Opini

SI SOMPLAK

Oleh: Harry Wibowo

SI SOMPLAK
(Foto: Harry Wibowo)

Entah sudah berapa puluh kali saya memposkan gambar kulit muka buku dan edisi Prisma ini [Foto 1] di berbagai boks komentar yang relevan untuk mengargumenkan tesis “Demokrasi Diobral dalam Lingkaran Setan Korupsi”.

Tujuan pemposan saya tsb untuk mengajak warga FB membaca seksama hasil riset Edward Aspinall dan Ward Berenschot tentang korupsi politik/ klientisme politik yang telah berurat berakar menjadi basis demokrasi elektoral hingga hari ini.

Argumen buku tersebut didukung oleh dua artikel Prisma. Mada Sukmajati menjelaskan bagaimana korupsi politik bercokol dalam kasus besar seperti Hambalang dan E-KTP. Caroline Paskarina mengurai bagaimana berkait kelindannya kaitan korupsi politik dalam Pilkada dengan rentannya diskresi Otoda. http://bit.ly/2MwiA0U

Baca Juga:  Bung Karno Lahir di Mana?

Inti argumen buku dan kedua artikel tsb juga menjadi salah satu alasan mengapa kami menjadi #GOLonganPUcukTai dalam Pemilu lalu.

SI SOMPLAK
(Foto: istimewa)

Dalam debat dengan Arteria Dahlan di Mata Najwa, Prof. Emil Salim coba menjelaskan mengapa dia membela KPK melawan DPR. Beliau mengacu pada buku ‘Democracy for Sale’ tsb.(mulai 10:10.. – https://youtu.be/xthiy4hxFSs

Tapi AD memotong terus pembicaraan, berujung menuding-bising telunjuknya kepada Prof. Emil. Padahal sebelumnya sudah diingatkan Najwa: “.. ini bukan forum seperti DPR”

Silakan menilai sendiri kemana demokrasi Indonesia mau dibawa dengan basis korupsi dan klientisme politik, sehingga melahirkan kualitas anggota DPR seperti si mulut somplak itu.

Sekedar mengingatkan 11,12% alias lebih 17,5 juta pemilih yang hadirdi TPS ber-“suara tidak sah” (~ golput) dalam Pileg Nasional 2019.

Baca Juga:  Candi Badut Yang (Tidak Lagi) Ceria

***

SO(K)LUSI
Penulis; Harry Wbowo (Foto: dikumen pribadi penulis)
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close