Nasional

Puasa, Harga Kok Mesti Naik?

Oleh: Wima Brahmantya

Nabi Muhammad suatu hari pernah bersabda, “ Telah datang kepada kalian RAMADHAN BULAN PENUH BERKAH, Allah telah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya.”

Seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya ….. bahwa Ramadan seharusnya tidak hanya menjadi berkah bagi umat Islam, namun juga menjadi berkah bagi semua makhluk yang ada di Bumi. Ramadan tidak hanya dimaksudkan sebagai urusan ibadah pribadi seorang Muslim, namun juga harus berkontribusi dalam mensejahterakan masyarakat. Adapun tolok ukur “sejahtera” di sini tidak hanya diukur dari materi, tapi melibatkan seluruh dimensi kebaikan.

Kali ini saya mau membahas satu aspek yang seringkali luput dari perhatian umat Islam untuk dikaji dalam forum keagamaan. Tentang sebuah tradisi yang selalu ada setiap tiba bulan Ramadan.

Kenaikan harga sembako!

Teori ekonomi mengatakan bahwa : “jika permintaan pasar tinggi sementara suplai tidak mencukupi, maka harga sebagai indikator kelangkaan akan naik.” Jika mengacu pada teori tersebut maka bulan Ramadan adalah pembuktian akan permintaan pasar yang tinggi. Memang ada banyak variabel yang ikut bermain di sini, misalkan saja faktor ‘aji mumpung’ para pedagang yang menaikkan harga, para penimbun sembako, atau memang kekurangan suplai itu sendiri akibat menurunnya produktivitas di sektor pangan atau akibat semakin bertambahnya jumlah penduduk. Tapi mari kita singkirkan faktor-faktor tersebut, dan fokusk pada faktor pertama yaitu : permintaan pasar yang tinggi.

Ketika substansi dari ibadah puasa adalah sebuah pengendalian hawa nafsu, maka sangat mengherankan apabila yang kita temui adalah masyarakat semakin konsumtif. Coba anda perhatikan rata-rata satu keluarga lebih banyak menyajikan menu pada saat Ramadan, dibandingkan dengan bulan-bulan biasa. Perhatikan pula pemandangan yang terjadi di supermarket-supermarket di mana kita bisa saksikan seseorang yang memborong kebutuhan pokok secara berlebihan, justru di bulan Ramadan. Tidak hanya sembako, kebutuhan baju dan aneka aksesoris lainnya juga meningkat drastis di bulan ini.

Baca Juga:  KPU Akan Tarik dan Kirim Ulang Surat Suara Nyasar ke Hong Kong

Jadi seolah-olah ada semacam ‘kelatahan berbelanja’ atau malah ‘panic-buying’ yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Takut kehabisan stok pangan, takut tidak bisa tampil dengan baju baru, atau (tentu saja) takut ‘mati kelaparan’ sehingga pada saat sahur makan-minum berlebihan. Yang secara teori sebenarnya pada saat Ramadan makan-minum berkurang, ternyata hanya sekedar ‘pindah jam makan’ saja, dengan takaran lebih!

Belum lagi dengan semaraknya berbagai kegiatan Ramadan di tiap-tiap kampung atau instansi, di mana kegiatan yang semestinya bertujuan ibadah itu serasa tidak lengkap tanpa hiburan-hiburan yang meriah. Sebagaimana kita saksikan di beberapa acara Ramadan di TV yang, kalau saya perhatikan, lebih kental nuansa ‘hura-huranya’ dibandingkan misi pendidikan agamanya. Sehingga untuk menopang semua itu, haruslah dibeli berbagai kebutuhan sembako dan propertinya.

Apakah semua itu salah? Tentu tidak. Memang sudah sewajarnya Ramadan disambut sambut dengan suka cita. Akan tetapi jangan sampai melupakan tujuan spiritualnya, apalagi sampai membuat sengsara orang lain.

Membuat sengsara? Bagaimana bisa?!

Sekarang saya tanya kepada anda : siapa sih pihak yang paling ‘sengsara’ dengan kenaikan harga sembako di saat Ramadan?

Ya, tentu saja kaum fakir miskin! Jika mereka selama ini sudah ‘berpuasa’ sepanjang tahun, maka di bulan Ramadan yang (katanya) penuh berkah ini ternyata mereka dipaksa untuk berpuasa lebih keras lagi karena tidak sanggup lagi menjangkau harga sembako yang melangit. Belum lagi ketika mereka dipaksa untuk antri berdesak-desakan demi mendapatkan jatah sembako yang semakin langka, dan seringkali terjadi korban akibat saling terinjak.

Baca Juga:  Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD Heran Tagar Ganti Presiden Disebut Makar

Lho, bukankah setiap bulan Ramadan mereka juga diberi zakat fitrah? Di mana letak sengsaranya?

Ya, kalau semua orang paham bahwa Ramadan seharusnya memacu untuk bersedekah setiap hari sih memang lebih baik. Tapi realitanya cuma sedikit yang memiliki kesadaran semacam itu, dan lebih menggantungkan pada ‘penggugurkan kewajiban’ pada zakat fitrah menjelang Hari Raya saja.

Jadi para fakir miskin hanya ‘bersenang-senang’ di akhir bulan saja, sementara di awal hingga pertengahan mereka harus menderita karena menanggung perilaku konsumtif kita setiap bulan Ramadan!

Itulah mengapa penting untuk memikirkan kembali : sudahkan bulan Ramadan ini menjadi berkah bagi semesta alam? Sudahkan bulan Ramadan ini menciptakan sistem yang mensejahterakan masyarakat, tidak hanya berkutat-kutat di ranah ibadah pribadi yang hanya berorientasi ‘mabuk pahala’?

Maka solusinya ada di tangan anda sendiri, bagaimana menanamkan kebiasaan berpuasa yang lebih sehat, lebih berperikemanusiaan, dan tentu saja lebih Qur’ani dibandingkan dengan apa yang sudah terjadi selama ini. Mari ajarkan kepada anak-anak kita, sahabat-sahabat kita, tetangga-tetangga kita, dan semua saudara kita seiman bagaimana menjalani puasa yang benar dengan pengendalian hawa nafsu yang sesungguhnya, bukan hanya sekedar ‘hura-hura agama’ apalagi ajang pelampiasan ‘syahwat belanja’ 

Tidak mudah?

Tentu. Merubah kebiasaan yang sudah turun-temurun dan memasyarakat memang tidak gampang. Tapi, kapan lagi kita akan menjadi bagian dari umat Islam yang tauladan, yang memberikan rahmat bagi semesta alam, jika tidak dimulai dari sekarang?

QS 25 Al Furqan (Pembeda)

67. Dan orang-orang yang apabila MEMBELANJAKAN (harta), mereka TIDAK BERLEBIH-LEBIHAN, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

***

Wima Brahmantya ketua dewam kesenian kabupaten blitar
Penulis: Wima Brahmantya ~ Seniman dan Budayawan, – Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.

Tags

Leave a Reply

Close