OpiniPendidikan

NASIONALISME MEREKA, NASIONALISME KITA

Memperingati 91 tahun lahirnya bangsa Indonesia.

NASIONALISME MEREKA, NASIONALISME KITAOleh: Wima Brahmantya

Barangkali orang Indonesia itu salah satu yang paling nasionalis di dunia.

Saya masih ingat bagaimana teman-teman dari Jerman malah tertunduk malu ketika saya mencoba menghibur mereka dengan memainkan national anthem Jerman di piano. Seorang teman wanita dari Belanda malah mengacungkan jempol ketika melihat patung pahlawan kemerdekaan di TMP merobek warna biru dari bendera Belanda, sambil mengatakan bahwa “Belanda pantas mendapatkan itu”. Saya tidak membayangkan betapa marahnya kita kalau melihat bendera Merah Putih disobek dan dijadikan ikon di suatu negara.

Ide tentang “nasionalisme” di Eropa bisa berkonotasi negatif akibat pengalaman pahit atas berbagai perang antar bangsa yang terjadi di Eropa. Yang paling jelas tentunya Perang Dunia II. Belum lagi perang-perang lain yang murni disebabkan faktor etnis semisal perang saudara di Yugoslavia yang menyebabkan negara besar tersebut akhirnya bubar.

Demikian pula di Timur Tengah, nasionalisme bisa dibilang sukses memecah belah kekuatan Arab, sehingga tidak heran Negara Israel yang cuma ‘seupil’ itu bolak balik menang perang walaupun dikeroyok oleh negara-negara Arab.

Itulah kenapa generasi muda di Barat pada umumnya mulai terkesan alergi terhadap ide nasionalisme yang berpotensi mengarah pada “chauvinisme”, sementara dunia semakin terhubung satu sama lain berkat kemajuan teknologi.

Baca Juga:  INDONESIA SEBAGAI NEGARA PANCASILA

Lantas bagaimana dengan “nasionalisme Indonesia”? Apakah kita juga perlu untuk ‘melunturkan’ semangat nasionalisme di dada?

Yang harus diketahui di sini adalah proses pembentukan nasionalisme Indonesia adalah BERBEDA dengan negara-negara kebanyakan. Jika “nasionalisme” yang terjadi di belahan bumi lain berpotensi “memecah belah”, maka justru nasionalisme Indonesia itu sebenarnya “mempersatukan”.

Sebelum 1928, tidak ada yang namanya “orang Indonesia”, atau “bangsa Indonesia”. Yang ada ya “orang Jawa, orang Pasundan, orang Sumatera, dsb”. Namun terhitung sejak Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, maka di situlah sebenarnya bangsa Indonesia ini “terlahir”. Pelan-pelan orang-orang kita mulai menyebut dirinya “orang Indonesia”, dan konsep kebangsaan ini terus bergulir hingga bangsa Indonesia mencapai kemerdekaannya pada 1945.

Kadang saya ga habis pikir ya, kok bisa-bisanya ya pada waktu itu para leluhur kita sampai punya gagasan meleburkan diri menjadi satu bangsa, meskipun suku, ras, dan agamanya berbeda-beda. Bahkan lebih hebat lagi, kerajaan-kerajaan Nusantara pun dengan sukarela meleburkan diri menjadi satu bangsa. Artinya para raja tidak akan mendapatkan keistimewaan lagi seperti biasanya, karena mereka secara yuridis akan menjadi warga negara biasa. Tentu kita tahu alasan utamanya adalah “perasaan senasib sepenanggungan sebagai bangsa terjajah”. Tapi tetap saja kalau dipikir-pikir ini mengagumkan sekali, bagaimana suku-suku dan kerajaan-kerajaan yang berbeda ras dan agama mau melebur menjadi satu bangsa dengan kesadaran sendiri, tanpa paksaan secara militer.

Baca Juga:  "DILEMA MELAYU" dan MAHATHIRISME

Fakta sejarah ini diperhatikan betul oleh para petinggi Eropa. Mereka mempelajari bagaimana bangsa Indonesia bisa hidup dalam keanekaragaman untuk waktu yang lama, sehingga muncullah gagasan “Uni Eropa” untuk mempersatukan bangsa-bangsa Eropa yang selama ini sering berperang satu sama lain. Tidak tanggung-tanggung, slogan “Bhinneka Tunggal Ika” pun mereka adopsi menjadi slogan “Unity In Diversity”!

Maka jelas sekali jika di Barat ide nasionalisme bisa berarti “perpecahan”, maka di Indonesia ide nasionalisme berarti “persatuan”.

Siapa pun yang memahami ide nasionalisme Indonesia akan paham bahwa nasionalisme Indonesia itu tidak membahayakan, bahkan baik buat pergaulan internasional. Tidak ada “chauvinisme” dalam konsep nasionalisme Indonesia, sebagaimana Bung Karno berkata :

“… janganlah berkata bahwa bangsa Indonesialah yang terbagus dan termulia, serta meremehkan bangsa lain. Kita harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia. Kita bukan saja harus mendirikan Negara Indonesia Merdeka, tetapi kita harus menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa!”

Dasar pemikiran-pemikiran inilah yang kelak menjadi salah satu Tujuan Nasional yang tercantum di dalam Pembukaan UUD’45 :

“Ikut di dalam ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.”

***

Wima Brahmantya ketua dewam kesenian kabupaten blitar
Penulis: Wima Brahmantya ~ Seniman dan Budayawan, – Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close