Pendidikan

RONDONUWU MUDA ITU SUDAH MEMBAYAR SETIANYA PADA REPUBLIK

Oleh: Beny Rusmawan

Rawa Buaya sore itu panas terik. Matahari tak bersahabat. Suasana rimbun kebun bambu sepi, hanya terdengar suara gesekan dahan bambu yang saling rapat terkena angin.

Tak jauh di jalan raya sepasukan tentara KNIL Belanda sedikit demi sedikit mendekati kebun bambu tadi.

Disaat bersamaan di balik rimbunan pohon bambu beberapa pasang mata mengawasi dengan lekat pasukan knil Belanda yang makin mendekat, itu anak anak KRIS yang di tugas kan komando pertahanan timur Jakarta untuk menghadang laju musuh di wilayah Bekasi.

Saat kaki pasukan knil Belanda baru masuk satu langkah.

“Tembaaak!

Suara komandan KRIS, Dicky Pontoan memecah sore panas itu. Baku tembak tak terhidar. Beberapa anggota Knil Belanda yang di depan tewas.  Yang lain merebahkan diri seraya mencari perlindungan.

Setengah jam awal, anak anak KRIS bisa mengambil inisitif serangan, lalu deru kendaraan lapis baja terdengar.

Dicky Pontoan memerintahkan anak anak KRIS mundur, seraya tetap menembak. Saat Dicky berlari dua langkah..

Baca Juga:  Resensi Buku: SYAIR SEMOGRAFI

” Bernard! Mundur! Lekas! ”

Bernard Rondonuwu, pemuda yang baru berusia 16 tahun ini sempat menoleh ke arah sang komandan.

Namun saat ia berdiri, kaki kanan nya tersambar peluru, ia jatuh dan masih berusaha menembakan senjatanya.

Dicky Pontoan berusaha menarik tubuh anak muda tanggung ini namun tak lama rentetan peluru mengenai tangan Dicky.

Komadan KRIS ini terjatuh seraya masih melihat ke anak buahnya.

Namun yang dilihatnya Bernard juga terkena sambaran peluru rentetan tadi tepat di pelipis. Bernard Rondunuwu gugur di tempat.

Dicky meninggalkan jenasah anak buahnya itu dan memerintahkan yang lain mundur.

Walau dengan susah payah, anak anak KRIS tadi berhasil keluar dari kepungan Belanda di Rawa Buaya ke arah Kranji.

5 orang anggota KRIS gugur hari itu sedang beberapa orang terluka termasuk sang komandan.

Itu secuil kisah bakti anak anak Sulawesi pada Pertiwi.

Baca Juga:  Blitar Dibagi Empat Zonasi PPDB

Era setelah Proklamasi kemerdekaan, suasana revolusi terasa di mana mana. Semua bergolak dan ikut arus ubah zaman yang sangat cepat.

Tapi kondisi pasca proklamasi itu bagi kaum Minahasa terutama yang tinggal di Jawa malah membuat serba salah. Stigma ” prajurit setia sang Ratu ” sudah sangat kental dirasakan para pemuda Minahasa yang tinggal di Jawa itu.

Pada akhirnya mereka harus mengambil sikap. Di pihak Republik yang baru seumur jagung atau diam mengambil jalan tengah.

Sampai akhirnya sebuah perkumpulan orang orang Sulawesi membentuk suatu badan perjuangan untuk bisa menunjukan di mana mereka berpihak, perkumpulan itu di namai KRIS atau Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi.

Salah satu ikrar sumpah anggota KRIS adalah membuktikan cinta dan setia mereka pada Indonesia walau dengan nyawa sekalipun, agar orang tahu tak semua warga Minahasa itu pro Belanda. [Sumber buku KRIS 45, Berjuang Membela Negara]

Tags

Leave a Reply

Close