Opini

“Syafaat”

Oleh: Wima Brahmantya, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar

“Shalawat dan salam kita panjatkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, yang kita nantikan SYAFAATNYA di yaumil akhir nanti … “

Kalimat itulah yang sering kita dengarkan pada sesi pengajian, doa bersama, dan berbagai sambutan resmi. Sebagaimana tradisi yang sudah mapan di kalangan sebagian besar umat Islam untuk bershalawat dan memberikan salam kepada Nabi Muhammad, dengan harapan pada Hari Penghakiman nanti Nabi Muhammad akan memberikan “syafaat” yang artinya “pertolongan” kepada para pengikutnya.

Mari kita bayangkan sejenak ilustrasi dari kalimat tersebut. Kita bayangkan umat manusia berkumpul di Hari Penghakiman, menanti keputusan apakah Allah akan memasukkan mereka ke surga atau neraka. Tiba-tiba Nabi Muhammad muncul, dan mulai memilih siapa-siapa saja yang menjadi pengikut beliau berdasarkan siapa yang memenuhi kriteria “Rukun Islam” dan “Rukun Iman”, kurang lebih begitu. Sementara manusia yang lain, yang tidak sempat ‘bersyahadat’ secara lisan, otomatis masuk neraka.

 

Benarkah demikian?

Tidakkah penggambaran tersebut sedikit mirip dengan konsep penebusan dosa yang ada pada agama Kristen? Jika umat Kristen cukup mempercayai bahwa Nabi Isa (Yesus) menebus dosa-dosa mereka, maka umat Islam cukup ‘bersyahadat’ agar bisa memasuki surga.

Sesungguhnya, jika kita mau mempelajari Al Qur’an secara tekun, kita akan menemukan bahwa ajaran keselamatan antara Islam dan Kristen memang berbeda. Ya, kita harus hormati apa yang diyakini oleh umat Kristen dan biarkan saja mereka dengan apa yang mereka yakini. Namun demikian, seyogyanya kita harus jeli dalam memahami ajaran Islam itu sendiri, agar tidak tercampuri dengan konsep-konsep ajaran agama lain yang malah bertentangan.

Umumnya, pemahaman tentang syafaat Nabi Muhammad di Hari Penghakiman nanti bersumber dari beberapa hadits. Salah satunya :

HR Ath-Thabrani

Barang siapa yang bershalawat kepadaku di pagi hari 10 kali dan di sore hari 10 kali, maka dia akan mendapatkan SYAFAATKU pada hari kiamat.

Saya berpendapat bahwa umat Islam harus pandai-pandai menempatkan Hadits sesuai dengan fungsinya, supaya tidak terjadi kerancuan dalam beragama. Saya selalu menggunakan Alquran sebagai tolok ukur kebenaran suatu Hadits. Kalau Hadits tersebut selaras dengan Alquran ya boleh dipakai. Tapi jika bertentangan ya sudah seharusnya dibuang.

Baca Juga:  SHOW POLITICS & Infotaintment

Apa yang Al Qur’an katakan tentang “syafaat”?

QS 39 Az Zumar (Rombongan)

  1. Katakanlah: “HANYA KEPUNYAAN ALLAH SYAFA’AT ITU SEMUANYA. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan”.

Oh .. ternyata “syafaat” adalah hak prerogatif Allah!

Lalu bagaimana bisa selama ini kita memohon syafaat Nabi Muhammad, yang sama sekali bukan tandingan Sang Pencipta?

Tapi bukankah siapa saja bisa memberikan syafaat dengan seizin Allah? Termasuk Nabi Muhammad?

Betul … Tapi ingat, syafaat Nabi Muhammad hanya berlaku di dunia saja bukan di akhirat.

Berupa apa “syafaat Nabi Muhammad” itu?

Yes, Alquran! Satu-satunya kitab otentik warisan Nabi Muhammad   .

Dengan menjadikan Alquran sebagai petunjuk mengarungi kehidupanlah kita akan memperoleh “syafaat” alias “pertolongan” pada Hari Penghakiman nanti. Dengan ketakwaanlah kita akan mendapatkan syafaat di Hari Penghakiman nanti.

QS 2 Al Baqarah (Sapi Betina)

  1. Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah BERIMAN kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang BENAR; dan mereka itulah orang-orang yang BERTAKWA.

Al Qur’an juga mengatakan bahwa setiap orang akan bertanggung jawab sendiri-sendiri atas apa yang dilakukannya di dunia, pada Hari Penghakiman nanti. Tidak seorang pun bisa menolong apalagi menebus dosa, termasuk Nabi Muhammad sekalipun!

QS 2 Al Baqarah (Sapi Betina)

  1. Dan jagalah dirimu dari HARI PENGHAKIMAN (yang pada hari itu) SESEORANG TIDAK DAPAT MEMBELA ORANG LAIN, walau sedikit pun; dan (begitu pula) TIDAK DITERIMA SYAFA’AT dan tebusan daripadanya, dan tidaklah mereka akan ditolong.

QS 2 Al Baqarah (Sapi Betina)

  1. Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada HARI ITU (PENGHAKIMAN) tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan TIDAK ADA LAGI SYAFA’AT. Dan para pengingkar itulah orang-orang yang lalim.

Baca Juga:  STIGMA "KAFIR" DAN AKAR TERORISME (Sebuah Refleksi Kebangsaan)

QS 6 Al An’am (Hewan Ternak)

  1. Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (PADA HARI PENGHAKIMAN), sedang bagi mereka TIDAK ADA seorang pelindung dan PEMBERI SYAFA’AT pun SELAIN daripada ALLAH, agar mereka bertakwa.

Kalau begitu untuk apa kita bershalawat kepada Nabi?

Tentu saja bershalawat kepada Nabi Muhammad adalah sebuah bentuk kecintaan dengan cara mengirim doa kepada beliau. Tapi jangan sampai kebablasan sehingga menyejajarkan Nabi dengan Allah itu sendiri, dengan memohon keselamatan di Hari Penghakiman nanti!

Barangkali anda merasa keberatan dengan pendapat saya ini, karena sedari kecil kita sudah terbiasa dengan doa memohon syafaat Nabi Muhammad. Tapi awas, Al Qur’an telah menggambarkan ciri-ciri orang seperti itu sebagai orang-orang yang tidak beriman!

QS 39 Az Zumar (Rombongan)

  1. Katakanlah: “HANYA KEPUNYAAN ALLAH SYAFAAT ITU SEMUANYA. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan”. Dan APABILA HANYA NAMA ALLAH SAJA YANG DISEBUT, menjadi KESAL HATI ORANG-ORANG YANG TIDAK BERIMAN kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.

Mari tanyakan pada diri anda, apakah anda merasa kesal ketika diajak untuk menyebut nama Allah semata?

Apakah anda berkeberatan ketika diajak untuk hanya meminta pertolongan (syafaat) kepada Allah semata?

Mari memurnikan ketauhidan dengan hanya mengabdi kepada-Nya, meskipun akan banyak orang yang tidak akan senang dengan sikap anda itu!

QS 40 Al Ghafir

Maka SEMBAHLAH ALLAH dengan MEMURNIKAN IBADAH KEPADA-NYA, meskipun orang-orang yang ingkar tidak menyukainya.

Karena hanya kepada-Nya lah kita mengabdi dan meminta pertolongan!

QS 1 Al Fatihah (Pembuka)

  1. HANYA KEPADA ENGKAU-LAH kami MENYEMBAH dan hanya kepada Engkaulah kami MEMOHON PERTOLONGAN.

Sesungguhnya Allah selalu bersama kita, di mana pun kita berada  .

QS 57 Al Hadiid (Besi)

  1. …… Dan DIA BERSAMA KAMU DI MANA SAJA KAMU BERADA. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

***

Wima Brahmantya ketua dewam kesenian kabupaten blitar
Penulis: Wima Brahmantya ~ seniman dan budayawan, – Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.

 

 

Tags

Leave a Reply

Close