BudayaOpini

Pramoedya & Nobel, danSastra Eksil Pasca 1965

Oleh: Manuel Kaisiepo

Pramoedya & Nobel

Mengapa Pramoedya Ananta Toer tidak memperoleh Hadiah Nobel bidang sastra ? Padahal pengarang besar ini sudah masuk nominasi sejak tahun 1980-an !

Apakah alasannya bersifat sastra, politik, atau lain lagi ?

Sebagian dari pertanyaan ini coba dijelaskan oleh Henri Chambert-Loir dalam buku “SASTRA dan SEJARAH INDONESIA: Tiga Belas Karangan” (2018).

Ini hanya satu dari beberapa tema menarik yang diulas Chambert-Loir, Indonesianis asal Perancis yang juga peneliti di L’ Ecole Francaise d’ Extreme-Orient.

Henri Chambert-Loir sudah menerjemahkan banyak karya sastra dan tulisan penting tentang sejarah Indonesia ke bahasa Perancis. Dia juga murid dari pakar terkemuka Asia Timur (termasuk Indonesia), Prof. Denys Lombard, yang karya-karyanya juga sudah banyak diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Baca Juga:  Cadar Rahmatan Lil ‘Alamiin

Selain mengulas Pram dan masalah Nobel, Henri Chambert-Loir mengulas tema-tema lainnya yang juga menarik.

Misalnya, posisi Mas Marco Kartodikromo dalam fase awal kebangkitan sastra Indonesia modern, sekaligus kebangkitan nasional Indonesia.

Atau juga ulasan lainnya berjudul “Terkunci di Luar: Sastra Eksil Indonesia Pasca-1965”, yang membahas karya-karya sastra dari yang para pengarang Indonesia yang terpaksa hidup di luar negeri pasca geger politik 1965.

Terkait tema ini, juga ditampilkan tulisan tentang karya-karya Asahan Alham (Asahan Aidit); Daftar Pustaka Sastra Eksil; dan tulisan berjudul “PKI Stroganoff: Novel “Pulang” Leila Chudori.”

Kembali ke Pramoedya dan Nobel, Chambert-Loir memberikan penjelasan tentang bagaimana suatu karya sastra bisa tiba di Panitia Nobel.

Baca Juga:  Resensi Buku: SYAIR SEMOGRAFI

Pertama, karya yang dipertimbangkan adalah yang ditulis dalam bahasa Swedia, Inggris, Prancis, dan Jerman; atau terjemahan dari bahasa lain ke keempat bahasa tersebut.

Jadi, terjemahan sangat penting, sehingga ada lelucon “Hadiah Nobel diberikan kepada terjemahan” !!

Kedua, seorang pengarang sastra baru akan dipertimbangkan kalau karyanya yang diterjemahkan berjumlah banyak, bukan satu-dua.

Dari 4 seri karya Pulau Buru-nya Pram, ternyata baru #BumiManusia yang sudah diterjemahkan ke bahasa Prancis (seri Pulau Buru lainnya sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris dan beberapa bahasa asing lainnya).

Tentu ini penjelasan dari sisi sastra; bagaimana dengan penilaian dari sisi politik –sesuatu yang selalu dilekatkan pada diri Pramoedya ?

( –bacaan santai di akhir pekan pertama Januari 2019, daripada baca berita politik atau hoaks–)

Manuel Kaisiepo, MissJune News
Penulis: Manuel Kaisiepo ~ Pengamat Politik & Redaktur Pelaksana MissJune News Media
Tags

Leave a Reply

Close