Opini

“Nikah Beda Agama, Kenapa Tidak?” (Bag 5)

Oleh: Wima Brahmantya, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar

BAG 5 : PENUTUP

Ada sebuah argumentasi dari kalangan penolak NBA, bahwa NBA tidak akan berhasil membawa kepada ketenteraman dan kebahagiaan. Jelas ini adalah asumsi sepihak yang kesannya menghakimi. Apa dasar dari pernyataan tersebut? Bukankah sudah banyak contoh perceraian dari pernikahan seagama? Dan bukankah banyak contoh dari pernikahan yang langgeng hingga mau memisahkan, meskipun mereka berbeda agama?

Betul, bahwa perbedaan agama di dalam rumah tangga itu bisa menjadi ‘kerikil’. Akan tetapi intinya ada pada sikap saling pengertian. Jika sepasang kekasih sudah bertekad membangun rumah tangga yang bahagia, tentu mereka tidak akan membiarkan perbedaan sebesar apa pun untuk mengganggu rumah tangga yang dibangun. Karena sesungguhnya “cinta sejati” itu bisa menembus sekat-sekat apa pun, termasuk agama.

Seperti yang sudah saya singgung pada Bab I, bahwa saya pernah menjalani NBA. Istri saya seorang etnis Tionghoa yang berasal dari keluarga penganut Kristen yang taat, tepatnya dari sekte Saksi-Saksi Yehuwa. Kami menghabiskan waktu yang cukup lama, 9 tahun, berpacaran. Masa berpacaran yang cukup lama tersebut memang tidak lepas dari kekhawatiran apakah keluarga akan mendukung hubungan kami.

Pada 5 tahun pertama masa pacaran kami, saya berusaha keras untuk menariknya kepada agama yang saya anut. Bahkan saya sempat berdebat beberapa kali dengan para penginjil termasuk penatua (pendeta) yang menyempatkan diri untuk datang ke rumah. Berbekal dengan pengetahuan saya tentang Kristologi, saya bisa katakan bahwa saya selalu memenangkan perdebatan tersebut. Tetapi apakah itu membuat (mantan) pacar saya tersebut tertarik untuk masuk Islam? Tidak.

Hingga ada sebuah kejadian di mana pada sebuah perdebatan sengit antara kami berdua, (mantan) pacar saya itu menangis. Mungkin saya terlalu ‘sadis’dalam menelanjangi keyakinannya. Saat itu juga tangisan (mantan) pacar saya itu membuat saya tertegun. Saya berpikir, inikah tujuan kita beragama? Untuk sekedar menang-menangan? Saya sangat menyesali perbuatan saya itu. Saya pun beranjak mengambil Alquran untuk menenangkan diri, dan membuka lembaran demi lembaran dan menemukan ayat ini :

 

QS 42 Asy-Syuara (Musyawarah) : 15

Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. BAGI KAMI AMAL-AMAL KAMI dan BAGI KAMU AMAL-AMAL KAMU. TIDAK ADA PERTENGKARAN antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya lah (kita) kembali.

Saat itu pula saya berjanji untuk tidak menyerang keyakinan (mantan) pacar saya itu, dan sejak itu saya menghormati penuh apa yang menjadi keyakinannya tersebut. Kami pun menjalani masa pacaran dengan tidak lagi mengungkit-ungkit perbedaan keyakinan, bahkan saling mendukung kegiatan masing-masing. Misalkan saja, saya beberapa kali menemani (mantan) pacar itu pada acara kebaktian akbar, dan sebaliknya dia juga membantu setiap kali ada kegiatan sosial yang berhubungan dengan keagamaan.

Baca Juga:  Indonesia, New Security Council Member. You Are Needed in This Time of World Turmoil.

Setelah menjalani 9 tahun pacaran, akhirnya kami pun mendapatkan restu dari orangtua untuk menikah. Keluarga saya sendiri termasuk moderat dan berpikiran terbuka, sehingga tidak ada masalah yang berarti tentang perbedaan agama. Di sisi lain, saya juga tidak menyangka bahwa akhirnya keluarga (mantan) pacar bisa menerima lamaran saya dengan cukup mudah. Oleh karena NBA tidak diakui di Indonesia, maka kami pun menikah secara resmi di Hong Kong pada tahun 2012. Ada pun sebelumnya kami juga sudah menikah secara Islam dengan bantuan dari Yayasan Paramadina.

Kami menjalani 2 tahun rumah tangga dalam perbedaan agama, tetap dengan komitmen saling menghormati keyakinan masing-masing. Hingga pada akhir 2013, istri saya mengandung. Pada saat itulah dia minta kepada saya untuk dibelikan Alquran Digital. Untuk didengerin ke dedek bayi, katanya. Saya pun membelikan dia Alquran Digital, dan selama masa mengandung setiap malam istri saya memutar Surah Yusuf dan Surah Maryam dan didekatkan dengan kandungan. Harapannya kelak, jika lahir bayi laki-laki akan setampan Nabi Yusuf, dan kalau lahir bayi perempuan akan menjadi wanita terkemuka seperti Maryam, ibunda Nabi Isa.

12 Juli 2014, semakin lengkap kebahagiaan kami dengan kelahiran putra pertama kami : Jaga Nusantara Brahmantya. Selesai kejutannya sampai di situ? Tidak juga. 1 bulan setelah kelahiran putra kami, istri saya akhirnya menyatakan keinginannya untuk masuk Islam. Pada tanggal 13 Agustus 2014 istri saya menjadi mualaf dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Baca Juga:  Our Lost Youth: Tragedies upon Tragedies

Tidak ada paksaan sama sekali atas perpindahan keyakinan istri saya tersebut.

Di sini anda bisa bandingkan sendiri bahwa dengan perdebatan menyerang keyakinannya dan mengunggulkan agama yang saya anut, ternyata istri saya tidak berubah pendiriannya. Namun ketika saya memutuskan untuk berhenti dan menghormati secara penuh keyakinannya, seraya berusaha menjadi seorang suami yang baik, justru tertarik dan memutuskan untuk masuk Islam.

Ini juga adalah sebuah pembelajaran untuk tidak menghakimi apa yang menjadi keyakinan orang lain. Menetapkan garis pemisah secara kaku bahwa “saya beriman dan kamu kafir” adalah melampaui wewenang dari Tuhan itu sendiri (QS 16:125), sekaligus menutup rahmat Tuhan untuk disebarluaskan (QS 17:100). Karena setiap orang diperjalankan oleh Tuhan dengan caranya masing-masing (QS 17:84) sehingga orang akan beriman oleh karena kehendak-Nya (QS 10:99-100). Jadi boleh saya katakan bahwa seandainya saja saya tidak menikahi istri saya karena perbedaan keyakinan, maka boleh jadi istri saya tidak akan menjadi seorang Muslimah seperti saat ini.

Inti dari tujuan pernikahan menurut Alquran itu sendiri adalah ketenteraman dan kasih sayang. Fenomena alam yang luar biasa ini adalah anugerah dari Allah swt dan sejatinya tidak berhubungan dengan agama, suku, ras, atau bangsa. Manusia tidak pernah bisa memilih bahwa dia akan dilahirkan di tengah-tengah keluarga dari suku, ras, dan bangsa mana serta menganut keyakinan yang seperti apa. Lebih jauh lagi, manusia juga tidak bisa secara penuh menentukan nasibnya sendiri bahwa ia akan jatuh cinta kepada siapa. Bukankah “cinta” itu adalah misteri?

 

QS 30 Ar Ruum (Bangsa Romawi) : 21

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

***

Wima Brahmantya ketua dewam kesenian kabupaten blitar
Penulis: Wima Brahmantya ~ seniman dan budayawan, – Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.

 

 

Tags

Leave a Reply

Close