Gaya HidupOpini

Job vs Karier

Oleh: Rinto Andriono

Job vs karir
[Ilustrasi: Google Image]
Secara semena-mena, saya sejak dulu selalu membedakan job dengan karier. Dimana, sebagian besar orang kesulitan untuk membedakannya. Bahkan karena kebetulan sepanjang hidupnya selalu menjalankan pekerjaan yang sama, maka dia akan makin kesulitan membedakannya.

Dengan over PeDe, saya membuat garis demarkasi sebagai berikut, job adalah milik sebuah unit besar yang mempekerjakan kita. Unit besar tadi bisa berupa sebuah proyek, sebuah perusahaan atau sebuah kantor. Pokoknya sebuah entitas yang mempekerjakan kita, demi menjalankan fungsi tertentu di dalam unit tersebut.

Lantas, kepingan job akan membangun sebuah postur besar yang bernama karier. Seseorang yang sedang membangun karier, akan menyusun kepingan job hingga menjadikan karier sebagai posturnya. Beberapa orang, posturnya akan tersusun dari kepingan yang beragam. Sementara, orang yang lain, memiliki postur yang tersusun dari kepingan yang homogen.

Biasanya, seiring dengan usia dan kematangan, posturnya akan semakin sempurna. Hingga akhirnya menjadi semacam identitas bagi seseorang. Lantas, kita, para pirsawan bisa dengan mudah mengidentifikasi apa kepingan yang membangun dirinya. Berdasarkan rupa postur besar tersebut, maka publik bisa berekspektasi tentang fungsi apa yang bisa dijalankannya.

Baca Juga:  Setelah Cebong, Kampret, dan Sapi, Apa yang Tersisa?

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan. Job bukanlah milik kita. Kita bisa dengan mudah kehilangannya. Misalnya karena kinerja buruk, karena sakit atau karena kita bosan saja. Job adalah milik unit besar tadi. Yang keberadaannya karena unit besar masih membutuhkan fungsi tersebut. Bukan karena adanya diri kita.

Sementara, postur besar yang bernama karier justru sepenuhnya milik kita. Your personal legend! Meskipun kita kehilangan job, namun karier tetap menjadi milik kita. Tidak mungkin diakui sebagai milik unit besar mana pun yang telah mempekerjakan kita. Bahkan kalau kita bercermin, maka kita akan bisa melihat personal legend kita.

Beberapa orang bisa mengakurkan job dengan kariernya. Dengan suka cita dia memiliki kemelekatan dan kecintaan terhadap job-nya. Kariernya pun terbangun bagai postur yang begitu indah, tersusun dari kepingan cinta dan pengabdian. Entah job-nya tetap seumur hidup atau berganti-ganti, namun tetaplah berkilau.

Bagi para rohaniwan, orang-orang yang begitu spiritual, kariernya terbangun dari ketekunan mengabdi pada Tuhannya. Job-nya bisa berupa meditasi, zikir, puasa, ceramah atau laku mbening dan lain-lain. Perkara berkilau atau tidak, itu tergantung pada keseriusannya menjaga ketekunannya. Apakah tergoda pemilu atau fokus Tuhannya.

Baca Juga:  Filsafat dan Cinta, Martin HEIDEGGER - Hannah ARENDT

Lima bulan yang lalu, saya menjalani beberapa job sekaligus. Satu job dengan UN Agency untuk mendukung upaya recovery di Palu dan Lombok. Satu dengan International NGO dari Eropa untuk sustainable consumption. Dan beberapa job lain yang hanya menghabiskan waktu kurang dari seminggu. Dan sebagaimana nature-nya job, itu berlalu dengan cepat. Tidak ada kemelekatan.

Sekarang, job saya adalah atlit angkat berat, dengan rekor beban terangkat 1 kg. Kerjaan saya, adalah fisioterapi dan akupuntur. Namun yang istimewa adalah karier saya: penyintas stroke. Yang mana penyakit ini, bersama penyakit defisiensi lainnya, menghampiri orang-orang pada usia yang cenderung lebih muda.

So, jangan terlalu membuat kemelekatan pada job Anda, karena itu melelahkan. Pada akhirnya, toh, yang akan selalu melekat pada kita adalah karier. Menjadi seorang spiritual pun juga karier, sebagai penunjuk jalan ke keabadian.

***

Rumah untuk Pulang
Penulis: Rinto Andriono, Former Director at Institute for Development and Economic Analysis (IDEA)
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close