Opini

Panca Sila : Filosofi, Bukan Represi

Oleh: Wima Brahmantya

Beberapa waktu lalu saya membuat suatu riset dengan melemparkan sebuah pertanyaan : “Bagaimana menurut sahabat JERNIH jika ada WNI yang tidak mau bersumpah setia kepada Panca Sila?” Sebuah contoh kasus saya lampirkan yaitu Ustad Abu Bakar Ba’asyir yang mendapatkan remisi dari Presiden (tapi ndak jadi setelah keputusan Presiden tsb ‘dikoreksi’ oleh Menkopolhukam).

Seperti dugaan saya, kebanyakan komentator “Pro-Panca Sila” memberikan reaksi yang seakan-akan bersifat represif dan intimidatif dengan kalimat semacam : “Kalau tidak mau terima Panca Sila silakan angkat kaki dari Bumi Indonesia!”, dan juga ungkapan-ungkapan sejenis. Pernyataan semacam ini biasanya dijawab oleh mereka yang “Anti-Panca Sila” dengan kalimat yang tidak kalah klisenya yaitu “Kalau tidak mau ikut aturan Allah pergi saja dari Buminya Allah!” Jadilah perdebatan ini seperti lingkaran setan yang tiada ujung pangkalnya dan tiada titik temunya.

Coba sekarang kita andaikan Ustad Ba’asyir mau (berpura-pura) mengucapkan “sumpah setia” kepada Panca Sila demi formalitas pembebasannya, apakah hal tersebut dijamin menyelesaikan persoalan? Bagaimana jika setelah bersumpah setia, Ustad Ba’asyir kembali mengampanyekan Panca Sila sebagai barang taghut dan segala ajaran anti-kebhinekaan lainnya? Apa sih susahnya sekedar ‘bersumpah’?

Lalu apakah kita yang mengaku “Pro-Panca Sila” itu memang sudah benar-benar ber-Panca Sila? Para pejabat yang tersandung kasus korupsi itu setiap senin dengan lantang memandu para PNS untuk membacakan Panca Sila loh, tapi kita tahu bpenataraahwa mereka adalah anti-Panca Sila dengan melanggar Sila-2.

Baca Juga:  Petarung, Melaporkan dari Hati yang Gelap

Sadarkah bagi anda yang setiap hari begitu bersemangat menggunakan isu apa saja untuk menghantam kelompok yang berseberangan pilihan dengan anda dengan kata-kata kebencian, hanya demi memenangkan idola anda itu sebenarnya sedang bersikap anti-Panca Sila dengan melanggar Sila-3?

Bahkan sadarkah kita bahwa sudah hampir 20 tahun kita menjalankan sistem berdemokrasi yang anti-Panca Sila dengan cara menang-menangan suara yang melanggar Sila-4? Berkebalikan dengan semangat Panca Sila yang mengedepankan Musyawarah Mufakat yang tidak mengenal suara mayoritas dan minoritas, melainkan berupaya semaksimal mungkin mencapai “win win solution”?

Kawan … Bung Karno berkata bahwa Panca Sila adalah “Philosophische Grondslag”, artinya adalah “Falsafah Dasar” bagi Bangsa Indonesia. “Falsafah” itu “filsafat” yang selalu berkaitan dengan “upaya memahami” persoalan-persoalan mendasar seperti eksistensi, pengetahuan, nilai, akal pikiran, dan bahasa.  Dengan demikian, sudah seharusnya Panca Sila diperlakukan dengan pendekatan “filosofis” atau “kepahaman”. Bukan dengan pemaksaan atau represi atau intimidasi.

Jika orang tidak mau menerima Panca Sila, ya jangan langsung “diusir” dari Tanah Air. Berikanlah kepahaman kepada mereka. Jika mereka tetap tidak mau menerima, ya biarkan saja selama itu merupakan sikap pribadi mereka. Lain halnya jika sikap tersebut mendorong tindakan-tindakan yang menciderai kebhinekaan, seperti mengganggu ibadah umat lain misalnya, maka di sini biar aparat yang melakukan penegakan hukum. Panca Sila tidak bersifat menindas mereka yang berbeda, karena Panca Sila mengakui “nilai-nilai kemanusiaan”, yang mana itu berarti pengakuan terhadap fitrah manusia yang berbeda-beda.

Baca Juga:  ”REFORMASI PAJAK BERGULIR, LAYANAN “3 MUDAH, 2 ADIL” HADIR

Dalam rangka “mencerdaskan kehidupan bangsa”, menurut hemat saya malah seharusnya Negara, dalam batasan yang disepakati, memberikan ruang bagi diskursus tentang Panca Sila. Jika mau mengkritisi atau menggugat Panca Sila silakan, tapi hanya di seminar atau kajian yang berada di tempat-tempat yang sudah disepakati sebagai tempat bertukarnya gagasan dan pemikiran, seperti di kampus misalnya.

 “Cinta karena saling pengertian” jelas berbeda dengan “Dipaksa untuk cinta”. Seperti pengalaman saya sendiri semasa di bangku sekolah yang selalu bosan mendengarkan Panca Sila harus diucapkan lantang di setiap upacara bendera, dan juga merasa sebal ketika dituntut harus menghapalkan butir-butir pada kelima silanya. Pernah juga berada pada titik tidak percaya bahwa Panca Sila lebih baik daripada Kapitalisme dan Komunisme, sebagaimana klaim Bung Karno. Tapi kini saya meyakini bahwa Panca Sila adalah “falsafah kebangsaan terhebat yang pernah ada di muka bumi”.

Biarlah Panca Sila tegak secara alamiah melalui kepahaman yang mendalam, bukan sekedar mengancam orang yang tidak mau setia pada Panca Sila maupun secara semena-mena memberangus dan membakar buku-buku beraliran kiri.

Karena masa depan tegaknya Panca Sila di negeri ini adalah ditentukan melalui “kepahaman”, bukan “pemaksaan”.

***

Wima Brahmantya ketua dewam kesenian kabupaten blitar
Penulis: Wima Brahmantya ~ Seniman dan Budayawan, – Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close