BudayaOpiniPendidikan

Mengenal Koteka “Si Lambang Kesetiaan”

Oleh: Wima Brahmantya, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar

Menghargai keanekaragaman budaya adalah sebuah prinsip. Sehingga saya akan menolak sebuah upaya penindasan antara satu budaya dengan budaya lain. Bahkan jika budaya tersebut membonceng agama dengan ancaman nerakanya sekalipun.

Entah sudah berapa kali terjadi setiap berdiskusi soal budaya berpakaian yang oleh suatu kelompok disebut sebagai “pakaian syariat”, seringkali yang jadi target peluru nyasar adalah Koteka. Kalimat umum yang sering diucapkan biasanya begini : “Emangnya budaya apa sih yang perlu dipertahankan? Kamu mau seperti orang-orang Papua yang masih pake Koteka?”

Eaaa … bagi saya kalimat tersebut jelas merupakan penghinaan terhadap tradisi berpakaian orang Papua. Seolah-olah Koteka adalah pakaian yang hina, sehingga kita merasa jijik untuk mengakuinya sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Sekaligus ini merupakan bentuk kesombongan manusia yang seringkali memandang sesuatu yang ideal dari sudut pandangnya sendiri, sehingga perbedaan adalah sebuah aib yang harus ditolak.

Anda tau Koteka? Definisi Koteka menurut Wikipedia adalah “pakaian untuk menutup kemaluan laki-laki dalam budaya sebagian penduduk asli Papua yang terbuat dari kulit labu air (lagenaria siceraria)”. Jadi memang Koteka ini fungsinya hanya buat menutup kemaluan, sehingga jika harus dianggap sebagai “celana adat” sebenarnya masih jauh dari kriteria celana itu sendiri. Kalo masih bingung bentuk Koteka seperti apa coba minta wejangan Mbah Gugel deh.

Saya coba telusuri asal muasal Koteka dari berbagai sumber, dan akhirnya ada satu versi tentang sejarah Koteka yang cukup menarik. Diceritakan ada sepasang laki-laki perempuan bernama Emogiki dan Emobeku yang tinggal di sebuah ‘bukit surga’ yang disebut “Egaidimi”. Mereka tinggal di bukit itu dengan penuh kebahagiaan, tanpa ada rasa sedih, dengki, dan amarah selayaknya kehidupan surga. Kemudian atas bujukan Iblis sepasang manusia tersebut ‘berbuat dosa’ (tidak jelas dosa apa yang diperbuat, tapi kemungkinan yang dimaksud adalah hubungan seksual). Tuhan marah atas perbuatan mereka, dan mengusir mereka dari Egaidimi.

Baca Juga:  Honoring the Greatness of Our Women

Oh .. sepertinya kita gak asing dengan cerita ini ya? Oke kita lanjutken ceritanya.

Begitu terusir dari Egaidimi, baru sadarlah bahwa mereka berdua berada dalam keadaan telanjang alias bugil bin udo mblejet. Karena merasa malu mereka segera menutup kemaluannya dengan Koteka yang tumbuh subur di sekitarnya. Emogiki mengenakan “Koteka”, sementara Emobeku mengenakan “Moge”.

Sampai di sini saya yakin ada bunyi “TING” di benak anda sekarang. Oke kita selesaiken ceritanya tinggal dikit lagi.

Emogiki dan Emobeku bertobat dan memohon ampun kepada Tuhan. Tuhan pun bersedia mengampuni mereka asalkan mereka menjalani hidup dengan ajaran-Nya yang disebut “Kabo Mana” yaitu tide dimi (kesederhanaan), enaimo dimi (kebersamaan), ide dimi (semangat), ipa dimi (saling mengasihi), ahoo dimi (kerja keras), dan wadoo dimi(membangun). Koteka dan Moge sendiri adalah lambang kesetiaan kepada Tuhan. Dan sejak saat itu cara berpakaian itu diturunkan kepada anak cucu Emogiki dan Emobeku.

Nah, sampai di sini anda boleh cocokkan cerita di atas dengan Kitab Kejadian 3 : 1-24 di Alkitab dan QS Al A’raf : 11-27 di Alquran.

Jadi sebenarnya di balik pakaian Koteka yang sering anda hina-hina itu, tersimpan hikmah dan pesan-pesan luhur. Dan yang cukup bikin kaget, ternyata kita ga asing dengan kisah tersebut karena kita sering mendengarnya dari mulut pendeta, pastor, dan ustad!

Sampai pada titik ini, mudah-mudahan siapa saja anda yang biasa menghina Koteka akan merasa malu karena sudah bersikap sesombong itu.

Baca Juga:  REKAYASA SOSIAL atau PERMESINAN SOSIAL ?

Kita merasa peradaban kita lebih maju, dan menghina atau merasa iba kepada mereka yang disebut “primitif”. Pertanyaannya, apa anda yakin bahwa kita ini lebih bahagia daripada mereka?

Apa iya mereka yang hidup primitif tapi selaras dengan alam itu lebih tidak bahagia dibandingkan kita yang menjalani hidup dengan tolok ukur materi?

Bukannya mereka yang primitif itu tinggal ambil makanan secara bebas di alam dan bisa tidur nyenyak tanpa mikir utang, sementara kita di sini bingung harus mengatur pendapatan untuk bayar utang, bayar tarif listrik dan BBM yang mahal, dan beli handphone baru karena iri sama handphone teman sekantor?

Saya gak bilang bahwa Koteka itu mutlak harus dilestarikan, dan selamanya masyarakat Papua harus pake Koteka. Tapi kalau pun ada perubahan, biarlah perubahan itu berasal dari orang-orang Papua itu sendiri. Bukannya kita yang malah rempong urusan titit dan tetek orang lain!!

Lagian selama ini orang Papua juga tau diri kok. Di perkotaan mereka tau bagaimana berbusana yang pantas. Apalagi kalo udah keluar pulau saya ga ada kok liat mereka pake Koteka kecuali dalam acara-acara pentas kebudayaan.

Kita selama ini teriak-teriak “Save Papua”, tapi menerima keberadaan mereka seutuhnya aja gak mau. Pake menghina pakaian adat dan cara hidup mereka. Jangan-jangan yang kita cintai itu bukan orang-orang Papuanya, tapi sebenernya kita cuma cinta emasnya doank?

Ini mah bukan “Save Papua” tapi “Save Papua’s Gold”!

Parahnya lagi, emas yang kita cintai itu yang nikmati cuma segelintir kelompok manusia yang menikmati hidupnya sebagai antek-antek asing.

Jadi sebenarnya kalau saat ini rakyat Indonesia belum bisa menikmati emas Papua yang konon dicintai itu, kan ya lebih baik kalau kita mencintai masyarakat Papua sebagai saudara sebangsa dan setanah air dan bagian tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia?

Bukankah sebenarnya mencintai dan menghormati adat istiadat merekaadalah bentuk nyata dari “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab” dan “PersatuanIndonesia”?

***

Wima Brahmantya ketua dewam kesenian kabupaten blitar
Penulis: Wima Brahmantya ~ seniman dan budayawan, – Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.
Tags

Leave a Reply

Close