NasionalOpiniPendidikan

Kita yang Sakit, Denny Siregar Tidak

Oleh: Tata Mustasya

Kita yang Sakit. Denny Siregar Tidak
Denny Siregar (Foto: istimewa)

Sepuluh tahun lalu atau sebelumnya, Denny Siregar tidak akan dipanggil “penulis”. Tulisan-tulisannya zonder gagasan, nihil argumen, dan miskin gaya penulisan. Karyanya menyedihkan dan berantakan, bahkan untuk sebuah penilaian yang paling santai sekalipun.

Dulu, untuk menjadi kolumnis muda sekalipun, kita harus menyampaikan gagasan segar yang mencerahkan, dengan penyampaian yang lugas dan menarik, didukung argumentasi yang kuat. Belum lagi kalau kita menyebut beberapa penulis yang selalu muncul dengan kolom dan esai yang memukau, sebut saja Emha Ainun, Eep Saefulloh, dan Goenawan Mohamad.

Apa salah Denny Siregar? Mungkin tak ada. Dia mungkin seseorang yang sedang belajar menulis, semaunya, dan tahu-tahu banyak orang gandrung. Lalu dia menikmatinya. Coba dia menerima sebuah peringatan, semisal komentar yang pernah saya baca di sebuah tulisan (penulisnya terlalu memaksakan diri, seingat saya) pada mading kampus: kamu memang bukan pujangga…

Baca Juga:  Capim Irjen Ike Edwin Bantah Isu Polri Ingin 'Kuasai' KPK

Atau mungkin Denny akan menjadi penulis besar jika kita tak memanjakan dan berani menuntut kualitas lebih darinya. Kenyataanya, dengan junk articles-nya, kita sudah memuja dia.Bahkan aktivis, akademisi, orang-orang berpendidikan tinggi menjadikannya sebagai acuan. Saya pernah tak sengaja menguping perkataan seorang lelaki yang kelihatan cerdas, , dari kelas menengah, dan cukup senior (boleh disebut kakek) kepada teman perempuannya di sebuah warung kopi, “Kalau menurut Denny Siregar…dst”

Salahkah Denny? Menurut saya tidak. Kalau dengan bakatnya yang pas-pasan, nalar yang ngawur, dia bisa sangat populer dan dihormati, itu hanya ikhtiar dia untuk bertahan hidup.

Kita yang sakit, Denny Siregar tidak. Dia hanya komedi yang tak lucu atau -paling buruk- sebuah tragedi atau aib kita bersama. Karena kita memberikan predikat “penulis” kepadanya.

Baca Juga:  Pernyataan Mahfud MD Soal Terjadi Pembungkaman Demokrasi Kampus Dibantah, UIN Jakarta Baik-Baik Saja

***

Kita yang Sakit, Denny Siregar Tidak
Penulis: Tata Mustasya ~ Regional Research Coordinator at Greenpeace Southeast Asia
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close