Opini

Rumah untuk Pulang

Rumah untuk Pulang
Penulis: Rinto Andriono, Former Director at Institute for Development and Economic Analysis (IDEA)

O, demi tuhan, atau demi setan,

sumpah aku ingin rumah untuk pulang.

“Rindu menciptakan kampung halaman tanpa alasan.”

Burung pulang ke sarang, ketam diam di liang,

dan di lautan ikan-ikan berenang

Di atas adalah lirik lagu dari Silampukau, grup musik indie asal Surabaya, yang berjudul “Lagu Rantau (Sambat Omah)”. Pesan dalam lirik di atas persis menggambarkan bagaimana imaji kita tentang rumah. Rumah adalah tempat kita menitipkan rindu. Tempat kita menyampirkan kata ‘pulang’ padanya.

Pulang, sebuah kata yang membawa pesan berlawanan dari lelah, resah, kerja atau beban. Di sisi lain, pulang, selaras dengan imaji kita yang sangat manusiawi, karena mengandungi makna kangen, hangat, tawa atau semangat. Karenanya, sumpah demi Tuhan, atau demi setan, semua butuh pulang.

Baca Juga:  DASAR KONSEPSI PANCA CINTA

Berbekal imaji diatas, hiduplah industri perumahan. Mereka menjual mimpi tentang pulang. Kalau mimpinya sederhana, maka harganya murah. Jika mimpinya mewah maka harganya pun mahal. Persetan dengan mimpimu namun bukanlah alasan untuk membiarkan industri perumahan mendikte mimpi itu. Toh, burung pulang ke sarang, ketam diam di liang dan di lautan ikan-ikan berenang. Bebas membangun mimpi tentang pulang.

Bahkan pulang pun bisa mengandungi makna yang tidak selalu diasosiasikan dengan rumah. Karena, bagi sementara orang, itu juga bisa bermakna ibu. Atau bahkan, bagi yang menyadari bahwa hidup ini cuma transit, menganggap pulang adalah mati. Dan bagi yang begitu mencintai anaknya, pulang adalah anaknya, no matter where they are.

Baca Juga:  MLA, Tonggak Menuju Transparansi Paripurna

Namun, siapa pun Anda, sejauh Anda masih bisa mengurai makna pulang, maka beruntunglah Anda. Beberapa orang tidak bisa mendefinisikan kata pulang! Mereka akan terbata-bata atau berurai air mata bila diminta mengartikan pulang. Siapa mereka?

Mungkin mereka adalah displaced peoples, yang karena keterpaksaan akibat perang atau kelaparan, harus mengungsi meninggalkan semuanya. Atau mereka, para eksil, yang karena alasan politik, tidak bisa pulang, sebagaimana dikumpulkan kisah-kisahnya oleh Pak Martin Aleida. Dan barangkali juga sebagian kita, yang karena beban masa lalu maka tidak bisa pulang.

Karena itu, mari kita menziarahi bathin kita. Masih mudahkah kita menemukan makna pulang? Bila iya, bersyukurlah. Karena, barangkali kita sudah memiliki rumah, namun tidak bisa merasakan pulang. Temukan pulang, bagaimana pun caranya. Bangunlah kasih sayang sehingga kita bisa merasa pulang.

Walaupun pulang itu kau maknai sebagai hidup setelah kematian. Karena “Rindu menciptakan kampung halaman tanpa alasan.”

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close