Nasional

Paskah: tentang Ingatan, Tindakan, dan Hati yang Baru

Oleh: Yustinus Prastowo

Ketika Yesus ditangkap dan diadili, terjadi distrust di tengah masyarakat. Ketidakpercayaan pada raja dan birokrat, ketidakpercayaan para imam agung dan penguasa kepada Yesus dan pengikutnya, dan kekuasaan Romawi yang rawan terguncang. Pula di antara para murid, tentang siapa yang berkhianat, sungguhkah Yesus Tuhan? Kohesi sosial retak, saling tak percaya merebak, kecurigaan menyeruak, delegitimasi itu ampuh memreteli sendi-sendi hidup bersama, termasuk komunitas para pengikut Yesus.

Di saat para murid putus asa dan merasakan pukulan kekalahaan yang amat telak, penyambung harapan itu adalah para wanita. Mereka yang mengedepankan perhatian dan cinta, terutama pada Yesus yang telah mati. Di pagi buta mereka ingin berbela rasa, menunjukkan cinta pada Yesus yang dikasihi dengan mengunjungi makamnya. Makam kosong, Yesus hilang! Seorang malaikat kemudian menyampaikan pesan tentang kebangkitan. Ia mengingatkan sabda Yesus di Galilea, bahwa anak manusia akan mati dan bangkit pada hari ketiga. Kata kunci pertama adalah ingatan (memoria). Di saat kita putus asa, bingung, maka kembalilah pada ingatan, mengenang jejak masa lampau untuk menemukan pegangan.

Para wanita kemudian berlari, antara percaya dan takut, mereka menyampaikan informasi kepada para murid. Hampir semua tak percaya, kecuali Petrus, orang yang dua hari lalu menyangkal Yesus, bergegas dan berlari ke makam Yesus. Ia menjumpai makam kosong. Reaksi iman yang dibutuhkan bukanlah menimbang dan berpikir, melainkan bergegas dan lari. Iman itu tentang rasa, kesertamertaan, kerinduan pada daya hidup, tekad menghampiri dan berjumpa. Kata kunci kedua adalah respon. Bukan dengan pikiran, melainkan tindakan (actio).

Baca Juga:  Kapolri Tegaskan Tak Akan Beri Izin Aksi PA 212 di Gedung MK

Iman yang bertindak dan berjumpa, digerakkan oleh kenangan. Kebenaran kebangkitan hanya dapat diterima oleh hati yang baru, yang jernih, yang telah disirami air, bagaikan Israel yang dituntun membelah laut, dan dahaga mereka dipuaskan dengan air kehidupan, hingga percikan dan pembenaman diri dalam baptis suci sebagai tanda keikutsertaan dalam kematian Yesus. Kematian, membunuh aku yang dulu dan menjadi baru. Yang dikenangkan lagi dengan janji baptis di hadapan jemaat. Dengan demikian, hati yang baru siap menerima perutusan, untuk berwarta tentang Ia yang mengalahkan maut. Hati yang mematri egonya di tiang salib. Mengalahkan dengan jalan damai, pemberian diri, pengurbanan, cinta setuntasnya. Kata kunci ketiga: hati yang menjadi baru (conversio).

Di tengah arus disinformasi, upaya delegitimasi, perusakan saling percaya dan luruhnya kohesi sosial, kita diuji untuk tetap punya iman yang teguh. Kebangkitan adalah kemustahilan pada yang melulu memakai nalar dalam hidupnya. Jalan Yesus menyediakan cara bagi kita untuk menyelami dan mengalami harapan baru, yaitu menundukkan diri (ego) pada visi dan misi yang lebih besar, yakni keselamatan umat manusia. Ia meruntuhkan gambaran tentang pemimpin atau raja yang serba kuasa, sebaliknya justru mengosongkan diri menjadi sedemikian hina dina nirkuasa. Ia dicibir, diolok, disiksa, direndahkan, namun jalan cinta yang total dan tuntas hingga tiang salib inilah yang menghancurkan mata rantai kekerasan dan menghadirkan cinta sebagai pemenang.

Baca Juga:  Pupuk Indonesia Penuhi Kebutuhan Pupuk Bersubsidi

Semoga bangsa Indonesia yang sedang diuji sebagai sebuah bangsa ini mampu melaluinya dengan baik. Kita kembali pada kenangan (memoria) tentang apa hakikat dan tujuan bangsa Indonesia didirikan dan mengada. Tentang bagaimana para pendiri bangsa, meski berbeda namun tetap rukun bersuka cita. Kita mengedepankan tindakan yang konkret (actio), menjumpai siapapun, terutama yang berbeda paham dan pilihan. Berbekal hati baru yang telah diubah (conversio), kita siap menjadi pewarta sekaligus pelaku, menawarkan cinta kasih, menyapa saudara sebagai sesama, menjadi saksi bahwa harapan telah datang.

Menanggalkan kalkulator untung rugi pribadi, menjadi neraca pengorbanan yang membahagiakan semakin banyak orang. Meninggalkan algoritma social media yang mengerdilkan, menuju algoritma cinta yang tak bertepi dan menguatkan. Menjadi gentong kasih, menuju kepenuhan karena undangan Tuhan tentang hidup baru, bukan setia pada perkara yang sekadar menyenang-nyenangkan aku yang semu.

Itulah kebangkitan!

Semoga Tuhan mencairkan hati yang beku, memulihkan ingatan kolektif kita, memampukan umatNya bertindak seturut kehendak-Nya, dan membentuk kepemimpinan yang rendah hati dan setia melayani, yang menyelami samudera hidup dan sudi menyulam kain persaudaraan yang terkoyak.

Selamat Paskah!

***

Yustinus Prastowo Pajak CITA
Yustinus Prastowo, Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA)
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close