Budaya

Puisi Dari Pedalaman Papua

PULANG, RUMAH DAN BAJU NASIB YANG REMANG MENUNGGU DI UJUNG JALAN

perantau yang gagal berkali-kali membetulkan baju nasibnya

kini duduk  di emperan waktu

jalanan ramai

tapi ia merasa sendiri

di bawah langit gelap hujan, ia

mengenakan baju nasibnya yang kebesaran

setiap kali mengenakan baju nasibnya ia teringat sepenggal puisi Chairil: nasib adalah kesunyian masing- masing

kesunyian yang ia kenakan ialah ukuran baju orang lain

hujan turun

pepohonan basah

namun ia merasa kemarau

sore mengajaknya menemui

rumahnya yang duduk

di selembar kampung kecil

“apakah aku perlu pulang?”

pulang mengenakan ukuran baju

pemberian ibu

hujan telah reda

jalanan legang

dan ia belum menemukan pulang

dan rumah

malam datang

membawakan tongkat bintang yang membimbingnya berjalan

Baca Juga:  TERNYATA SEMBOYAN UNI EROPA BERASAL DARI NUSANTARA!!

seperti tiga majus dari timur

ia pulang rumah melalui jalan lain-jalan doa ibu

yang memeluk

hingga tiba

“ibu di mana baju masa kecilku

kau baringkan?”

baju masa kecil: baju nasib

yang remang menunggu dikenakan

(Ubrub-Arso-2019)

***

YAMLAB

hari murung

di merdu paruh burung-burung

hujan awet muda, datang menemui bumi

seperti santa Maria pada Elisabet

aku melangkah

memasuki penantianmu yang kini berpondok

jalan yang menanjak

girang menemani daun langkahku

sebelum sampai padamu: kampung yang dipeluk tangan jernih sungai

pertemuan ialah buah rahim penantian

ketika aku masih jauh

di jalan hujan

kudengar engkau kuyup menanti

ketika aku selalu tergelincir di jalan rindu

kusaksikan engkau basah berseru:

“diberkatilah engkau buah rahim penantianku”

Baca Juga:  Festival Cycloop di Papua Akan Digelar November

(Yamlab-2018)

***

2018-2019

aku menjelma senja yang berwarna sedih

saat 2018 terbenam

di kamar nasib yang masih berbenah

aku jadi pagi di halaman

2019 yang berembun

rumput hijau di jalan kemarau

seekor burung berkicau di ranting kering

menunggu kabar nasib yang berjalan sendiri di jalan tahun

sedang beberapa temanku sibuk membuka botol alkohol

waktu yang deras pergi

mereka jinakan dengan minuman keras

di kejauhan aku dengar anak-anak kota menulis bunyi di langit jauh

yang kubaca sebagai sepi

waktu yang selalu datang

kita yang menunggu

bahagia seperti anak-anak kampung

merdu berjalan, asyik bermain dan khusyuk bernyanyi

pagi ini, mata hari 2019 menatap mendung

nasibku seperti sakit malaria

minta sembuh pada waktu

(Ubrub-2019)

***

Gody Usnaat
Penulis: Gody Usnaat, Jurnalis MJNews
Tags

Leave a Reply

Close