Oleh: Ravando Lie, INCULS UGM

TAN JOE HOKSaya pertama kali mengenal namanya ketika duduk di bangku SMP. Saat itu saya sedang tergila-gila dengan badminton. Penampilan cemerlang dan prestasi Chandra/Sigit, Joko Suprianto, dan Ricky/Rexy menjadi salah satu alasannya. Kebetulan kedua orangtua saya juga senang mengikuti badminton dan kerap bercerita tentang legenda-legenda badminton yang mereka ketahui. Dan salah satunya adalah Tan Joe Hok.

Ketika internet mulai mudah diakses, saya pun mulai menelusuri rekam jejak beliau, yang jelas mengejutkan saya. Bisa dibilang Joe Hok merupakan pionir dari prestasi perbulutangkisan Indonesia. Ia merupakan orang Indonesia pertama yang menjuarai All England (1959) dan Asian Games (1962). Karena prestasinya, berturut-turut ia diundang dalam US Open dan Canada Open di mana ia berhasil menjuarai keduanya pada 1959 dan 1960. Nama Joe Hok menjadi buah bibir. Para wartawan Amerika geleng-geleng kepala melihat performa Joe Hok yang tak terkalahkan sepanjang turnamen. Tidak hanya itu, ia juga bermain di semua nomor di mana ia memenangi semuanya. Sports Illustrated, buletin olahraga kenamaan Amerika, pun secara khusus meliput Joe Hok. Dua halaman penuh!

Baca Juga:  Peringatan Hari Buruh di Madiun, 73 Tahun Yang Lalu

Selanjutnya, bersama Ferry Sonneville, Eddy Joesoef, Njoo Kiem Bie, Lie Poo Djian, Olich Solichin, dan Tan King Gwan, Indonesia dibawa merebut Piala Thomas dalam partisipasi pertamanya pada 1958. Gelar tersebut berhasil ia pertahankan dalam dua perhelatan selanjutnya pada 1961 dan 1964.

Artikel tentang Tan Joe Hok ini pernah saya tulis untuk Tirto pada 29 Januari 2019 (https://tirto.id/tan-joe-hok-pionir-prestasi-bulutangkis-in…)

Saat itu Ivan Aulia Ahsan selaku editor Tirto, menawarkan saya untuk menulis artikel mengenai lima tokoh Tionghoa yang berkontribusi besar bagi Indonesia. Tan Joe Hok adalah salah satu nama yang saya tawarkan ke Ivan, yang langsung ia setujui.

Setelah itu, muncul ide saya untuk mengembangkan kisah Tan Joe Hok ini lebih dalam. Ide itu muncul ketika saya tengah menyusuri artikel-artikel Sin Po medio 1950an hingga 1960an, di mana saya menemukan ratusan artikel tentang beliau. Tidak ketinggalan juga Thomas Barker, rekan microfilm saya selama riset di National Library of Australia, yang terus mengirimkan artikel tentang Joe Hok, manakala ia menemukannya di koran yang ia baca.

Baca Juga:  74 Tahun Indonesia Merdeka: Tentang Peristiwa Rengasdengklok

Ketika mengetahui bahwa beliau masih segar bugar, maka saya berinisiatif untuk mencari kontak beliau. Saya berterimakasih kepada Sylvie Tanaga yang telah berkenan memberikan nomor beliau.

Setelah beberapa kali berkontak, maka pada hari Selasa, 29 Oktober 2019, saya diundang ke rumah beliau di bilangan Jakarta Selatan. Selanjutnya, dengan ramah dan lugas beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah lama saya pendam, tentu sambil berdiskusi mengenai perkembangan badminton Indonesia. Hampir dua jam kami berdiskusi, dan dari beliau saya banyak belajar mengenai loyalitas, nasionalisme, perjuangan, dan lain sebagainya.

Terima kasih banyak Oom Joe Hok atas kontribusimu bagi bangsa ini. Tanpa kiprahmu, prestasi badminton Indonesia mungkin tidak akan bersinar seperti saat ini. Sehat dan bahagia selalu. Kami selalu berdoa yang terbaik untukmu.

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close