OpiniPendidikan

SO(K)LUSI

Oleh: Harry Wibowo

SO(K)LUSI
(Foto: istimewa)

Meskipun kritik tidak mengharuskan solusi, dalam kritisisme yang argumentatif, entah tersirat ataupun tersurat selalu mengandung solusi.

Tujuan kritik untuk mengubah perilaku dan sikon buruk agar membaik. Karena itu kritik argumentatif selalu konstruktif: dialektika antara membongkar dan membangun.

Tulisan dr. Yoni Syukriani ini salah satu contoh kritik tajam dan lugas terhadap pihak yang berwenang (kepolisian). Kritiknya seolah tidak menyodorkan solusi. Namun jika kita simak seksama artikelnya ini, tanpa sikap apriori, dia mengasumsikan dan menetapkan suatu standar normatif tentang perlunya menghormati kerja/ tugas medis dan melindungi para petugas medis dan korban dalam situasi konflik beresiko kekerasan bahkan situasi bentrokan.

Standar norma tersebut digunakan sebagai acuan atau patokan untuk menilai situasi dan para subyek/ aktor yang terlibat di dalam suatu kejadian.

Baca Juga:  Menguji 6 Klaim Rizal Ramli: Mitos atau Fakta?

Norma bahkan turunan praktisnya dalam wujud aturan ternyata telah dilanggar aparat kepolisian dalam menangani unjuk rasa yang lalu. Solusi sudah eksplisit ada dalam kritiknya, yakni agar polisi mematuhi standar normatif dan aturan yang ada. Jika bersalah harus dihukum.

Kalau logika elementer kritisisme macam ini aja nggak paham, masih mau menuntut solusi?

***

SO(K)LUSI
Penulis; Harry Wbowo ~ Redaktur Pelaksana Majalah Prisma (Foto: dikumen pribadi penulis)

 

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close