OpiniPendidikan

Seputar Peristiwa 1965 : Hari Ini, 54 Tahun Yang Lalu

Oleh: Andreas Joko Waskito

RPKAD
Rewang (Foto: koleksi pribadi penulis)

Sekira awal Juli 1965, Rewang pindah ke Jakarta, karena mendapat tugas baru sebagai Kepala Departemen Kebudayaan dan anggota Sekretariat CC. Ia juga Ketua Panitia untuk memperingati ulang tahun pertama Konferensi Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) yang diselenggarakan pada September 1965. Jadi praktis menjelang G30S meletus, kegiatan Rewang banyak tersita untuk menyiapkan berbagai seminar.

Beberapa hari menjelang Peristiwa 1965, ada informasi bahwa kelompok anti-Dewan Jenderal akan melakukan suatu “gerakan”. “Saya dipanggil Oloan, anggota CC, untuk datang ke rumahnya di Jalan Padang, di daerah Manggarai, Jakarta. Dari sini, direncanakan, bersama kawan-kawan lainnya akan menuju ke suatu tempat yang belum diketahui di mana letaknya,” cerita Rewang dalam buku memoarnya, “Saya Seorang Revolusioner”.

Itu terjadi pada 28 September 1965 malam. Ternyata kemudian kita dibawa ke suatu tempat, yakni di daerah Kayu Awet, Jakarta. Di tempat inilah kemudian Rewang bertemu dengan Sudisman. Saat itu, ternyata Disman juga tidak begitu menguasai situasi konkret gerakan itu. Padahal, seperti diketahui, Sudisman adalah seorang petinggi partai, seorang Sekretaris Jenderal. Jadi hal ini membuatnya sangat heran.

Sampai pada malam 30 September 1965, pun tidak ada kegiatan apa-apa yang dilakukan. Semua hanya duduk-duduk saja. Ngobrol-ngobrol ringan. Yang berkumpul di Kayu Awet selain Rewang, adalah Sudisman, Oloan Hutapea, dan sekelompok aktivis yang tidak dikenalnya satu per satu. Kelompok ini nampaknya justru yang agak tahu. Karena, kelompok ini ada hubungannya dengan orang-orang dari Biro Chusus. “Saya katakan agak tahu, karena mereka banyak bercerita mengenai orang-orang yang bergabung dalam G30S.” Dari sejumlah orang itu, Rewang hanya mengenal satu orang. Tapi itu pun tidak kenal secara pribadi, yakni Suyono Pradigdo. Dia ini Ketua Komisi Verifikasi PKI. Kedudukannya apa di gerakan itu, ia tidak tahu. Suyono kemudian tertangkap lebih dulu. Belakangan diketahui dialah yang membocorkan keberadaan Sudisman. Sehingga akibatnya Bung Disman bisa ditangkap oleh tentara.

Baca Juga:  Rilis Pilgub Jatim 2018

Selama di Kayu Awet tidak ada yang dibicarakan secara khusus. Kita hanya menunggu perkembangan. Justru dari tempat ini Rewang sempat mendengar di radio, pembicaraan antara markas Kostrad dengan markas

, yang isinya antara lain informasi dari Kostrad yang menyatakan bahwa keadaan “belum terang”. Salah seorang yang bicara adalah Kol. Wahono. Dalam pembicaraan itu dikatakan bahwa Panglima Kostrad telah memutuskan sikap akan melakukan tindakan untuk mengambil alih pimpinan AD. Pembicaraan ini berlangsung sekitar pukul 09.00 WIB., pada tanggal 1 Oktober 1965. Padahal waktu itu perkembangan situasi mengenai apa yang dilakukan oleh G30S masih gelap. Namun mereka sudah menyimpulkan bahwa pimpinan AD sudah tidak ada. Sedangkan kawan-kawan yang berkumpul di Kayu Awet belum tahu perkembangan situasi waktu itu.

Sepanjang tanggal 1 Oktober 1965, “Saya hanya diam di tempat bersama Bung Disman. Sedangkan tanggal 2 Oktober disuruh menengok kantor CC di Kramat Raya, di bilangan Senen. Tapi situasi di kantor maupun di sekitar Jakarta sudah tidak menguntungkan.” Para aktivis yang ada di kantor pun merasakan hal yang sama. Mereka merasa tidak tenang dan jiwanya terancam. Dengan demikian situasi kantor bersifat defensif, hanya menunggu serta berusaha menyelamatkan apa yang sekiranya dapat diselamatkan. Apalagi tidak ada pimpinan partai hadir di situ. Karena Bung Disman sendiri sudah tidak pergi ke kantor.

Baca Juga:  Menolak Jadi Orang Bodoh

Kemudian tanggal 4 Oktober ada laporan bahwa kantor CC sudah dibakar oleh massa.

Setelah tahu situasi begitu, dan muncul gerakan anti-komunis, kita berusaha untuk menyelamatkan organisasi. Menyelamatkan kader-kader partai yang masih punya fungsi. Artinya, harus mengatur tempat-tempat yang bisa dijadikan pos-pos. “Saya sudah tidak pulang ke rumah lagi. Sedangkan situasi di Jakarta pada umumnya sudah didominasi oleh gerakan anti-komunis,” tutur Rewang. Hal ini terjadi terutama diawali ketika dilakukan pembongkaran jenasah para jenderal korban G30S. Di sinilah kampanye anti-komunis semakin meningkat.

Mengenai dugaan keterlibatan pimpinan PKI, itu baru diketahuinya setelah terbukti bahwa D.N. Aidit berada di Halim, dan kemudian ke Jawa Tengah. Dari sini mulai diketahui pula peristiwa yang mengindikasikan bahwa pimpinan partai ikut terlibat dalam G30S. Misalnya, kegiatannya yang berhubungan dengan kawan-kawan partai yang berada di Penas, yang waktu itu digunakan sebagai Senko G30S. Tindakan ini jelas bertentangan dengan keputusan dalam sidang-sidang Politbiro.

Padahal yang diputuskan dalam sidang Politbiro maupun briefing dengan anggota CC yang berada di Jakarta, “Sifatnya hanyalah dukungan politik. Tidak lebih dari itu. Jadi bukan dukungan secara fisik,” ungkap Rewang. Dengan begitu, secara organisasi, PKI tidak terlibat dalam G30S. Ini bisa dibuktikan juga ketika anggota-anggota atau kader-kader PKI ditangkapi, mereka tidak melakukan perlawanan sama sekali. Karena memang tidak ada persiapan dan rencana untuk melawan.

Pada situasi genting seperti itu, justru sejumlah pimpinan tidak ada di Jakarta. D.N. Aidit dan M.H. Lukman misalnya, berada di Solo dan Yogyakarta. Nyoto tengah mengikuti rombongan Waperdam Subandrio di Medan, dan baru tiba di Jakarta sehari setelah G30S meletus.

***

DASAR KONSEPSI PANCA CINTA
Penulis: Andreas Joko Waskito
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close