OpiniPendidikan

LIFE WISDOM SERIES: “MEMBACA”, MEMPELAJARI KEHIDUPAN

Oleh: Pongky Pamungkas

“ Advis terbaik yang pernah saya peroleh, pengetahuan adalah kekuatan; dan untuk itu teruslah membaca “ ( David Bailey ).

Di masa ketika saya masih bersekolah SMA di Manado tahun 1971 – 1973 ( hampir 50 tahun lalu ), saya memiliki seorang ‘gadis kawan dekat’ di Malang. Di zaman yang sangat ‘primitif’ saat itu, kantor Pos adalah kawan terdekat bagi siapa saja berkomunikasi jarak jauh. Setiap bulan, salah satu hal yang paling menyenangkan dan merindukan adalah mendapatkan surat dari kawan saya itu. Di masa itu, satu2nya media yang paling afdol dan tersedia adalah komunikasi surat-menyurat, via kantor Pos Indonesia.

Membaca surat yang sarat dengan warna-warni curahan hati dari sang kawan itu adalah hiburan yang tiada tara, sangat menyenangkan. Dan tentu saya segera membalas surat itu, untuk menunggu lagi balasan dari Malang.

Sebagaimana kebiasaan banyak ‘old-school’, orang2 kuno, setiap pagi saya selalu memulai aktivitas keseharian dengan membaca 4 – 5 koran atau majalah. Belum lagi kalau saya menemukan buku2 ( cetak ) atau tulisan2 ‘on-line’ yang terus ‘menggoda’ perhatian dan fokus saya.

Membaca. Ya, membaca dalam artian secara harafiah, memahami dan menyerap aksara demi aksara, dari pelbagai model dan sarana, tak dapat kita pungkiri merupakan hal yang teramat positif. “ Advis terbaik yang pernah saya peroleh, pengetahuan adalah kekuatan; dan untuk itu teruslah membaca “, kata David Bailey, seorang bangsawan Inggris, fotografer fesyen. Membaca adalah pintu gerbang pengetahuan, dan pengetahuan adalah salah satu modal kekuatan diri. Suatu petitih anonim menuturkan, “ Sebuah buku adalah portal ajaib ke dimensi lain “.

Bahkan lebih jauh, “ Membaca mempertajam mimpi2 saya, dan semakin banyak membaca, membantu membuat mimpi2 menjadi kenyataan “, kata Ruth Bader Ginsburg, pengacara dan kemudian Hakim Mahkamah Agung Amerika.

Dalam perspektif yang luas, bukan secara harafiah, ‘membaca’ adalah mengamati, merenungkan dan mempelajari segenap aspek kehidupan. Membaca adalah mengenali kehidupan, mempelajarinya sebagai bahan pengembangan diri sendiri, sebagai manusia yang bertujuan hidup bahagia dan bermanfaat. Membaca adalah proses menyerap ilmu dan praktek kehidupan. Membaca adalah penggalian ‘bahan mentah’ untuk diolah menjadi ‘bahan siap pakai’ untuk berpikir, bertutur kata dan berbuat.

Baca Juga:  Atas Nama Selera Pasar

Seorang pemain sepakbola hebat seperti Messi dikatakan sebagai sangat jago bola, salah satunya karena ia pandai ‘membaca permainan’ lawan. Ia pintar dalam membaca strategi dan taktik bermain sang lawan. Dengan kemampuan ini, Messi menyusun siasat dan aksi2nya, untuk menyerang dan mengalahkan kesebelasan lawannya.

Seorang Jokowi sebagai seorang politisi, pastilah keberhasilannya ditunjang oleh kepandaiannya dalam membaca para kawan maupun lawan-lawan politiknya. Dimana pada awal2 kepemimpinannya sebagai Presiden, khususnya, banyak pihak yang memandang sebelah mata soal kemahirannya berpolitik. Ternyata dengan kepintarannya memahami atau membaca semua manuver2 para politikus yang harus dihadapinya, ia meraih sukses nyata sebagai Presiden yang membangun negaranya pada periode pertama kepemimpinannya. Juga ia berhasil dalam pemilihan Presiden dan terpilih kembali untuk periode kedua. Ia seorang ‘pembaca’ yang pintar.

Dalam dunia bisnis, kesuksesan suatu produk, sehingga menguasai sebagian pangsa pasar ( menjadi market leader ) ditentukan, sebagai faktor terpenting, oleh para eksekutifnya yang pandai dalam membaca keinginan dan kebutuhan pasar. Sebagai suatu bisnis yang pada umumnya berprinsip “ customer is a king “, dan seluruh proses bisnis mereka berfokus pada “ market in concept “, kepintaran membaca pasar adalah kekuatan dasar keberhasilan penjualan produk.

Bahkan dalam kehidupan berumah tangga, tak dapat dipungkiri, bahwa hidup rukun, aman, tenteram dan damai sangat ditentukan oleh kemampuan membaca situasi dan psikologi masing2 pasangan hidup. Seorang suami misalnya, yang sudah berpengalaman, harus tahu kapan waktunya dan cara menyampaikan suatu hal yang tak menyenangkan kepada isterinya. Sahutan datar, tanpa menoleh yang dilakukan isteri ketika suami pulang ke rumah dan menyapa isteri, adalah suatu sinyal ‘kuning’. Jangan lanjutkan percakapan. Dan demikian sebaliknya, sang isteri terhadap suami. Tanpa kepandaian ‘membaca’ ini, ‘kententeraman dunia’ bisa sangat terganggu.

Sebagai ayah dari 4 orang anak, saya harus terus belajar meningkatkan kemampuan saya membaca watak dan kepribadian masing2 anak. Bukan suatu pekerjaan mudah. Tapi harus saya lakukan, meskipun mereka semua bersaudara, sekandung dan sedarah, secara bawaan lahir ( genetika ) mereka berbeda2 dalam pola pikir dan perilakunya. Itu kodrat alamiah yang tak bisa diganggu gugat.

Baca Juga:  2018: The Good and The Bad

Membuat mereka memiliki semangat juang untuk ‘berani hidup’ dan memiliki filosofi “ bahagia dan bermanfaat “, adalah tantangan besar yang harus saya hadapi. Karena, itulah tanggung jawab utama orang tua sebagaimana seharusnya.

Dengan demikian, membaca dalam arti dan cakrawala luas, adalah suatu kegiatan sangat penting dalam mengarungi kehidupan di dunia yang tak mudah ini. Pernyataan itu jelas dan benar, karena “ Kehidupan adalah 10% yang terjadi pada Anda dan 90 % bagaimana Anda bereaksi terhadap 10 % itu “, kata Charles R. Swindoll, pendidik, penulis dan pembicara radio. Menegaskan Swindoll, kita tahu bahwa, “ kita tak dapat merubah arah angin, kita hanya mampu menyesuaikan layar perahu kita “.

Kita tahu betapa porsi kehidupan kita yang sebagian besar ada dalam posisi bereaksi terhadap aksi yang datang menimpa kita. Kita, secara alamiah, lebih banyak membangun respon terhadap stimulus yang datang, yang porsinya jauh lebih sedikit. Dengan porsi kita yang secara kodrati lebih banyak bersifat ‘reaktif dan antisipatif’ ini, tuntutan agar kita terus meningkatkan kemampuan ‘membaca dunia’ adalah suatu hal wajar. Apalagi, di masa ini, di zaman kini, bahwa perubahan2 demi perubahan, kita tahu, berlangsung sangat cepat.

Kembali saya kutipkan pandangan David Bailey di atas, “ Advis terbaik yang pernah saya peroleh, pengetahuan adalah kekuatan; dan untuk itu teruslah membaca “. Untuk lebih memperkokoh kekuatan itu, Lord Acton menyarankan, “ Belajarlah sebanyak-banyaknya, dengan menulis sebanyak2nya sebagaimana sebanyak mungkin membaca “.

Kalaupun kemampuan tulis-menulis kita tak memadai, sangat baik bila kita langsung bertindak dalam segala segi kehidupan, yang positif dan bermanfaat. Dan akan lebih baik lagi bila pengalaman2 bertindak itu dituliskan. Kembali, penulisan ini, disamping merupakan suatu sumber pembelajaran bagi orang lain, ia akan menjadi latihan bagi kita untuk meningkatkan keterampilan kita ‘membaca dunia’.

Benjamin Franklin, secara ringkas menganjurkan, “ Kalau tidak menulis sesuatu yang layak dibaca, lakukanlah sesuatu yang layak ditulis “. Hidup bermanfaat, khususnya dalam kaitan membaca dan tulis menulis, adalah anjuran yang tersirat dari anjuran Benjamin Franklin di atas.

Auguste Rodin, pematung kelas atas Perancis di zaman modern meneguhkan anjuran itu, “ Tak akan terjadi kemubaziran bila Anda memanfaatkan pengalaman2 Anda secara bijaksana “.

Jakarta 26 Juli 2019

***

Penulis: Pongki Pamungkas, Penulis buku-buku :
1) The Answer Is Love
2) All You Need Is Love
3) To Love and To Be Loved
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close