OpiniPendidikan

LIFE WISDOM SERIES: MENGAJAK ‘MOVE ON’

Oleh: Pongki Pamungkas

life wisdom series mengajak move on
(Foto: istimewa)

“ Dalam politik, tiada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Bila sesuatu terjadi, Anda bisa pastikan itu sudah direncanakan “ (Franklin D. Roosevelt).

Stasiun MRT Senayan Jakarta menjadi suatu tempat yang bersejarah bagi bangsa ini. Rencana pertemuan yang banyak dibicarakan, dan mungkin banyak diinginkan, antara dua tokoh bangsa ini, Presiden Jokowi dan Prabowo, terjadi disitu. Terjadi pada hari Sabtu tanggal 13 Juli 2019. Pertemuan bersejarah antara dua ‘petarung politik’, yang telah membuat akibat2 besar bagi bangsa ini, terjadi bukan di Istana Negara. Bukan di ‘istana’ Hambalang Prabowo. Bukan pula di hotel besar dan megah.

Soal tempat pertemuan ini makin memicu kemarahan kubu Prabowo, khususnya dari kelompok PKS dan sekelilingnya, yang sejak awal terbaca, tak hendak ber’damai’ dengan JKW. Tak terhindarkan, sumpah serapah berhamburan di media sosial, yang paling ramai. Selain di media cetak dan televisi.

Sumpah serapah kemarahan kubu Prabowo itu bersambut dengan, tentu saja, ejekan kubu Jokowi yang mentertawakan akhir dari pertarungan berdarah2 dalam pilpres lalu. Ejekan2 ini jelas bukanlah perilaku yang diinginkan JKW, yang selalu mengingatkan, “ Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake “ ( berperang tak perlu berombongan, menang tanpa mengejek dan mempermalukan ).

Dengan ejekan2 yang tak perlu itu, makin keras pula kemarahan para pengikut Prabowo yang sejak awal benar2 tak ingin dan menyangka Prabowo bakal kalah. Situasi ini tentu menyakitkan mereka. Bahkan para pengikut yang sangat marah, menyuarakan kemarahannya langsung ke Prabowo. Mereka mencela segala segi apapun yang Prabowo lakukan seputar pertemuan. Dan sebelumnya, mereka mencela melunaknya sikap Prabowo yang menyerahkan pertikaian pilpres ini ke jalur hukum.

Para pengikut, yang di bawah, kedua belah pihak, terus riuh-rendah saling hujat, adu argumen, saling ejek. Tiada gejala2 ‘move on’. Tak ada tanda2 berdamai dengan tulus ikhlas. Nampaknya tak mudah bagi sebagian orang, untuk menerima kenyataan. Tepatnya, menerima kekalahan. Sementara bagi pengikut JKW, nampak juga keinginan untuk terus meledek, mempermalukan pihak lawan. Mereka ini juga tak kuasa menahan diri untuk lebih bersikap matang sebagai pemenang.

Baca Juga:  Religious Rights Denied–Most U.S. Citizens Are Horrified

Seyogyanya, khususnya bagi para pengikut JKW ini, cukuplah sudah untuk berkata-kata, mencuit2 di sosmed dengan nada ‘meledek’. Toh jagoannya sudah menang ? Mau apa lagi ? Bukankah prinsip sportivitas pertarungan berpedang itu jelas, bila pedang musuh telah jatuh, kita wajib menghentikan pertarungan ?

Sedih melihat bangsa ini masih menyisakan pertikaian yang seharusnya sudah selesai dari kemarin2. Sedih merasakan cuaca politik sosial kita masih sumang, berkepanjangan.

Di sebelah sana, di atas-atas sana, tanpa mempedulikan dampak perpecahan di masyarakat, perburuan jabatan Menteri dan setingkatnya makin ramai. Tokoh2 partai2 mulai menunjukkan watak aslinya, mereka memburu jabatan. Bahwa masyarakat masih sebagian terbelah dan marah, mereka seolah2 tak melihatnya. Bahwa untuk melangkah dan bekerja bersama dengan efektif perlu ada persatuan solid segenap lapisan bangsa, mereka seakan tak mempedulikannya.

Bagi mereka kini, meraih sebanyak2nya posisi menteri bagi mereka dan partainya adalah fokus perjuangan mereka saat ini. Jabatan itu penting. Sangat penting, malah, bagi kelangsungan hidup mereka dan golongan politik mereka. Kenapa sangat penting ? Anda bisa menebak jawabannya.

Melihat perilaku ini, saya ingat, “ Politik itu tak ada kaitannya dengan moral “, kata Niccolo Machiavelli. Lupakan moralitas dalam berpolitik. Berpura-pura, berdusta, menggertak, mengumbar janji2 surga dan melupakannya adalah perilaku standar para politikus. “ Politikus itu dimana2 sama saja. Mereka berjanji membangun jembatan bahkan bila disitu tak ada sungai “, kata Nikita Kruschchev.

Saya jadi makin percaya ucapan ini, “ Politik itu hal yang teramat serius untuk dilimpahkan dan diandalkan ke para politikus “, kata Charles de Gaulle. Kenapa ? Pertama, “ Politik itu lebih sulit ketimbang ilmu fisika “, kata Albert Einstein. Mengelola politik itu tak semudah tugas2 pengelolaan bidang2 lain. Karena moralitas yang seharusnya menjadi etika kemanusiaan yang harus ditaati secara teguh dan konsisten, tak berlaku disana, sebagaimana kata Machiavelli. Moralitas itu bertentangan dengan prinsip dasar politik, “ tak ada kawan atau lawan abadi, kesemuanya tergantung kepada kesamaan atau perbedaan kepentingan “.

Baca Juga:  PANCASILA : “SYARIAT ISLAM ALA KEBANGSAAN”

Kedua, “ Politik adalah seni untuk mencari-cari persoalan, menemukannya di banyak tempat, mendiagnosanya secara salah, dan menerapkan solusi yang keliru “, kata Groucho Marxz. Dan yang ketiga, ada hubungannya yang kedua, “ Dalam dunia politik, kebodohan bukanlah merupakan halangan “, kata Napoleon Bonaparte.

Mohon maaf, jika saya katakan, kita telah menikmati banyak ucapan2, pemikiran2 dan perilaku yang bodoh dari politikus2 yang ada selama ini. Kebodohan demi kebodohan mereka pertontonkan tanpa sedikitpun rasa malu. Dan dengan kebodohan2 mereka itu, hebatnya, mereka mampu bertahan di atas, dalam jabatan pimpinan partai2 politik.

Dari pandangan Napoleon itu, masuk akal jika de Gaulle menyatakan kekhawatirannya atas pelimpahan masalah2 politik hanya kepada para politikus.

Yang penting bagi politikus adalah kemenangan. Kemenangan artinya jabatan dan kekuasaan atau tahta. Dan kita bisa lanjutkan, dengan adanya tahta berarti akan datang menyusul TA berikutnya, yaitu harta dan wanita. Suatu kenikmatan hidup yang menjadi dambaan kehidupan manusiawi.

Dalam konteks peristiwa ‘perdamaian’ ( tak boleh disebut sebagai rekonsiliasi ) di MRT itu, saya sebagai salah seorang warga negara yang tak berpolitik, mencoba mempelajari dan menyikapinya sebaik mungkin. Saya hanya berusaha tak hanyut dalam pertikaian ‘antar akar rumput’. Saya tak hendak menghujat atau mengejek kepada pihak2 yang berbeda pandangan dengan saya. Cukup, saya telah mencoblos, menggunakan hak pilih saya sesuai nurani saya. Saya pilih tokoh yang menurut pandangan saya yang terbaik dan cocok memimpin bangsa ini. Sudah. Itu cukup.

Saya tutup buku dengan segala tetek-bengek dunia politik yang sudah sangat lama penuh drama. Saya bersyukur atas terpilihnya Jokowi dan Ma’ruf sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Saya percaya beliau2 ini akan memilih para Menterinya dengan sebaik dan seefektif mungkin. Saya percaya ini akan terjadi, karena periode pertama kepemimpinan JKW tentu telah memberikan banyak pembelajaran untuk membangun Kabinet yang kuat, efektif, sesuai sasaran2 pembangunan yang ada.

Saya tak ingin ikut dalam arus polemik dan pertikaian yang kini masih berlanjut, tak berkesudahan. Saya merasa sudah waktunya kembali berfokus kepada tanggung-jawab2 saya sebagai bagian dari keluarga kecil saya, sebagai anggota masyarakat, sebagai warga NKRI. Saya mengajak Anda semua untuk bersedia mengambil sikap yang sama. Mari kita ‘move on’. Bismillah.

Jakarta, 19 Juli 2019

***

Penulis:
Pongki Pamungkas
Penulis buku-buku :
1) The Answer Is Love
2) All You Need Is Love
3) To Love and To be Loved
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close