Opini

MAGIC BERNAMA LISTRIK

MAGIC BERNAMA LISTRIK
(Ilustrasi: Google Image)

Oleh: Iman Zanatul Haeri

Hanya 6 jam pemadaman listrik Di Pulau Jawa dan Bali, semua aspek kehidupan kita terhenti semua. Gadget mati. Lampu mati. Colokan tak berfungsi. Laptop tak bisa dinyalakan. Menyeduh kopi, dispenser mati. Magic Com mati. Masak nasi dengan magic com tidak lagi seperti sulap. Tidak ada lagi magic atau sulap. Ternyata semua magic dari aktivitas kita rahasinya sudah terbongkar: listrik.

Baru-baru ini pelaku penggrebekan buku “berbau PKI” mengklaim sebagai gerakan yang mengantisipasi ancaman bangsa. Sekarang kita rasakan sendiri, 6 jam pemadaman listrik tidak hanya mengancam konsep kebangsaan yang mereka anut dan hanya mereka yang paling memahaminya, tapi mengancam kehidupan kita semua. Saya sering mengajar tentang Pancasila. Tapi kalau listrik padam, semua selesai. Kelas gelap. Ideologi bangsa tak bisa diajarkan dirumah hantu.

Adik-adik remaja sudah merengek sejak siang karena listrik padam. Entah berapa persen hidup mereka serahkan pada sebuah gadget. Umumnya kenikmatan bersosial media, tapi ada juga diantara para pelajar memanfaatkan pembelajaran melalui gadget. Mereka semua merana.

Padamnya listrik yang terjadi hingga 6 jam berpengaruh terhadap pelayanan sinyal provider. Semua mati. Tak ada sinyal. Gadget tak bisa di charger. Sinyal tak ada.

Apalagi Manajemen informasi dalam dunia usaha dan birokrasi pemerintah terpusat di gadget anda. Sekarang gadget anda tak ada baterai maupun sinyal. Semua terhenti 6 jam. Anda bayangkan, berapa triliun kerugian yang ditanggung perusahaan yang sepenuh konsentrasinya berada didunia digital? (Dan banyak kerugian lain).

Baca Juga:  SEPTEMBER ADALAH BULAN INDONESIA

Para ojol yang biasa mangkal, kini tak lagi bisa mem-pick up calon penumpang. Beberapa yang gesit segera membuka tawaran tarif ojek manual. Namun sangat disayangkan bagi mereka yang menjadi generasi Ojek sejak era Ojol. Mereka tak tahu cara merebut penumpang di liarnya terminal-terminal.

Lampu merah mati. Setiap pengendara berebut giliran. Ada yang berkelahi. Kereta mati. MRT mati. Katanya, mereka terhenti ditengah jalan dan keluar melalui pintu darurat. Semua ini karena magic bernama listrik padam. Alfa dan indomaret memilih tutup. Transaksi tidak dapat dilanjutkan.

Semua makanan terpampang disana tapi kita tidak bisa mengklaim untuk memakannya hanya karena listrik padam. Manusia purba pasti akan menertawakan kita.

Segala pembayaran terhenti. Pusat data transaksi di perbangkan juga demikian. Kalau anda dalam kantong tak ada uang cash, sedangkan semua atm mati, maka bencana baru saja dimulai.

Bencana kita dimulai bukan dari buku-buku PKI, serangan hacker “pihak asing”, atau lemahnya gerakan politik Islam. Kehidupan kita diancam karena kita kehilangan cara bertahan hidup. Survival skill. Kita telah menyerahkan seluruh energi kehidupan pada listrik.

Baca Juga:  Penulis Sastra dari Papua: Mendokumentasikan "Memoria Passionis"

Penerangan, pekerjaan, komunikasi hingga melahap makanan, dibebankan pada listrik. Kehidupan yang serba digital dapat mati seketika hanya karena listrik mati. Apa yang dijanjikan kapitalisme Global, dan Harari tentang masa depan artificial intelejen, adalah omong kosong pemasaran untuk mengajak kita semua berinvestasi dan menyerahkan hidup pada dunia digital.

Matinya listrik sungguh saat yang tepat untuk memberitahu banyak orang bahwa banyak “kenyataan” yang tidak kita miliki. Kita yang sebenarnya amat miskin, tidak akan menyadari sebelum semua ilusi itu dipadamkan.

Kita memiliki banyak saldo di rekening, pulsa, paket internet, kartu kredit, jejaring, prestise, grup sosial, pengakuan kelompok dari gadget. Semua itu fana ketika listrik mati. Punya mobil? Nyalakan sampai bensin habis dan ternyata pom bensin pun tak lagi berfungsi.

Kemudian anda pulang kerumah. Tidak lagi bisa memesan makan melalui ojol. Tak ada listrik. Kalau kebetulan belum belanja bulanan, kita baru sadar isi dapur memang kosong.

Seandainya bencana ini terjadi berhari-hari, kita baru bisa memahami bahwa makanan disekitar kita adalah realitas yang sebenarnya dibandingkan makanan yang mungkin bisa kita beli di layar digital.

Kita yang merasa kaya setiap hari nyatanya bisa teramat miskin hanya karena listrik mati. Manusia purba pasti akan terheran-heran melihat rumah kita yang penuh dengan barang-barang yang tidak ada hubungannya dengan bertahan hidup. Padahal sangat penting memiliki pisau, makanan simpanan, api, kayu dan alat masak tanpa listrik. Ingat, kue tidak akan membuat kita kenyang. Anda bukan Marrie Antoniette.

Bersambung…

***

Penulis: Iman Zanatul Haeri, Guru Sejarah
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *