OpiniPendidikan

MEMBAWA RINDU DARI PULAU BURU

Oleh: Heri Priyatmoko

(Foto: Solo Societeit)

Tangisnya pecah. Pipinya basah oleh air mata kangen yang tak tertahankan. Tubuh kerempeng lelakinya dipeluk erat bak angin tak dibiarkan menerobosnya. Dua anaknya ikutan mendekap sembari sesenggukan (FOTO). Keluarga ini dipisahkan oleh tangan besi penguasa Orde Baru selama belasan tahun. Pria kurus berkalung rindu ini pulang dari kamp Pulau Buru tahun 1978 bersama ribuan orang.

Saban bulan September, bangsa ini mengingat tragedi kemanusiaan G30S. Segudang orang lugu dan tak tahu menahu dikorbankan alias di-PKI-kan. Lantas diasingkan ke Pulau Buru, jika selamat dari luweng atau Jembatan Bacem sebagai kuburan mengapung.

Tercatat, ada 10.000 orang dari Buru tercerai dari hangatnya pelukan keluarga. Lalu, dlm foto ini ada seruan merdu nan mulia dari penguasa. Kami petikkan: “marang masarakat diajab supåyå nampani para tilas tahanan G30S (PKI) ing daerahe dhewe-dhewe mau sacara wajar. Aja nganti ånå silah-silah antara tilas tahanan lan sing ora.” Sebaliknya, yg terjadi adl mantan tahanan tetap dicap buruk laiknya “sampah” masyarakat. Jg dikebiri hak politiknya, bahkan tumpes kelor.

Baca Juga:  Filsafat dan Cinta, Martin HEIDEGGER - Hannah ARENDT

Tentu dendam masa lalu bisa dihapus. Perlu rekonsiliasi dilambari cita rasa kultural. Rekonsiliasi tidak hadir dng sendirinya, namun bersumber dari kemauan kuat dari pelaku untuk mengakui kesalahan dan keikhlasan penyintas melabuh dendam. Rekonsiliasi mustahil terwujud tanpa pengakuan dan penerimaan kedua belah pihak. Tragedi berdarah itu cukup sekali saja…

***

MEMBAWA RINDU DARI PULAU BURU
Penulis: Heri Priyatmoko ~ Solo Societeit

 

 

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close