Opini

Mengaktifkan Imajinasi Melalui Kitab Suci

Oleh: Didik L. Pambudi

Mengaktifkan Imajinasi melalui Kitab Suci
Rocky Gerung (Foto: Google Image)

Di TV One, suatu waktu, Rocky Gerung bilang, yang intinya, “Bila fungsi fiksi adalah mengaktifkan imajinasi, maka kitab suci adalah fiksi”.

RG dalam pernyataan itu jelas bermaksud mengapresiasi kitab suci. Tidak ada niatnya melecehkan kitab suci apa pun.

Saya tentu pernah membaca kitab suci. Sebagai penganut Islam maka yang saya baca Alquran.

Selalu saja, saat membaca kitab suci, imajinasi saya melambung bahkan kerap jauh menuju masa yang miliaran bahkan mungkin triliunan tahun sesudah atau sebelum Masehi

Jika saya membaca tentang alam raya maka imajinasi saya melambung saat alam raya mulai diciptakan. Mungkin, triliunan tahun yang lalu.

Baca Juga:  Pramoedya & Nobel, dan Sastra Eksil Pasca 1965

Jika saya membaca tentang akhirat, maka imajinasi saya melambung, mungkin, miliaran tahun ke depan.

Saya selalu percaya, semua berawal dan berakhir kecuali Sang Pencipta.

Jika saya membaca tentang kisah-kisah para utusan-Nya, saya pun berimajinasi bagaimana tubuh dan wajah mereka.

Nabi Adam, saya bayangkan, bertubuh dan berwajah nyaris sempurna. Hanya wajahnya dipenuhi kerut karena penderitaannya terbuang dari surga.

Nabi Musa, saya bayangkan, bertubuh kekar dengan wajah tampan tetapi bersorot mata tajam. Menunjukkan ia pekerja keras, kharismatik, sekaligus cerdas dan berani.

Demikianlah, antara lain, saya berimajinasi saat membaca kitab suci.

Tentu saya percaya, semua orang berimajinasi saat membaca buku fiksi atau kitab suci. Justru yang aneh kalau tidak berimajinasi. Padahal kitab suci dipenuhi dengan beragam cerita.

Baca Juga:  Mengapa Menolak Pembangunan PLTN di Indonesia?

Kembali ke pernyataan RG. Simaklah secara baik. RG dalam pernyataannya jelas mengapresiasi kitab suci sebagai sarana kita untuk mengaktifkan imajinasi. Inti dari pernyataan RG, aktifkanlah imajinasi.

Lama di waktu lalu, Albert Einstein (si penemu teori relativitas) mengatakan, imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan terbatas, sedangkan imajinasi seluas langit dan bumi.

Einstein benar. Imajinasi tidak terbatas. Kita bahkan bisa membayangkan awal dan akhir alam raya ini meski kita bahkan bukan sekadar debu di dalamnya.

Tentu pula RG adalah orang baik ketika ia mengingatkan kita agar membaca kitab suci untuk mengaktifkan imajinasi.

Tegakah kita melihat orang baik bermasalah bahkan menderita?

Tags

Leave a Reply

Close