Opini

Menulislah, dan peluklah kebenaran sejati…..

Oleh: Yustinus Prastowo

Menulislah, dan peluklah kebenaran sejati“Sebenarnya orang terjun ke penerbitan, kan, biasanya karena passion, karena suka buku. Tapi yang tidak boleh dilupakan, ini juga sebuah  bisnis. Dan, seperti bisnis lain, mesti paham, jangan hanya passion,” ujar Laura Bangun Prinsloo, Ketua Komite Buku Nasional, di Kompas hari ini. Laura, putri seorang pengusaha bidang perbukuan, yang sudah hidup sangat nyaman di mancanegara, toh terpanggil pulang untuk ikut menghidupi dunia perbukuan Indonesia.

Kamis 19 Juli 2018, kami menyelenggarakan lokakarya menulis, spesifik lagi menulis tentang pajak. Perjalanan bergumul di dunia perpajakan lebih dari dua puluh tahun mendorong saya untuk diam merenung. Riuh rendah percakapan soal pajak di ruang publik hingga kajian teoretik dan bahasan di ruang akademik melahirkan begitu banyak tema, minat, dan keprihatinan. Terakhir, kita prihatin dengan rendahnya literasi pajak, yang dianggap sebagai prasyarat penting bagi kesadaran pajak.

Saya yakin pajak adalah hal yang amat penting dan merupakan nadi peradaban. Tabir sejarah yang terkuak menunjukkan fakta yang kokoh: jatuh bangunnya peradaban tak lepas dari sejarah perpajakan. Maka berguru dari masa lalu adalah keniscayaan. Tentu saja saya maklum dengan diskursus kontemporer tentang kepatuhan pajak dan lainnya. Namun surut sejenak, kita juga sadar bahwa literasi membutuhkan dua hal sekaligus: minat baca yang tinggi dan ketersediaan bahan bacaan bermutu. Dua hal itu lantas mengguncang kenyamanan saya untuk berbagi: siapa yang hendak menulis?

Baca Juga:  Pramoedya & Nobel, dan Sastra Eksil Pasca 1965

Maka, mumpung sedang hangat Hari Pajak 14 Juli 2018, kami mempersembahkan lokakarya sederhana tentang pengalaman dan seluk beluk menulis pajak. Kami percaya pada seloka kuno ‘apa yang terucap akan berlalu, yang ditulis akan abadi’ ( verba volant, scripta manent ). Tak disangka, dua jam pengumuman kami bagikan, kuota 30 kursi penuh, dan dalam satu hari tak kurang 15 orang masuk daftar antrean. Tentu saja kami bungah, banyak orang ingin belajar menulis, menulis soal pajak lagi….

Jadilah lokakarya ini berjalan lancar dan renyah. Terutama karena saya dibantu sahabat saya Eko Prapranto, aktivis literasi yang sudah kenyang asam garam dunia tulis-menulis. Pak Epi berbagi banyak hal yang amat penting, baru, dan praktis. Peserta sungguh dicerahkan dan dicelikkan, seolah menjadi pemula yang dituntun untuk bertungkus lumus dalam samudera menulis yang mahaluas dan mengasyikkan. Saya sekadar berbagai perjalanan menjadi penulis topik perpajakan, pengalaman membaca dan berbagi pemikiran. Selebihnya, para peserta yang antusiaslah yang menentukan apa yang baik usai semua ini.

Baca Juga:  Sudirman Said, Siapa yang Berdusta?

Saya lantas meminjam Nassim Nicholas Taleb yang menengarai keterbatasan pengetahuanlah yang kerap membelokkan kita pada upaya mencari kebenaran hakiki. Dan agenda belajar, melalui membaca, digemakan oleh Umberto Eco dengan ‘anti-library mentality’, yakni spirit untuk menjadikan buku-buku yang belum terbaca sebagai proyek, justru untuk mencegah kita berada dalam kemapanan dan kepongahan.

Saya menantang kepada para peserta untuk mulai menulis, menulis tentang pajak, beralaskan pengalaman keseharian. Hal yang tak mudah tapi layak dicoba. Setidaknya, kami telah memulai langkah pertama. Siapa ingin ikut mencoba, terpanggil seperti Laura? Jika banyak yang terpanggil, tak ada kuasa bagi kami untuk menolak  berbagi…..

***

Yustinus Prastowo Pajak CITA
Penulis: Yustinus Prastowo
Direktur Eksekutif Center for Indonesia
Taxation Analysis (CITA)
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close