OpiniPendidikan

Johannes Abraham Dimara

Pahlawan Nasional dari Papua

Johannes Abraham Dimara

Oleh: Andreas Joko Waskito

Meski Kerajaan Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Republik Indonesia melalui forum Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, namun ada satu yang belum disepakati, yakni melepaskan Papua dan menyerahkannya kepada Indonesia. Sebaliknya, Belanda malah memperkuat basis pertahanan di Tanah Papua. Hal ini kemudian direspon Indonesia dengan menggelar Operasi Trikora.

Maka, ribuan tentara pun dipersiapkan untuk merebut tanah Papua. Di antaranya, ada satu nama yang patut dicatat dengan tinta emas dalam sejarah Indonesia, berkat jasanya selama operasi Trikora; dia adalah Johannes Abraham Dimara. Ia putra seorang kepala kampung, Willam Dimara.

Mayor TNI Johannes Abraham Dimara, lahir di Korem, Biak Utara, Papua, pada 16 April 1916, adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Papua. Saat berusia 13 tahun, ia diboyong ke Ambon oleh Elisa Mahubesi. Dan tamat SD tahun 1930. Kemudian masuk Sekolah Pertanian di Laha hingga tahun 1940. Lalu dilanjutkan Sekolah Pedidikan Injil. Setelah lulus ia menjadi seorang guru injil di Pulau Buru.

Saat pendudukan Jepang, Dimara sempat mendaftar sebagai anggota Heiho. Dan sampai pada pertemuan Linggarjati, ia masih bekerja sebagai polisi di Pelabuhan Namlea, Ambon. Ia tidak tahu jika Indonesia sudah merdeka. Sebab wilayah Ambon masih berada di bawah kekuasaan Belanda. Ia baru mengetahui Indonesia sudah merdeka ketika Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), dengan kapal Sindoro merapat di pelabuhan Ambon. Rasa ingin tahunya mendorong ia naik ke atas kapal. Ia bertemu dengan Kapten Ibrahim Saleh dan juru mudi Yos Sudarso. Dari sinilah ia mengetahui bahwa Indonesia telah merdeka. Yos Sudarso juga minta agar Dimara membantu menyebarkan berita kemerdekaan dan merintis perjuangan di Indonesia timur.

Baca Juga:  Seruan ‘Boikot Pajak’ Arief Poyuono: Noooo!!!

Dimara kemudian menyarankan kapal berlabuh di Tanjung Nametek, tak jauh dari Namlea, karena lebih aman. Pada tahun 1946, ia ikut serta dalam Pengibaran Bendera Merah Putih di Namlea, Pulau Buru. Setelah pengakuan kedaulatan, Dimara bergabung dengan Batalyon Pattimura APRIS dan ikut dalam operasi militer menumpas RMS.

Pada 1950, ia diangkat menjadi Ketua OPI (Organisasi Pembebasan Irian Barat). Dan
Oktober 1954, Dimara menggelar infiltrasi ke pedalaman Papua bersama 40 anggota pasukannya. Namun, upaya ini diketahui dan pasukannya diburu Belanda. Kontak senjata pun tak terhindarkan. Sebelas anak buahnya tewas. Sedangkan Dimara dan pasukan yang tersisa dijebloskan ke dalam penjara di Digoel.

Pada 1961, dia ditunjuk sebagai salah seorang anggota delegasi RI ke PBB untuk membicarakan masalah Irian Barat. Dan tanggal 15 Agustus 1962, tercapai persetujuan New York Agreement yang mengakhiri konfrontasi militer. Dimara salah satu utusan dari Indonesia yang turut memperjuangkannya. Dia juga menjadi tokoh yang pertama kali mengibarkan bendera Merah Putih di tanah Papua.

Baca Juga:  Capitalism?? I love it!

Entah tahun berapa, pada kesempatan pawai memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus di depan istana, Dimara mengenakan rantai yang terputus di kedua lenganya. Bung Karno melihat dan terinspirasi untuk membuat patung pembebasan Irian Barat. Maka, dibuatlah patung pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng.

Dimara meninggal dunia pada 20 Oktober 2000 di Jakarta. Dia diangkat menjadi salah satu Pahlawan Nasional.

Johannes Abraham Dimara adalah seorang patriot dari tanah Papua, yang patut kita kenang jasa-jasanya.

** ditulis dari berbagai sumber

***

DASAR KONSEPSI PANCA CINTA
Penulis: Andreas Joko Waskito

 

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close