Pendidikan

Kultur Universiter

Jimmy P Paat – Pengajar dan Aktivis Pendidikan, Editor MissJune News

Dua hari lalu saya menerima pesan singkat di WA dari seorang wartawan. Isinya  meminta tanggapan terhadap kampus yang menurut istilahnya dilanda prahara. Ungkapan ini menunjukkan bahwa universitas kita seolah-olah berada dalam krisis. Dan prahara itu di antarnya kasus plagiat, jual-beli ijazah, hilang kekritisan atau dilarang kritis.

Tentu jika kita mencoba berada dalam amatan, rasa, sentuhan sang wartawan, kita bisa, bukan hanya saya searah pikir, tetapi juga seperasaan dengan sang wartawan tersebut. Sebagai orang yang berada atau terlibat di dalam sebuah universitas pemerintah yang berkedudukan di Ibu Kota, saya pun dapat merasakan posisi sang wartawan.

Persoalan yang dikemukakan sang wartawan besar kemungkinan jika dilempar ke para pimpinan universitas atau para pengambil kebijakan perguruan tinggi bangsa ini. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi akan mengatakan bahwa mereka juga tidak saja telah melihat persoalan itu tetapi “lebih dari itu” yaitu melahirkan berbagai keputusan, aturan yang diminta atau harus dilakukan para pimpinan dan anggota universitas. Dan tujuan berbagai keputusan itu adalah antara lain untuk pengembangan universitas.

Sekalipun begitu, sebagai pengajar di salah satu universitas  milik pemerintah di Jakarta, saya merasakan ada yang masih perlu bicarakan, didiskusikan secara amat serius kaitannya dengan apa yang saya sebut membangun universitas sebagai ruang budaya. Ruang tempat membudayakan manusia muda bangsa ini. Yang saya maksud dengan budaya, mengacu pada Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, adalah buah dari budi manusia.

Dalam pengertian ini, universitas atau kampus universitas berkegiatan hanya dan harus berhubungan dengan menumbuhkan budi, yaitu akal, rasa, kehendak. Melalui pendidikan di universitas akal, pikiran dicerdaskan, rasa dihaluskan, dan kehendak diperkuat, untuk tetap mengikuti alur pikir Ki Hadjar Dewantara. Dengan begitu kultur universitas terbangun dengan kuat.

Baca Juga:  BAIK SEKALIGUS BURUK MEDIA SOSIAL

Tiga unsur kultur universitas itu dapat terbangun jika pusat-pusat penelitian atau yang disebut laboratorium, dan pusat-pusat kesenian atau bengkel-bengkel kesenian bukan saja harus ada tetapi berjalan dengan kegiatan yang padat dan berkualitas.

Ambil contoh, jika di sebuah universitas ada sebuah Prodi Sosiologi, maka tidak bisa tidak di prodi tersebut harus ada laboratorium sosiologi yang bisa terdiri dari berbagai klaster: klaster  sosiologi pendidikan, sosiologi kebudayaan dan lain-lain. Begitu juga jika dalam sebuah universitas ada fakultas pendidikan, sudah keharusan setiap prodi dalam fakultas memiliki laboratorium: lab. Pendidikan khusus; pendidikan anak usia dini dan seterusnya.

Di dalam laboratorium itulah  mahasiswi-a berelasi dengan para dosennya yang Profesor maupun yang Lektor Kepala dan Lektor. Mereka berelasi untuk berelasi dengan ilmu pengetahuan. Jadi bukan sekadar berelasi tetapi berelasi yang bertumpu pada ilmu pengetahuan. Ini dapat dilakukan, misalnya dosen dan mahasiswi-a mendiskusikan teori-teori, baik yang klasik maupun yang dianggap baru.

Diskusi bukan sekadar diskusi tetapi diskusi yang tajam dan dalam. Dengan demikian diskusi-diskusi itu tidak bisa tidak harus dipimpin oleh seorang Profesor. Paling tidak seorang professor selalu harus hadir dalam diskusi-diskusi di dalam Lab yang dia pimpin. Melalui Lab inilah dialog-dialog akademis yang berkualitas lahir. Semakin sering mahasiswi-a melakukan dialog akademis tidak saja mahasiswi-a akan semakin kuat dan tajam dalam berpikir ilmiah, teoritis, tetapi rasa mereka pun akan semakin halus karena pengunaan bahasa dalam berkomunikasi.

Baca Juga:  Kala Era Reproduksi Mekanis Melenyapkan Aura

Rasa, akal, kehendak juga dicerdaskan, diperkuat melalui keiatan berkesenian. Dalam konteks ini saya menyebut di atas perlu diciptakan bengkel-bengkel kesenian. Sama halnya dengan Laboratorium ilmu pengetahuan, bengkel-bengkel kesenian juga berisi atau anggotanya adalah mahasiswi-a dan dosen. Pimpinan bengkel ini sudah sepatutnya dipegang seeorang yang memang memiliki kemampuan dalam berkesenian. Tentu tidak harus dipegang oleh seorang Maestro pimpinan Bengkel kesenian, karena tidak selalu universitas atau perguruan tinggi non kesenian memiliki seniman yang diakui kemampuannya sebagai seorang maestro, tetapi pemimpin harus seorang yang memang terlibat dalam berkesenian dan tertarik dalam kegiatan yang biasa dilakukan bengkel kesenian (yaitu bereksperimen dalam kesenian). Dialog-dialog tentu saja harus hidup dalam bengkel kesenian, baik yang disebut dialog-dialog estetis maupun akademis.

Hemat saya dialog-dialog akademis, teroritis, estetis antar anggota universiter harus sangat hidup jika universitas mau disebut tempat budaya, tempat pencerdasan akal, rasa dan kehendak, seperti yang telah digaungkan Ki Hadjar Dewantara hampir seratus tahun lalu.

 

Harjamukti, Cibubur
7  April 2018, 3.54 AM

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close