Daerah

Open House Gubernur Jawa Timur, Reuni Relawan Perjuangan Tiga Episode

Open House Gubernur Jawa Timur Reuni Relawan Perjuangan Tiga Episode
Khofifah sedang berbincang dengan tamu di ruang tengah kediamannya di Jemursari, Surabaya, Jumat (7/5). – Foto: MJNews

SURABAYA, MJNews – Open house pada Idul Fitri tahun 2019 adalah open house perdana bagi Khofifah Indar Parawansa sebagai Gubernur Jawa Timur sejak dilantik medio Februari 2019 lalu. Khofifah menyelenggarakan open house selama tiga hari berturut-turut dengan tiga shift. Di atas kertas jadwal kunjungan open house yang beredar di media sosial itu antara lain pagi, pukul 08.00 sampai 12.00. Siang 13.00 -16.00 dan malam 19.00-22.00.

Hari pertama Idul Fitri, yang jatuh pada tanggal 5 Juni 2019, usai sholat Idul Fitri di Masjid Al Akbar Surabaya, open house digelar di Gedung Negara Grahadi. Di gedung yang berlokasi di Jalan Pemuda Surabaya itu, ratusan tukang becak tumplek blek memadati. Mereka kelihatan berbahagia bertemu langsung dengan tuan rumah, Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak.

Open house malam hari hingga tiga hari berikutnya berpindah lokasi di kediaman Khofifah. Di kompleks Jemursari Surabaya itu, tamu datang silih berganti. Infonya, 300 porsi soto ayam yang disediakan ludes dalam jangka waktu pukul 08 sampai 10 pagi. Ya, open house tidak sesuai jadwal yang tertera. Di luar kertas alias praktiknya, tiap hari nyaris smpai tengah malam.

Baca Juga:  Hentikan Pembangunan Patung Bung Karno

Seperti malam itu, Jumat (7/5).

Tamu datang dari berbagai kota di Jawa Timur. Memang tak sepadat hari-hari sebelumnya. Tetapi tak mengurangi keramahan dan keseruannya. Bahkan hari itu nyaris seperti ajang nostalgia para relawan yang  mengiringi perjalanan perjuangan Khofifah sejak 2008. Tawa pecah berderai di ruang tengah rumah Gubernur tersebut mengiringi cerita-cerita konyol saat proses perjalanan pemilihan gubernur (Pilgub) Jawa Timur.

Pak Sabar, misalnya. Bercerita tentang perjalanan menembus malam-malam mengantarkan logistik pilgub mulai Banyuwangi sampai Ngawi. Lelaki yang bernama asli Sumadi itu adalah pentolan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di daerahnya, Sedati, Sidoarjo. Tetapi dalam proses pilgub, Khofifah menjulukinya Sabar sebab kehalusannya. Hingga sekarang, para tetangga katut memanggilnya Haji Sabar.

Atau Anas Thoha yang selama pilgub 2008 bertugas stand by di Bandara Juanda, Surabaya.  Sampai-sampai ia dianggap sebagai petugas protokoler Khofifah. Tak jarang, sebelum fajar ia sudah ada di Juanda. Terkadang tengah malam pun ada di sana. “Saya senang hati melakukannya,” kata Anas.


Tamu berswafoto di halaman depan kediaman Khofifah.

Cerita nostalgia lain dari para petugas pengamanan melekat atau pamkat. Mereka harus melekat di dekat Khofifah. Praktis harus ikut kemanapun Khofifah pergi atau berkegiatan. Sehari semalam bisa lima sampai enam lokasi. Berangkat pagi, pulang menjelang subuh. Sering juga tidak pulang sampai berhari-hari. Entah berapa kali beli celana atau pakaian baru karena kehabisan. “Lha mau bagaimana lagi. Jadwal pulang tidak jelas, tetapi pakaian ganti yang dibawa sudah jadi kotor semua. Ya satu-satunya cara ya beli baru,” kata Oky yang bertugas pada pilgub 2008 dan 2013 sembari tertawa.

Baca Juga:  Pemkot Malang Targetkan PAD Satu Triliyun Rupiah

Yang tak terlupakan juga adalah cerita pagi. Saat bertemu pagi jelang tugas perjalanan adalah kebiasaan menunda sarapan. “Kita ngobrol ngalor ngidul gak jelas dulu. Baru kemudian kepikiran sarapan. Pas mau angkat piring, tiba-tiba ada perintah jalan. Ya sudah, ga jadi sarapan,”kenangnya sambil tertawa.

Relawan penting tiga episode adalah pasangan H. Romadhon Sukardi dan Hj. Hanik Musfaridah. Keduanya layak disebut loyalis karena berdua adalah teman seangkatan Khofifah. Kala menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Surabaya, Romadhon sebagai Sekretaris Umum sementara Hanik Musfaridah adalah bendahara. “Kebersamaan dalam jangka waktu sekian dekade itu membuat kami melebihi saudara. Kalau sudah saudara, tak akan ada hitungan apapun,” kata Hanik.

Semua yang hadir sepakat bahwa tidak ada yang berubah. Khofifah pun tetap ramah dan nyaris tak berjarak. Semoga seterusnya. //dianika wardhani//

Tags

Leave a Reply

Close