Opini

Metanoia Intelektual

Oleh: Yustinus Prastowo

Jumat, 1 Maret 2019 adalah salah satu momen spesial bagi saya. Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu mengundang saya untuk berbagi perspektif dalam acara Rapat Pimpinan (Rapim) Tahunan awal tahun mereka. Awalnya saya ragu, hendak berbagi tentang apa. Jika bicara soal kebijakan pajak atau bea cukai, tentu mereka gudangnya ahli.

Begitu Panitia menyampaikan bahwa saya diminta berbagi tentang pengalaman membangun dan mengelola lembaga kajian berikut suka dukanya, antusiasme langsung menyembul. Tetiba saya mendapat energi baru dan tersadar untuk keluar dari jebakan rutinitas. Keseharian yang didominasi perbincangan tentang kebijakan dan teknis perpajakan. Saya dipaksa untuk mengambil jarak terhadap realitas keseharian, merefleksikannya, lalu menimbang perjalanan ini. Kapan berawal, apa yang mendorong, hendak ke mana menuju, dan apa yang kini saya mukimi dan hidupi.

Menjadi seorang intelektual, ahli, atau pakar jelas bukan tujuan hidup saya, secuil saja. Bahkan jika boleh sejenak menengok perjalanan ke belakang, pergumulan saya di dunia perpajakan lebih sebagai kecelakaan sejarah. Dunia yang pernah saya akrabi di waktu muda namun perlahan saya jauhi dan hendak ditinggalkan. Saya lebih suka menekuni filsafat dan politik, dua ranah yang sejak lama bersemayam di relung hasrat.

Kecelakaan itu lahir bertalian, ketika saya mempelajari cukup serius pemikiran Antonio Gramsci, khususnya tentang intelektual organik dan civil society, ditambah kuatnya tradisi berpikir kritis dalam filsafat. Aktivisme politik, melalui advokasi kebijakan, lantas menjadi pilihan paling mungkin untuk mewujudkan kebaikan bersama. Perjumpaan dengan rekan-rekan aktivis NGO yang terlebih dulu membangun jaringan dengan militansi tinggi memompa semangat juang saya. Sempurnalah kecelakaan itu: saya menemukan pajak sebagai pengait (nexus) sekaligus pengungkit (leverage) bagi perjumpaan ‘teori dan praksis’.

Sejak saat itu, keseharian saya dibentuk dan dibanjiri idiom seperti keadilan pajak, kesejahteraan, redistribusi, progresivitas, pengemplangan pajak, dan lainnya. Ikhtiar itu ternyata semakin mendarah daging, merasuki sumsum bahkan memperkuat myelin di jejaring otot untuk terus berpikir dan terlibat. Api yang saya jaga dari padam sejak meninggalkan Ditjen Pajak, ternyata masih punya gairah dan nyala, bahkan ketika saya menjadi profesional di dunia swasta. Panggilan itu semakin nyaring membahana. Perjumpaan itu semakin nyata.

Tentu saja saya patut berterima kasih kepada media massa dan sahabat jurnalis yang memberi ruang artikulasi sangat leluasa, dan aktif terlibat mengarusutamakan isu pajak. Sejak awal sadar, isu pajak adalah sebuah kontestasi yang tak mudah, namun sangat penting diperjuangkan. Saya berkeyakinan, melalui pajaklah sebuah negara akan mencapai level kesejahteraan tertinggi sekaligus demokratis. Setelah itu, berbagai perjumpaan lahir dan hadir, pasang surut, datang dan pergi, lentur pula kaku. Suka tak suka, advokasi musti bersinggungan erat dengan kekuasaan, pemegang otoritas.

Baca Juga:  Menulislah, dan peluklah kebenaran sejati.....

Kelahiran CITA sejatinya adalah sebuah jalan pulang, yang saya rasakan, kadang teramat panjang. Saya lantas teringat secarik surat yang saya tulis ketika pamit dari Ditjen Pajak, bahwa kelak akan ada titik jumpa karena kami dipersatukan oleh niat yang sama: menjadikan pajak sendi bangsa. Mengadvokasi isu pajak tentu tak boleh sekadar berbekal suara lantang, melainkan ilmu dan analisis yang memadai. Dunia perpajakan menyediakan dua hal itu: praktik sebagai basis material analisis, dan teori yang berlimpah, mulai dari pendekatan ekonomi, akuntansi, hukum, administrasi, hingga sosiologi, psikologi, bahkan filsafat.

CITA lahir berbekal kenekatan, tapi lebih dari itu, digerakkan spirit perubahan. Lekat dan dekat dengan kekuasaan tak perlu menyurutkan kritisisme dan daya juang, meski kami musti mengubah strategi advokasi. Forum demi forum, rapat demi rapat, kajian demi kajian, advokasi demi advokasi kami lalui. Rasanya hampir semua institusi dan orang penting di negeri ini pernah berhubungan dan terlibat diskursus dengan kami. Kerap letih itu mendera, rasa lelah menghantam, godaan menyembul. Maklum, sejak lima tahun lalu saya meninggalkan dunia praktisi dan menanggalkan seluruh yang saya miliki agar dapat menghasilkan uang berlipat: praktik konsultan dan kuasa hukum pajak.

Saya hanya ingin menghidupi pilihan saya secara total. Tak elok rasanya saya berpura-pura mengadvokasi sebuah kebijakan, dan saat bersamaan saya mengurus kasus. Atau memanfaatkan kedekatan dengan para pengambil kebijakan itu untuk mengambil keuntungan pribadi. Rasanya cukup lega dapat hidup layak dari aktivitas intelektual sambil berbagi dan berkontribusi. Kami tak pernah berhitung, sebab Tuhan pun menawarkan rahmat kebaikan tanpa memandang apa dan bagaimana umatNya. Ia setia menerangi bumi, bagi orang baik dan orang jahat.

Kembali ke BKF. Siang itu rasanya saya sungguh menikmati panggung kesaksian perjalanan hidup. Saya tak pernah mendaku itu baik, apalagi sempurna. Cuma nyata dan itulah adanya. Kunci penting keberhasilan sebuah lembaga pemikiran adalah kesetiaannya pada ilmu pengetahuan, yang memang selalu terarah pada pencarian kebenaran. Dan batu uji kebenaran adalah apa yang kemungkinan paling bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang. Itulah dua penampakan dari satu kepingan intelektualitas: kedalaman reflektif-teoretik dan advokasi.

Baca Juga:  MENYELAMI PANCASILA SEBAGAI DASAR INDONESIA MERDEKA

Integritas adalah batu penjurunya, penyangga moralitas agar kita tak sekadar berbunyi ketika ada insentif. Supaya kita tak selalu berhitung untung rugi materiil belaka, padahal semesta menyediakan banyak kebaikan dan kepenuhan yang siap petik, entah bernama persahabatan atau kebersamaan. Pula keberanian mengatakan tidak pada apa yang tak layak diperjuangkan. Dan saya menemukan rumah saya di forum itu. Ketika sebuah institusi pemerintah, bagian penting Kementerian Keuangan, justru ingin merenung dan menimbang keberadaannya, lalu menjadi lebih baik lagi.

“Ready to transform”, slogan yang dipakai forum ini menunjukkan niat dan semangat kuat menerima tantangan Menteri Keuangan. Begitu banyak anak muda di BKF, pintar, cakap, trengginas – mengemas dan menyiapkan acara ini. Bagi saya pribadi itu adalah harapan. BKF jelas punya potensi untuk menjadi kiblat dunia pemikiran dan kajian, terutama tentang fiskal, tak hanya level Indonesia namun dunia. Keyakinan saya ini justru bermula dari watak dasar intelektual sejati yang saya temukan di forum ini: kerendahan hati! Kesediaan bertransformasi adalah tindakan mulia yang didahului oleh kesadaran akan kekurangan. Kejujuran adalah titik tolak terbaik bagi sebuah pencarian yang otentik.

Selanjutnya, dunia intelektual tak pernah kehilangan rujukan dan daya pesonanya. Masa lalu menyediakan banyak pengetahuan dan pelajaran. Lembaga pemikiran (think tank) seperti BKF yang siap bertransformasi adalah harapan dan masa depan bangsa, khususnya bidang fiskal. Meminjam Isaiah Berlin, kita membutuhkan pemikir raksasa (model ‘hedgehog’/landak) yang amat spesialis, sekaligus pemikir yang setia pada banyak hal yang kadang terkesan remeh temeh (model ‘fox’/rubah) yang ensilopedis.

Dunia intelektualitas adalah muara bertemunya teori-praksis, individualitas-sosialitas, kerja di kedalaman-tampil di permukaan, analisis-artikulasi. Pengetahuan pada akhirnya adalah pertobatan – demikian Romano Guardini menyimpulkan. Pencarian kebenaran ilmiah (veritas quaesita), adalah upaya memahami fakta untuk memahami Sang Realitas. Semakin bertekun, semakin terbuka dan rendah hati, berjumpa dengan Sang Kebenaran yang menyingkapkan diri (veritas revelata). Itulah wajah kemaslahatan, hidup yang berpihak. Meminjam Helena Deutsch, pada akhirnya, melampaui segala pencarian objektivitas, tujuan paripurna penelitian adalah memihak kebenaran!

Tulisan panjang ini sekaligus metanoia Rabu Abu, yang hampir bersamaan dengan Catur Brata Penyepian. Proses menengok masa lalu untuk meninjau penziarahan, berjarak dengan diri sendiri, dari mana menuju ke mana, abu yang diingatkan akan menjadi abu, tawadhu pada Sangkan Paraning Dumadi. Bukan untuk menjadi fatalistik, melainkan menyadari tiap panggilan hidup sebagai persembahan diri, mewujudkan kasih Allah bagi kebaikan dunia. Perjalanan dan pertobatan intelektual, bersama teman seiring, mewujudkan bakti, menuju Tanah Terjanji. Melalui pajak, menuju negeri limpah susu dan madu.

Saya lengkapi refleksi ini dengan doa masyur Santo Ignatius Loyola:

“Bekerjalah seolah-olah semuanya dapat direngkuh dan bergantung pada upayamu, dan percayalah seolah-olah segalanya bergantung pada Dia.”

Selamat merenung, semoga tercenung dan semesta mendukung.

Per mundum ad coelum, dengan memeluk dunia, kita menggapai sorga.

Aku tak punya apa-apa selain tangan yang selalu siap aku ulurkan, untuk berjabat dan bergandengan….

***

Yustinus Prastowo Pajak CITA
Yustinus Prastowo Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA)
Tags

Leave a Reply

Close