OpiniPendidikan

Kesabaran

Oleh: Wahyudi Akmaliah, Peneliti LIPI

Salah satu mental yang harus dibentuk oleh seorang penulis adalah mental mengenai kesabaran. Kesabaran tidak hanya proses saat mencari data, informasi, perspektif, ataupun saat menuliskan, melainkan juga saat mengirimkan ke sebuah media atau jurnal yang dikirimkan. Meskipun harus diakui, kesabaran di tengah kecepatan internet dan media sosial itu merupakan kejanggalan. Mau tidak mau kita harus melakukannya kalau ingin terus bertahan dalam dunia kepenulisan ini.

Dalam menuliskan artikel pendek, misalnya, kita harus bersabar untuk menunggu tulisan ditolak dahulu agar bisa mengirimkan ke media lainnya. Meskipun, dalam waktu menunggu tersebut, isu yang kita tuliskan mungkin sudah kadaluarsa dan tidak lagi menarik dengan isu yang terhangat. Namun, karena kita bukan pemilik media, kita harus tetap melakukan itu agar terhindar dari duplikasi karya dengan mengirimkan ke media lainnya.

Baca Juga:  Tulisan Kecil Tag Belamra

Tidak sedikit penulis yang langsung mengirimkan karyanya ke tempat lain karena dirasa karyanya belum dimuat. Padahal jeda waktunya hanya beberapa hari. Ketika muncul di media online yang berbeda secara bersamaan, itu tidak hanya merugikan diri sendiri, melainkan juga media online tempat kita mengirimkan tulisan. Di sini, jika tidak ditarik salah satunya, auto-plagiasi akan terjadi.

Terkait dengan kesabaran ini, saya belajar banyak dari menulis artikel jurnal internasional. Hampir dua tahun karya saya mengendap. Ketika sudah ditinjau dan dikoreksi lalu kemudian diterima untuk perbaikan, saya melakukan perbaikan itu dengan sebaik-baiknya. Namun, saat masuk proses editing yang awalnya diterima tiba-tiba ditolak dianggap tidak kekinian.

Baca Juga:  Refleksi tentang Sjahrir ‘Perjuangan Kita’

Marah dengan kondisi tersebut? Tentu saja. Tetapi saya yakin, semua penulis akan mengalami proses yang sama dan saya belajar untuk menerimanya dengan lapang dada. Sebab, ada jalan panjang dan sunyi yang harus dilewati oleh seorang penulis di tengah kecepatan media sosial yang membuat kita mudah untuk mendapatkan rekognisi.

Jika kamu memilih jalan dunia kepenulisan, ketekunan, kesunyian sekaligus kesabaran, mau tidak mau harus dilakukan. Jika tidak cukup menahan itu, lebih baik menjadi buzzers saja; cepat mendapatkan respon, dibagikan banyak orang, dan mendapatkan perhatian publik secara luas.

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close