NasionalOpiniPendidikan

Politik Identitas, Tribalisme…..?!

Oleh: Manuel Kaisiepo

Politik Identitas, Tribalisme.....?!
(Foto: Manuel Kaisiepo)

Politik IdentitasAmy Chua risau atas bangkitnya instinct ‘tribalism’ di Amerika era Trump, yang mengancam spirit keamerikaan dan juga mengaburkan cita-cita “the American Dream”.

Pada bagian akhir bukunya yang terkenal itu, POLITICAL TRIBES (2018), dia mengutip kerisauan penyair Amerika, Langston Hughes dalam sebuah puisi yang ditulisnya tahun 1934: “….let America be America again…..”!

Di Indonesia, kerisauan yang sama sudah lama dirasakan. Bangkitnya insting ‘tribalisme’ atau ‘politik identitas’ sempat merisaukan, khususnya selama Pilpres 2019 lalu. Fenomena “Cebong versus Kampret”!

Tapi konstetasi politik saat itu yang semula dikhawatirkan akan menimbulkan pembelahan masyarakat secara ideologis dan politik (“political cleavage”), seperti pada Pemilu 1955, ternyata tidak berlanjut.

Bahkan kedua kandidat capres yang bersaing sengit, kini duduk bergandengan mesra, bak pengantin baru.

Cebong dan Kampret sudah berdamai, dan katanya, sudah bermetamorfosis menjadi #CePret !

Tapi tersamar atau nyata, ada sisi lain dari insting tribalisme atau politik identitas yang masih terus berlanjut bahkan menguat: fenomena kebangkitan sentimen etnisitas di beberapa daerah!

Apakah fenomena etnisitas semacam itu mengancam keindonesiaan? Dan mengapa etnisitas itu bangkit lagi, justru di era reformasi yang berbasis demokrasi?

Pertanyaan itulah yang coba dijawab dan diulas teman-teman dari #LIPI lewat penelitian yang baru diterbitkan, POLITIK IDENTITAS: Problematika dan Paradigma Solusi Keetnisan versus Keindonesiaan di Aceh, Riau, Bali, dan Papua (September 2019).

Baca Juga:  KPU: Ada 56 Pengajuan Sengketa Pilkada

Munculnya sentimen etnis atau primordialisme -seperti kata Geertz- adalah fenomena lama di Indonesia sebagai negara multikultural. Sentimen itu tetap hidup dan sering menguat, bahkan pada era Reformasi yang mengandalkan demokrasi.

Tapi memang demokratisasi di Indonesia menyimpan sisi paradoks, seperti pendapat Baladas Ghosal yang dikutip buku ini: “…..the removal of the lid on politics has opened up a Pandora’s box, fomented ethnic and religious conflicts and even envouraged separatism, thereby creating political and economy uncertainties”.

Lalu faktor apa atau latar belakang munculnya kembali politik identitas atau sentimen etnis?

Hadirnya etnisitas untuk sebagian, mengikuti Geertz, adalah sesuatu yang ‘given’, sebagai hasil dari konstruksi sosial yang cukup lama.

Tapi, jangan dilupakan, bangkitnya politik identitas termasuk etnisitas seringkali justru sebagai reaksi atas kebijakan pemerintah yang represif, atau yang dirasakan tidak adil, diskriminatif, menguntungkan kelompok tertentu dan mengabaikan yang lainnya.

Hal ini juga dibahas Amy Chua dalam bukunya yang lain, WORLD ON FIRE: How Exporting Free Market Democracy Breeds Ethnic Hatred and Global Instability (2003).

Baca Juga:  Bupati Lampung Selatan Nonaktif Zainuddin Divonis 12 Tahun

Menurut Amy Chua, konflik etnik di berbagai negara seringkali disebabkan oleh “disproportionate economic and political influence of ‘market dominant minorities’ and the resulting resentment in the less affluent majority”.

Dalam konteks Indonesia, politik identitas yang berkaitan dengan sentimen etnisitas memang perlu terus dikaji sebagai fenomena yang masih eksis. Faktor penyebab, latar belakang atau tujuannya tentu berbeda pada setiap kasus di setiap daerah.

Karena itu hasil penelitian LIPI ini penting, untuk mengetahui latar belakang kebangkitan dan ekspresi sentimen etnis di beberapa daerah. Ada kajian tentang Aceh (oleh Irine Gayatri); Riau (oleh Firman Noor); Bali (oleh Syafuan Rozi); dan Papua (oleh Muridan S. Widjojo).

Memang tidak banyak yang baru dalam kajian ini. Namun apapun kajian ini penting untuk mengingatkan betapa fenomena politik identitas, khususnya kebangkitan sentimen etnik tetap penting untuk diantisipasi dalam kaitannya dengan upaya merawat keindonesiaan.

Sebab seperti ditulis di bagian akhir buku ini, jangan sampai yang akan muncul “sebuah bentuk negara-bangsa yang memiliki jasad (teritorial) namun tanpa ruh (kebangsaan)”.

Atau jangan sampai mengulang kerisauan dalam puisi Langston Hughes di Amerika: “….let America be America again….!”

***

Manuel Kaisiepo, MissJune News
Penulis: Manuel Kaisiepo ~ Pengamat Politik & Redaktur Pelaksana MissJune News Media
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close