OpiniPendidikan

PENGULANGAN SEJARAH: MENCEGAH IMPEACHMENT DENGAN ISU ASING

(Bill Clinton - Donald Trump, 1998-2020)

Oleh: Iman Zanatul Haeri, Guru Sejarah

PENGULANGAM SEJARAH MENCEGAH IMPEACHMENT DENGAN ISU ASING
(Foto: Surat kabar Nytimes tentang serangan AS di Irak, 1998.)

Sejarah berulang. Tidak persis sama. Namun dalam politik, mengulang tindakan politik masa lalu lebih menjamin hasil yang sama dalam mempertahankan kekuasaan daripada merekayasa cara-cara baru.

Serangan pembunuhan langsung sepihak AS kepada Petinggi militer Iran Qassem Soleimani & Abu Mahdi Al-Muhandis (komandan militer Irak) di Irak secara tiba-tiba yang kemudian diakui secara resmi oleh Donald Trump dikala detik-detik “Impeachment” merupakan rangkaian peristiwa yang hampir mirip dilakukan oleh Presiden Amerika 22 Tahun yang lalu.

New York Times menulis:

President Clinton ordered a ”strong sustained series of air strikes” against Iraq today, defending the attack as unavoidable even as incensed Congressional Republicans charged that it was politically timed to stave off the pending resolution to impeach him in the House of Representatives (Newyorktimes, Dec 17, 1998).

Itulah yang terjadi pada 17 Desember 1998. Rasanya tidak ada perbedaan yang ketara dalam dua peristiwa berjarak 22 tahun tersebut.

Terdapat tiga kesamaan pola sejarah. Pertama, Peristiwa sebelumnya: impeachment. Kedua, Keputusan yang diambil: melakukan serangan ke Negara lain dan kebetulan baik tahun 1998 dan 2020 lokasi serangannya adalah Irak. Ketiga, tentu serangan ini membuat kongres harus mempersiapkan keputusan dari dampak serangan tersebut. Dengan kata lain menunda pembahasan Impeachment.

Pengulangan sejarah ini menunjukan satu hal yang menarik dalam pola konsolidasi politik suatu negara. Kita sering menyebutnya sebagai intervensi asing. Di Amerika, isu kecurangan Pilpres yang memenangkan Donald Trump begitu kencang dan mungkin diyakini penuh oleh kelompok Hillary Clinton.

Baca Juga:  BELAJAR DARI UAS

Mereka percaya bahwa Russia adalah pihak yang meng-hack hasil pilpres AS. Satu hal yang menarik. Negara dengan anggaran belanja militer terbesar di dunia dan berhasil menyusup ke seluruh jaringan internet, telepon, pesan pribadi dan sosial media populer seperti google dan facebook menyakinkan publik bahwa pemilihan politik di negara tersebut berhasil diretas oleh negara lain.

Kita tidak menutup seluruh kemungkinan. Serangan-serangan cyber sangat mungkin dilakukan terhadap polisi dunia. Namun hal ini membuat rakyat Amerika mempercayai akan adanya “intervensi asing” yang hendak menyerang negara paling agresif dimuka bumi, Amerika Serikat.

Hal ini pernah dikeluhkan oleh Vladimir Putin bahwa menuduh negara lain melakukan intervensi—dalam hal ini pilpres di AS tanpa bukti— untuk elektabilitas dan serangan pada lawan politik dalam negeri hanya memperburuk hubungan luar negeri antar negara.

Selebihnya, tindakan tersebut tidak menyelesaikan persoalan utama yang terjadi didalam negerinya. Seperti kita tahu, baru-baru ini di AS sedang terjadi perdebatan mengenai masalah jaminan kesehatan dan kebijakan baru imigran.

Dalam perdebatannya dengan perusahaan farmasi, Wakil kongres Muda sosialis Alexander Ocasio-Cortez mempertanyakan mengapa harga obat-obatan yang harus dibayar Warga AS lebih mahal daripada mereka membelinya di Mexico padahal diproduksi oleh perusahaan yang sama? Selain itu kebijakan baru mengenai imigran memperkuat tuduhan kaum konservatif bahwa “intervensi asing” yang dimaksud adalah imigran.

Baca Juga:  KEMALASAN ADALAH KEMUBAZIRAN

Bagi sejarah, pemahaman semacam ini membuat kita ingin segera berkaca pada keadaan benua Amerika sampai akhir abad ke 17. Saat itu Bangsa Eropa-kulit putih adalah imigran yang paling brutal memperlakukan “penduduk pribumi” sebelumnya. Meskipun sebenarnya kita pun perlu mewaspadai istilah “asli” dan “pribumi” justru dipakai kaum ultra kanan konservatif AS untuk merasa paling berhak berada ditanah Indian.

Intervensi asing, seringkali dipakai penguasa lokal untuk menjelaskan ketidakmpuan mereka dalam bernegosiasi dengan kekuatan-kekuatan eksternal. Pada praktiknya, yang disebut “asing” hanya simbol ketidakmampuan memenejerial kekuatan besar dan potensi internal.

Selain itu, seringkali oposisi menggunakannya sebagai celah untuk memperlemah konsolidasi politik negara sambil mempersiapkan kekuatan politik baru dari kelompok-kelompok mereka saja.

Kita tidak pernah tahu, apakah suatu saat nanti petinggi militer kita akan diperlakukan serupa oleh negara lain. Atau memang sudah, namun kita tidak menyadarinya.

Bagaimanapun, Iran adalah negara yang paling lengkap menerima embargo AS. Diperlukan jaminan dalam kancah internasional bahwa pejabat tinggi suatu negara yang diakui PBB tidak akan dibunuh begitu saja oleh karena AS tidak menyukainya.

***

Penulis: Iman Zanatul Haeri

 

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close