Opini

Kampanye Hijab

kampanye hijab
(Ilustrasi: Google Image)

Oleh: Wima Brahmantya

Saya menghormati wanita berhijab.

Saya menghormati wanita berhijab, sebagaimana saya menghormati wanita berkebaya, wanita berkimono, atau wanita berkain sari.

Saya menghormati hak wanita mana pun yang ingin mengenakan busana yang ia kehendaki, sepanjang busana tersebut menghargai norma-norma kesopanan yang berlaku di bumi tempat ia berpijak.

Dan saya tidak akan mentolerir penghinaan terhadap busana tradisional manapun, meskipun busana tradisional itu terkesan “ekstrim” dalam pandangan sebagian orang. Ambil contoh : burqa atau koteka.

“Kampanye Hijab”.

Sungguh, saya berkeberatan dengan hal itu.

Kenapa harus keberatan? Begini logikanya. Sebuah kampanye didasarkan pada keyakinan bahwa produk yang dikampanyekan tersebut adalah “hal yang baik”. Di luar dari produk tersebut adalah “tidak baik” atau setidaknya “lebih buruk”.

Jika anda berkampanye “anti-rokok”, pesannya jelas bahwa “merokok itu tidak baik” dan “tidak merokok itu baik”. Jika anda berkampanye tentang “kebersihan”, pesannya jelas bahwa “bersih itu baik” dan “jorok itu buruk”. Sesederhana itu.

Lalu bagaimana dengan “Kampanye Hijab”?

Saya kira kita sebagai umat Islam seharusnya lebih peka dalam setiap ucapan dan tindakan. Sungguh, sebagai Anak Nusantara saya merasa tidak rela jika Ibu, nenek moyang, dan saudara sebangsa yang tidak berhijab harus dianggap “tidak lebih baik” dibandingkan mereka yang berhijab.

Saya tidak akan pernah rela ketika Ken Dedes, Tribhuwana Tunggadewi, R.A Kartini, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, dan wanita-wanita hebat lainya yang pernah menggoreskan tinta emas di Bumi Pertiwi ini harus dipandang sebelah mata hanya gara-gara mereka tidak berhijab.

Mungkin pembaca menganggap bahwa sikap saya ini “lebay” atau “over-reactive” terhadap isu hijab. Tapi pemikiran ini keluar dari apa yang saya amati setiap hari.

“Kampanye Hijab” cukup masif dikumandangkan di berbagai media. Silakan anda browsing dengan kata kunci “wajib hijab”, dan anda akan menemukan banyak sekali situs tentang hal tersebut lengkap dengan dalil-dalil ancaman bagi wanita yang menolak berhijab.

Baca Juga:  Cadar Rahmatan Lil ‘Alamiin

Media TV juga tidak ketinggalan, kita bisa temukan dengan mudah berbagai acara yang mengkampanyekan pakaian hijab bagi wanita Indonesia. Buku-buku? Banyak! Bahkan film-film bertema “Islami” kebanyakan menampilkan wanita yang akhirnya memilih berhijab sebagai puncak dari keimanan mereka.

Tidak hanya sekali juga saya bahkan mengetahui dalam diskusi Islam di grup Facebook ada orang-orang yang dengan arogannya menyuruh seorang wanita yang fotonya tidak berhijab untuk segera “menutup auratnya” dengan alasan tidak pantas dipertontonkan di hadapan umum.

Seolah-olah hijab itu menjadi penanda bahwa seorang wanita itu berakhlak, dan yang tidak berhijab menjadi “kurang berakhlak” atau “tidak berahkhlak”.

Sekali lagi, jika anda menganggap saya “lebay” dalam menyikapi soal hijab, anda perlu sekali-sekali berkumpul dengan “orang-orang tradisi”. Misalnya saya yang hidup di Jawa dan juga sebagai seorang aktivis kebudayaan yang sering bersinggungan dengan masyarakat Kejawen. Saya tahu persis bagaimana kekesalan mereka terhadap apa yang mereka sebut sebagai “Islamisasi”, karena dianggap telah menjauhkan masyarakat dari budayanya.

Di daerah saya, ada beberapa sekolah yang tidak lagi memberikan ruang untuk ekstrakurikuler menari setelah kepala sekolahnya mendapatkan ‘pencerahan agama’ sehingga mereka beranggapan bahwa menari tradisional itu banyak mudharatnya karena menampakkan aurat perempuan.

Ini belum lagi kita membahas tentang “Kampanye Hijab” yang sistematis melalui perda-perda, peraturan-peraturan perusahaan, peraturan-peraturan lingkungan yang secara terang-terangan memaksa wanita untuk berhijab.

Anda bisa lihat foto yang saya unggah untuk artikel ini. Foto itu saya ambil dari sebuah buku anak-anak berjudul “Pakaian Adat Nusantara”. Di gambar tersebut ada pasangan Aceh, Jawa, dan Bugis. Pertanyaannya : “SEJAK KAPAN WANITA JAWA DAN BUGIS MEMAKAI HIJAB SEBAGAI BUSANA ADATNYA???”

Anda bisa lihat, sudah ada upaya tersistem untuk membuat anak-anak kita lupa akan busana adat tradisional kita yang sesungguhnya!

Baca Juga:  Sumbangan Agung Bagi Demokrasi: Demokrasi Langsung

Jika hal-hal ini luput dari perhatian kita, maka jangan kaget jika 10-20 tahun ke depan anak-anak kita akan lupa betapa indahnya keaneka ragaman budaya yang ada di Negeri ini.

Dan “Kampanye Hijab” ini selalu menggunakan dalih agama sebagai pembenaran. Namun banyak yang tidak tahu bahwa urusan “hijab sebagai kewajiban” ini masih diperdebatkan oleh sebagian ulama. Jadi bagaimana bisa sesuatu yang masih bersifat “khilafiyah” (perbedaan pendapat) bisa sukses menjelma menjadi gerakan kampanye masif yang luar biasa dampaknya dalam mengikis kebudayaan asli Nusantara?!

Bahkan kata “Hijab” itu sendiri dalam Alquran TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN KERUDUNG ATAU PENUTUP KEPALA. Silakan anda cek sendiri ayat-ayat yang mengandung kata “Hijab” di QS 7:46, QS 17:45, QS 19:17, QS 38:32, QS 41:5, QS 42:51 dan simpulkan sendiri apakah benar ayat-ayat tersebut berhubungan dengan perintah menutup kepala wanita dengan kerudung! Kalau perintah mengenakan “khimar” atau “jilbab” memang ada, tapi hal tersebut sangat kontekstual dan tidak mengandung perintah yang tegas sehingga hal tersebut masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama.

Maka dari itu hemat saya, sebaiknya jika ingin berhijab silakan saja tanpa harus berkampanye mengajak orang lain apalagi memaksa, mengancam, dan merendahkan!

Saya juga memahami bagi sebagian kalangan yang meyakini bahwa hijab adalah kewajiban mereka merasa berkewajiban pula untuk menyampaikan ‘perintah agama’ yang diyakininya. Tetapi setidaknya, gunakanlah cara yang paling baik dengan tidak menyinggung perasaan mereka yang tidak berhijab.

Maaf, saya harus MELAWAN.

Saya MELAWAN, bukan dalam pengertian memusuhi hijab, memusuhi wanita berhijab, menyuruh wanita melepas hijabnya, atau menghalangi niatan wanita untuk berhijab (HARAP DIPERHATIKAN, supaya tidak keluar tuduhan bahwa saya “anti-hijab”).

Saya MELAWAN, dalam pengertian saya membuka kesadaran kita bersama bahwa Nusantara – negeri yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dengan kekayaan budayanya, dengan adat-istiadatnya masing-masing yang elok dan unik, dengan keanggunan wanita-wanitanya BERHAK MENDAPATKAN PENGHORMATAN PENUH dan TIDAK BOLEH DIRENDAHKAN hanya gara-gara mereka tidak berpakaian ala tradisi budaya bangsa tertentu!

QS 49 Al Hujuraat (Kamar-Kamar)

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

***

Wima Brahmantya ketua dewam kesenian kabupaten blitar
Penulis: Wima Brahmantya ~ Seniman dan Budayawan, – Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.

Leave a Reply

Check Also

Close
Close