Opini

Pemerintahan Bernuansa “Gunnar Myrdal”

Sebuah Optimisme Menyeruak Kuat

Oleh: Simon Saragih

Personally amat senang dan sangat senang dengan pemerintahan ini. Seabrek-abrek persoalan dan perlu waktu untuk membereskannya. Orang kadang hanya tidak sabar, atau pura-pura tidak sabar. Termasuklah itu faktor vested yang menyudutkan pemerintahan atas segala kekurangan yang ada, yang begitu jelas memiliki tali-temali erat ke belakang. Historis perjalanan bangsa tak mungkin dilepaskan dari mata rantai perjalanan bangsa.

Kelembagaan yang tak mapan, ada tapi rapuh. Absurditas sistem sosio ekonomi politik membuat Asia menjadi kawasan bermasalah. Asia bermasalah karena masalah yang mereka miliki, yakni Asia itu sendiri. demikian postulat dari ekonom Swedia peraih Hadiah Nobel Ekonomi 1974 dalam bukunya “Asian Drama”.

Di dalamnya muncul hipotesa soft state, negara lemah karena tak bisa menegakkan hukum, tak bisa bekerja, tak bergerak, inersia.

Maka untuk mengatasi masalah Asia, berbasiskan potret dekade 1970-an, dimana Asia dibelenggu kemiskinan akut, lokasi atau sarang kemiskinan global, harus hadir the strong government.

Lama sekali tuntutan ini hadir atau eksis, soal strong government ini. Namun perlahan Asia bangkit dari mess, absurditas sosio-ekonomi politiknya.

Memang berat bagi Asia untuk bangkit termasuk karena efek kemiskinan, yang berefek lebih lanjut seperti spiral, dimana masalah begitu akut, dan memunculkan persepsi, dari mana harus dimulai?

Meski melekat dengan absurditas, perlahan ada gerakan di Asia.

Mulailah muncul neo economy policy (NEP) di Malaysia, yang membangkitkan Malaysia. Ini merujuk keberpihakan nyata didasari nasionalisme DR Mahathir Mohamad. It worked.

Baca Juga:  “Pemeriksaan Pajak Harus Dapat Mendorong Kepatuhan”

Muncul Thailand dengan ketekutan kerajaan membina pertanian dan demokratisasi terseok-seok pada awalnya, kini mulai mapan sistemnya. It worked.

Filipina dengan Marcos-nya yang koruptor akut, perlahan juga bangkit walau tertarih-tatih.

Indonesia? Tangan besi, tidak merujuk secara pas untuk kategori strong state, telah terbukti tidak berkesinambungan sejak pergantian generasi kepemimpinan pada 1998.

Namun tetap juga, bangsa ini bisa bangkit termasuk dengan bantuan eksternalitas, perekonomian global. Ada juga efek pendidikan Orba, yang mau tak mau harus dipuji berefek bagus untuk pembangunan ekonomi. Tidak sempurna tetapi mulai jalan.

Bagaimana Asia biar jalan lebih lebih laju dan lebih mumpuni? Dan bagaimana Indonesia?

Kepemimpinan kuat secara personal, persepsi jujur, dan merangkul, ini adalah akar utama untuk perjalanan mantap bagi bangsa ke depan.

Tanpa ragu, saya mengatakan this new government able to govern.

Jika melihat tali-temali persoalan dalam kerangka visi sempit-sempit, singkat-singkat, semisal, bagaimana kelompok A akan menggerogoti, bagaimana kelompok B akan menganggu, maka akan miriplah itu melihat benang kusut atau terjebak pada benang kusut.

Trend yang ada, jalan menuju penelisikan masalah, penguraian begitu banyak masalah, secara meyakinkan, walau ada gejolak-gejolak, riak-riak, akan membuahkan hasil dengan sendirinya.

Aku melihat trend ini secara jelas. Tidak akan mulus, ya pasti.

Masalah ada pada kesediaan pimpinan atau pemimpin untuk tidak menyerah dan berkompromi karena ada masalah-masalah itu.

Determinasi merupakan hal penting. Rasanya ada determinasi yang begitu kuat dalam mengarahkan bangsa ke depan.

Baca Juga:  Pertemuan Sarangan, 21 Juli 1948

Determinasi ini didasari moralitas sang pemimpin yang saya kira ada dan kuat.

Toh sejak 2014, personally tak pernah gamang akan hasil pemilu, tentang siapa pemenangnya. Convincing….

Dia tidak memikirkan berapa banyak berlian milik spouse-nya, tidak memikirkan emporium the family. Ini akan jadi simbolik sebagai moralitas, bagi sang pemimpin yang akan menetas ke kiri dan ke kanan.

Diringi kalimat, “Jangan korupsi”, “Jangan mengejar vested pribadi”, ini adalah pesan kuat dan sinyal kuat, atau sign post akan optimisme pada perjalanan bangsa.

Tidak berkutat lagi pada masalah bagaimana mengatasi si anu, si ini, si itu. Just do it.

Melihat para asistennya, yang menteri dari kalangan profesional, setara dengan menteri dari parpol, ada balance dalam hal ini.

Aku tertarik dengan eksistensi Sri Mulyani, satu simbol sukses dan simbol kesediaan mengurai masalah.

Tidak berkutat lagi pada potret soal keterkotakan-kotakan, yang ironisnya dicetak tebal oleh para elite.

The leader come on to it…. Maju, jalan, jernih, deterimine.

Kali ini aku semakin bangga sebagai WNI……

Upaya menepis hipotesa Gunnar Myrdal, dengan determinasi, itu sisi lain dari nuansa the new govenrment.

Tentu eksternasilitas yang amat baik, era Asia dalam tatanan global, termasuk dengan potensi besar ekonominya, ini jadi penguat determinasi.

Primordialisme, komoditasi, yang selama ini menyeret lambat perjalanan bangsa, perlahan akan terurai.

***

Pemerintahan Bernuansa "Gunnar Myrdal"
Penulis: Simon Saragih

 

 

 

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close