OpiniPendidikan

Lawan Narkoba Lewat Pendidikan Nasional!!

Oleh: Wima Brahmantya, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar

Apa yang disampaikan oleh terpidana mati gembong narkoba beberapa hari lalu sebenarnya bukan hal yang baru atau luar biasa. Ya begitulah adanya. Sudah jadi rahasia umum.

Saya ingat pembicaraan beberapa tahun lalu dengan seorang petinggi BNN (Badan Narkotika Nasional). Beliau mengaku pesimis terhadap pemberantasan narkoba di Indonesia.

“Lha gimana? Kita udah capek-capek kerja, eh narkobanya dijual lagi sama (oknum) aparat. Itu yang maen jenderal-jenderal lho Wim!”

Bahkan beliau juga membocorkan sedikit bagaimana modus operandi aparat yang ‘nakal’ untuk menjebak korban-korbannya. Caranya adalah dengan menyisipkan narkoba ke saku celana seseorang pada saat razia atau penggerebekan. Karena memang seringkali kepolisian ini semacam ‘ditarget’, sehingga kasusnya pun “diada-adakan” untuk memenuhi target mereka.

Bisnis Narkoba adalah bisnis yang menggiurkan. “tuhan” paling dahsyat di zaman ini adalah uang. Dan “tuhan uang” bisa membutakan siapa pun, termasuk petinggi negara atau aparat penegak hukum sekali pun.

Dan yang seperti ini tidak hanya di Indonesia. Hampir di seluruh dunia ada saja petinggi negara yang ‘bermain’ di bisnis narkoba. Bahkan kalau kita sempat nonton film “Kill the Messenger” yang berdasarkan kisah nyata, di situ dibongkar bagaimana bisnis narkoba dunia adalah salah satu bagian operasi intelijen CIA.

Jadi, masihkah ada harapan bagi anak anak kita?

Ada. Jika kita paham persoalan hulunya. Selama ini saya cenderung melihat pemberantasan penyalahgunaan narkoba di Indonesia masih seperti logika obat nyamuk. Ada nyamuk di sini semprot sini, ada nyamuk di sana semprot sana. Tapi lupa menelusuri pokok persoalannya di mana.

Saya sampai hari ini meyakini bahwa pendidikan adalah cara paling efektif untuk membentuk mental generasi bangsa. Keluarga adalah benteng pertahanan terkuat dalam membendung pengaruh negatif dari luar. Setelah keluarga, baru sekolah.

Baca Juga:  We are Human. But What is Human?

Lho, bukannya penyuluhan dan kampanye anti narkoba itu juga sudah diberlakukan sejak lama?

Betul, tapi tidak efektif. Seringkali materinya terlalu berat bagi orang awam. Menjelaskan tipe-tipe narkoba secara detail kepada anak anak itu tidak efektif sama sekali. Dan berapa kali sih satu sekolah didatangi petugas BNN atau Dinkes? Bisa setahun sekali rutin saja sudah bagus. Padahal pendidikan anti-narkoba itu harus berkesinambungan.

Atau barangkali memang program penyuluhan semacam itu hanya sekedar mengisi kegiatan untuk menghabiskan anggaran saja?

Di sini sebenarnya Negara harus mendayagunakan Pendidikan Nasional. Harapan saya bahwa Negara akan memulai pemberlakuan kurikulum anti-narkoba sejak dini, di mana para guru diberi pelatihan khusus tentang bagaimana ikut mengajarkan materi kampanye anti-narkoba.

Wow? Kenapa tidak?

Bukankah narkoba adalah salah satu momok terbesar bagi setiap orangtua, dan penghancur masa depan generasi muda bangsa?

Lalu kenapa tidak kita coba bentengi anak anak kita sejak dini?

Bayangkan jika sejak SD, kampanye anti narkoba itu diindoktrinasikan ke otak para pelajar, tentu saja dengan bahasa yang mudah dipahami mereka, maka kemungkinan ketika dewasa nanti mereka tidak akan mudah terjebak pengaruh-pengaruh buruk dari luar.

Apalagi jika disampaikan dengan kemasan multimedia yang menarik, saya kira akan lebih mudah dicerna oleh pelajar. Barangkali sesekali para pelajar perlu juga diajak untuk mengunjungi tempat rehabilitasi pencandu narkoba supaya gambaran orang orang yang menderita karena narkoba akan tertanam dalam pikiran anak-anak itu.

Baca Juga:  Guns and Human Blood: The United States Needs Help

Tidak perlu penjelasan berbelit belit dengan istilah-istilah rumit. Sebenarnya anak-anak itu butuhnya bahasa sederhana yang mengena.

Satu contoh, dari kecil orangtua saya selalu mewanti-wanti, “le .. bapak ibu pengen lihat kamu jadi orang gede. Jangan melakukan hal hal yang bisa membuat sedih ibu bapak ya. Kalo kamu sampai jadi pemabuk atau pemadat nanti bapak ibu bisa mati cepat.”

Kalimat itu sederhana, tapi begitu menancap di hati saya. Saya berusaha betul menjaga amanah dari orangtua. Padahal saya ini sebenarnya ga alim-alim amat loh. Ibaratnya, diajak ke masjid oke, diajak dugem wal clubbing juga oke. Dan beberapa kali saya lihat kawan saya “make”, dan meskipun pernah ditawari, saya menolak.

Alhamdulillah, sampai hari ini darah saya steril dari narkodew .. eh narkoba :p

Ingat sekali lagi bahwa narkoba adalah salah satu ancaman terbesar bagi generasi muda, maka Negara harus memberikan perhatian khusus soal ini.

Pendidikan yang berorientasi pada pembangunan karakter anak adalah benteng yang kuat dalam menghadapi segala pengaruh negatif.

Jika seseorang bisa didoktrin sejak kecil untuk membenci mereka yang berbeda warna kulit, suku, atau agama, saya kira tidak sulit untuk mengindoktrinasi anak-anak sehingga mereka merasa jijik dan benci terhadap narkoba.

Karena jiwa-jiwa yang tumbuh kosong, tanpa karakter, miskin moralitas, itulah jiwa-jiwa yang mudah takluk oleh genderang hedonisme yang ditabuh oleh “tuhan-tuhan uang”.

* cita-cita saya mendirikan sekolah dasar yang di dalamnya ada kurikulum pendidikan anti narkoba.

***

Wima Brahmantya ketua dewam kesenian kabupaten blitar
Penulis: Wima Brahmantya ~ seniman dan budayawan, – Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.

 

Tags

Leave a Reply

Close