Opini

SEKTE KIAMAT

Oleh: Wima Brahmantya, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar

Gempa lagi! Bencana alam di mana-mana! Allah sedang murka!

“Kiamat sudah dekat!! Astaghfirullah!!”

Saya menyebut mereka kelompok “Sekte Kiamat”.

Ih, serem amat julukannya! Kenapa sih?

Ya karena saya perhatikan berbagai fenomena yang ada di dunia ini selalu mereka hubung-hubungkan dengan Hari Kiamat. Ada gunung meletus, kiamat. Ada gempa, Kiamat. Ada tsunami, Kiamat. Ada teknologi kedokteran terbaru, Kiamat. Ada bayi lahir abnormal, Kiamat. Ada orang pindah agama, Kiamat. Ada wanita pamer aurat, Kiamat. Bahkan ada cowok pake jilbab pun Kiamat juga!

Seolah-olah mereka begitu terobsesi dengan Kiamat. Mayoritas dari mereka adalah orang-orang yang sangat ‘relijius’, dan gemar sekali mengucapkan “mantera-mantera agama”. Sebenarnya fenomena “Sekte Kiamat” ini tidak hanya terjadi di kalangan umat “Islam” aja, tapi juga terjadi di kalangan umat-umat lainnya. Di Amrik, ada banyak sekte Kristen berorientasi Kiamat semacam itu. Tapi untuk kali ini saya akan fokus saja membahas fenomena “Sekte Kiamat” dari kalangan saya sendiri, yaitu umat Islam.

Sebelum melangkah lebih jauh membahas “Sekte Kiamat” dari perspektif Islam (yang saya pahami), sekedar mengingatkan saja ada baiknya untuk lebih banyak membaca lagi tentang ilmu alam atau sains. Bencana alam itu ya fenomena alam, maka sebaiknya kita membadahnya terlebih dahulu dari perspektif ilmu alam. Jangan ujug-ujug langsung ke “murka Allah” sambil ngeramal bahwa “Kiamat sudah dekat”.

Letusan gunung berapi, misalnya, itu adalah fenomena alam biasa yang sudah berlangsung miliaran tahun lalu sejak keberadaan Bumi ini di Alam Semesta. Apalagi Nusantara yang berada di zona “Cincin Api Pasifik”, letusan gunung berapi dan gempa itu seolah-olah sudah menjadi ‘makanan sehari-hari’. Dari dulu leluhur kita juga sudah terbiasa dengan itu. Tapi entah kenapa saat ini setiap kali ada fenomena alam semacam itu selalu saja muncul status-status yang mengaitkan hal ini dengan “murka Allah” dan “tanda-tanda Hari Kiamat”. Tiap kali. Dari tahun ke tahun. Tapi Kiamatnya ga datang-datang juga. Tapi ga nyadar-nyadar juga, dan ga malu-malu juga setiap saat nyetatus soal Kiamat yang ga jadi-jadi itu.

Baca Juga:  “Merespon Komentar Nyasar Gede Sandra”

Oke, sekarang kita melangkah menuju pembahasan fenomena “Sekte Kiamat” di kalangan umat Islam. Kebanyakan dari mereka berani meramal datangnya “Hari Kiamat” setelah membaca hadits-hadits (cerita turun-temurun) di mana (konon katanya) Nabi Muhammad memberi tanda-tanda kedatangan Hari Kiamat. Salah satu di antaranya Hari Kiamat akan datang pada hari Jumat, konon begitu katanya.

Sementara saya telah melakukan riset terhadap Alquran terkait isu soal Kiamat ini. Dan hasilnya cukup mengejutkan, bahwa Hari Kiamat itu perkara ghaib dan tidak ada satu pun makhluk atau manusia di dunia ini yang bisa mengetahui kapan datangnya Hari Kiamat.

 

QS 31 Luqman

  1. Sesungguhnya HANYA DI SISI ALLAH sajalah PENGETAHUAN tentang HARI KIAMAT ….”

Not even Prophet Muhammad!

(eaaaa … keminggris!)

Dalam satu bagian di Alquran diceritakan tentang bagaimana orang-orang bertanya kepada Nabi Muhammad tentang kapan datangnya Hari Kiamat, dan beginilah ayat yang kemudian turun untuk membantu bagaimana Rasulullah harus menjawab :

 

QS 7 Al A’raf (Tempat Tertinggi)

  1. Mereka menanyakan kepadamu tentang Hari Kiamat kapan terjadinya? Katakanlah : “SESUNGGUHNYA PENGETAHUAN TENTANG KIAMAT ITU ADA DI SISI TUHANKU, TIDAK SEORANG PUN YANG DAPAT MENJELASKAN WAKTU KEDATANGANNYA SELAIN DIA”.
  2. Katakanlah : “Aku tidak kuasa mendatangkan kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula kuasa menolak keburukan kecuali Allah menghendaki. Dan ANDAIKATA AKU MENGETAHUI YANG GHAIB, tentulah aku berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya ………”

 

Sejarah pun mencatat betapa seorang Nabi Muhammad juga bisa “tertipu” (apalagi Presiden dan Capres). Salah satu catatan sejarah menceritakan bahwak Rasulullah saw mendengar kabar bahwa kafilah dagang Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan dari Mekkah menuju Syam akan melintas dekat Madinah. Rasulullah saw pun memimpin operasi penyergapan kafilah tersebut. Namun operasi tersebut meleset, karena kafilah tersebut sudah melewati tempat tersebut beberapa hari sebelumnya. Akhirnya Nabi Muhammad memimpin pasukan tersebut kembali ke Madinah tanpa hasil apa-apa.

Baca Juga:  Resimen Mahasiswa (Menwa) Penghancur Demokrasi Kampus Dan Gerakan Demokratik Rakyat

Ini bukti catatan sejarah bahwa Nabi Muhammad tidak tahu hal-hal ghaib dan tidak bisa meramal masa depan. Kalau beliau bisa membaca masa depan pasti tidak akan tertipu. Kalau meramal pergerakan musuh saja beliau bisa meleset, mana mungkinlah beliau bisa meramal datangnya Hari Kiamat?

Maka dari itu ga usah berlebihan dalam rempong urusan Hari Kiamatlah karena sudah jelas itu bukan domain kita. Menyikapi fenomena bencana alam yang sering terjadi akhir-akhir ini, banyak-banyaklah belajar tentang ilmu alam supaya tahu tanda-tanda alam. Sehingga ketika bencana alam terjadi kerusakan dan korban jiwa bisa diminimalisir.

Ingat kepada Allah ketika terjadi bencana alam itu harus, bahkan setiap detik pun kita harus mengingat-Nya, tapi mempelajari bagaimana alam semesta bekerja itu juga merupakan cara terbaik untuk memahami tanda-tanda kebesaran-Nya (QS 3:190-191). Kalau anda malas belajar ilmu alam, itu artinya anda juga malas mengenal-Nya lebih dekat. Maka jadinya anda terjebak menjadi “peramal latah” di arena sosmed.

Kembali ke bahasan “Sekte Kiamat”, sering saya jumpai ekspresi mereka memancarkan perasaan takut, misalnya begini (saya copas dari salah satu status kawan Facebook) :

“Bencana lagi! Ya Allah …. Kiamat sudah dekat!! Astaghfirullah!!”

Kelihatan kan ekspresi ketakutannya?

Padahal ciri-ciri orang yang benar-benar beriman itu, apa pun agamanya, tidak ada rasa khawatir dan tidak bersedih hati loh (QS 2:62 dan QS 5:69).

Lha wong kita ini sepenuhnya milik-Nya. Skenario perjalanan alam semesta ini juga Dia yang buat. Jadi terserah “Dia-lah” toh mau dibawa kemana hubungan kita … eh nasib kita.

Lagian kalo bener besok Hari Kiamat, toh kita mati juga bareng-bareng. Ya gak?

“Tapi masak sih Ki Lurah ga takut sama sekali kalau beneran Hari Kiamat datang?”

Ya justru karena merasa iman saya belum hebat-hebat amat, ya takut lah..

***

Wima Brahmantya ketua dewam kesenian kabupaten blitar
Penulis: Wima Brahmantya ~ seniman dan budayawan, Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.
Tags

Leave a Reply

Close