Gaya HidupOpiniPendidikan

Renungan dari Kandang Sapi

Oleh: Wima Brahmantya, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar

Kemarin hampir seharian penuh saya dan dua sahabat saya, menghabiskan waktu di peternakan sapi yang terletak di wilayah Kabupaten Blitar. Di situlah kami mendapatkan ilmu baru tentang tata cara beternak sapi, mulai dari bagaimana mengawinkan sapi, membersihkan kandang sapi, memberi makan sapi, mengobati sapi yang sedang sakit, memerah susu sapi, mengawetkan susu sapi dalam pendingin, memasarkan susu sapi itu kepada konsumen, hingga cara-cara bagaimana memikat hati seekor sapi betina (yang ini khusus buat sahabat saya tadi).

“Sapi adalah hewan yang mengagumkan … Gak salah kalo Allah sampe menurunkan surah Al-An’am (Hewan Ternak), supaya kita bisa merenungkan bagaimana Allah telah menciptakan hewan yang bermanfaat besar buat kehidupan manusia,” pikir saya sambil melototin seekor sapi yang sekilas wajahnya mirip ibu guru olahragaku waktu SMP dulu.

Seekor sapi bisa menghasilkan lebih dari 10 liter susu dalam sehari yang sangat bermanfaat untuk kesehatan dan pertumbuhan. Dagingnya pun sangat enak dan bergizi untuk dikonsumsi. Eek .. eh .. kotorannya pun (meskipun baunya keren abiss!!!) ternyata masih bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Mashaallah!

Nah, kemudian kami diajak menuju sebuah kandang di pojokan. Di situ ada beberapa ekor sapi tua. Kata si pengelola peternakan, sapi-sapi itu sudah tidak produktif lagi dan akan segera dijual.

” Dijual .. untuk apa pak?

” Ya masak dijadikan piaraan .. ya dipotong lah mas! “

 Glek!

Rasanya sedih sekali ngeliat tampang sapi-sapi tua yang bakalan segera jadi ‘ahli kubur’ itu. Kepengen nangis rasanya, tapi saya empet-empet (malu donk sama orang-orang .. apa kata dunia kalo saya yang badannya gede ini tiba-tiba ‘mewek’ di depan sapi).

Saya ngebayangin gimana kalo saya yang jadi seorang pemilik peternakan sapi. Itu berarti selama bertahun-tahun saya dan keluarga saya hidup dari hasil perahan susu sapi yang saya pelihara itu. Saya dan keluarga bisa makan karena perahan susu sapi. Anak-anak saya bisa sekolah karena perahan susu sapi. Saya bisa keliling Indonesia bahkan dunia karena perahan susu sapi. Nah, sekarang ketika sapi itu udah gak banyak ngeluarin susu, maka saya potong sapi itu .. biar gak rugi!

Baca Juga:  Mengenal Koteka “Si Lambang Kesetiaan”

Tapi saya mencoba menghibur diri. Kan di Alquran dikatakan bahwa segala isi bumi : hasil alam, flora, dan fauna itu kan emang diperuntukkan bagi kepentingan umat manusia, asalkan diolah dengan cara-cara yang bermartabat. Jadi daging sapi itu bisa bermanfaat untuk kelangsungan hidup manusia, apalagi kalau diperuntukkan bagi fakir miskin dan anak-anak terlantar yang kekurangan pangan.

Hmm .. iya juga sih ..

Yahh .. saya doakan ‘sapi-sapi nenek’ itu ikhlas memberikan jiwanya demi kelangsungan rantai makanan di muka bumi ini, dan mereka semua bakalan jadi penghuni surga khusus hewan … (jangan dicampur sama manusia lagi, ntar diakhirat mereka bakalan dipotong lagi sama manusa, kan gak lucu!)

Saya merenung. Tiba-tiba saya teringat kedua orangtua saya. Keduanya sudah tidak muda lagi. Ayah saya yang dulu sangat energik dan jago berolahraga, kini sudah beberapa kali ngos-ngosan dan mudah jatuh sakit. Ibu saya yang cantik kini sudah mulai menggunakan tongkat penyangga, karena pengeroposan tulang di kakinya. Bukan berarti saya ngebandingin orangtua saya sama sapi tua, tapi sebenarnya banyak sekali orangtua di dunia ini yang nasibnya lebih malang dibandingkan sapi perah.

Coba kita renungkan ..

Sedari kecil kita sudah ‘memerah susu’ ibu kita, dalam arti sesungguhnya. Karena ASI itulah kita bisa tumbuh jadi segede ini.

Sedari kecil kita pastinya ‘memerah waktu dan tenaga’ kedua orangtua kita, karena setiap saat mereka berusaha untuk tidak lalai sedikit pun untuk menjaga kita, meskipun mereka sangat capek dan ngantuk.

Sedari kecil kita pastinya ‘memerah ilmu pengetahuan’ dari kedua orangtua kita, karena mereka menginginkan kita tumbuh menjadi orang yang pandai dan bermanfaat bagi sesama.

Sedari kecil kita pastinya ‘memerah uang dan harta benda’ dari kedua orangtua kita yang ikhlas bekerja banting tulang dan mencari nafkah demi menghidupi anak-anaknya.

Baca Juga:  Menulislah, dan peluklah kebenaran sejati.....

Sedari kecil kita seringkali ‘memerah perasaan dan kebahagiaan’ kedua orangtua kita, ketika suatu kali kita berbuat sesuatu yang tidak baik sehingga mempermalukan atau melukai perasaan kedua orangtua kita.

Ternyata memang sebagian besar orangtua di bumi ini bersedia menjadi ‘sapi perah’ bagi anak-anaknya dengan penuh keikhlasan, supaya anak-anak tersebut bisa tumbuh menjadi manusia yang tangguh, cerdas, dan bermanfaat.

Maka ketika kita tumbuh dewasa, dan kedua orangtua kita telah benar-benar menua …….. akan ‘disapi potongkah’ kedua orangtua kita?

Saya sudah seringkali menemui kasus, terutama di kota besar, di mana anak-anak mengeluhkan orangtuanya yang dianggap ‘merepotkan’ dan ‘menyita waktu dan tenaga’ mereka. Jadi orangtua dianggap seolah-olah menjadi beban kehidupan. Maka sebagian dari mereka harus dititipkan di panti jompo, atau sekedar dibiarkan tanpa perhatian yang intensif. Ga punya banyak waktu untuk ngurusin orangtua, kata mereka.

Ya, mungkin sebagian besar dari orangtua kita yang benar-benar sudah menjadi tua itu gak akan protes apa-apa. Paling-paling mereka cuma diam, terduduk di kursinya, sambil berusaha menyibukkan dirinya sendiri : menghisap tembakau, nonton sinetron di TV, menyulam, atau berdzikir sambil pegang tasbih.

Tapi saya yakin jauh di lubuk hatinya, mereka merasa sangat kesepian.

Rasanya saya enggak bisa mentolerir mereka-mereka yang telah ‘mensapi potongkan’ orangtua mereka, hanya gara-gara alasan sibuk, ga ada waktu, merepotkan, apalagi karena alasan ga ada cukup uang!

Ya Allah … berikanlah kesehatan dan panjang umur bagi kedua orangtuaku, supaya aku bisa lebih lama lagi berbuat kebaikan kepada mereka, meskipun tidak mungkin bagi aku untuk membalas jasa-jasa mereka …..

QS 31 Luqman

14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

QS 17 Al Isra’ (Perjalanan Malam)

23. Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

24. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

“Surga berada di bawah telapak kaki ibu” ~ (Nabi Muhammad)

***

Wima Brahmantya ketua dewam kesenian kabupaten blitar
Penulis: Wima Brahmantya ~ Seniman dan Budayawan, – Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.
Tags

Leave a Reply