PendidikanSoekarno

Jejak Muso di Solo

Oleh: Andreas Joko Waskito

Jejak Muso di SoloMenyusul kepulangan Alimin 1946, pada Juli 1948 Muso pulang ke Tanah Air. Pada pertengahan Agustus ia tampil terbuka di Yogyakarta, untuk menemui kawan lamanya, Soekarno. Seperti tak mau kehilangan waktu, karena banyak agenda yang telah menunggu, ia segera melakukan berbagai kegiatan.

Selain dihormati sebagai tokoh senior, Muso diharapkan mampu memimpin perjuangan revolusioner. Namun ada satu hal yang terpenting, ialah kritik Muso yang diwujudkan dalam dokumen berjudul “Jalan Baru untuk Republik Indonesia”. Atau biasa juga disebut dengan “Resolusi Jalan Baru” atau “Koreksi Agustus”. Kritik Muso ini pertama kali disampaikan pada acara temu kader-kader pusat FDR/PKI di Yogyakarta, tanggal 25 – 27 Agustus 1948.

Resolusi Jalan Baru merupakan kritik atau koreksi terbuka Muso terhadap partai dalam bidang politik dan organisasi. Di antaranya dikatakan oleh Muso, “Kenapa orang-orang komunis justru membikin front dengan kaum sosialis. Padahal, seharusnya, orang komunis menggalang front bersama dengan kaum nasionalis. Sebab, kaum nasionalis anti-imperialis.”

Muso juga mengkritik sikap PKI terhadap Belanda. Ia menilai sikap PKI tidak tegas. Mengapa justru pada saat suhu revolusi semakin meningkat, PKI malah mengutamakan jalan diplomasi. Padahal, menurut Muso, “Titik perjuangannya harus melawan Belanda, dan mengembangkan perang gerilya di mana-mana.” Dan Muso berkali-kali mengingatkan mengenai bahayanya kaum trotskis.

Jejak Muso di Solo 1Selain Resolusi Jalan Baru, kedatangan Muso juga diikuti dengan terbentuknya CC Sementara, yang melibatkan semua tokoh yang tergabung dalam FDR. Dan rencana selanjutnya, akan menyelenggarakan Kongres Fusi pada akhir 1948. Kongres Fusi dimaksudkan untuk melahirkan satu partai, untuk selanjutnya membentuk CC yang definitif.

Dalam kegiatan sosialisasi Resolusi Jalan Baru, Muso berkunjung ke sejumlah daerah. Pada saat tiba di Solo, ia antara lain didampingi Amir Sjarifuddin dan Maruto Darusman.

Jejak Muso di Solo 2Sementara Aidit, Suhadi, dan Ruslan Widjajasastra tidak turut dalam rombongan ini. Ketiganya masuk dalam Tim Tiga, menjadi semacam petugas central partai. Tugasnya, antara lain mengkoordinasi semua kegiatan FDR/PKI di Karesidenan Surakarta, untuk melakukan gerakan-gerakan yang bersifat nasional. Jadi statusnya semacam perwakilan CC yang diperbantukan di Surakarta.

Baca Juga:  CARILAH DAHULU KERAJAAN POLITIK !

Adapun kegiatan Muso dan rombongannya selama berada di Solo, antara lain melakukan ceramah di depan para peserta Kongres Serikat Buruh Gula pimpinan Setiadjid di Gedung Sono Harsono (Bioskop UP/sekarang komplek pertokoan), yang terletak di sudut perempatan Pasar Pon. Lantas dilanjutkan ceramah kader partai di kantor SC Surakarta. Ceramah Muso dipandu oleh Alimin. Sedang Siswoyo bertindak sebagai notulis.

Jejak Muso di Solo 3Dalam ceramahnya, Muso menggarisbawahi mengenai rencana persiapan penyelenggaraan Kongres Fusi pada akhir 1948. Agenda pokok Kongres Fusi adalah melebur PBI, Partai Sosialis, dan PKI; menjadi satu partai, yakni PKI. Muso juga menegaskan kembali beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh semua kader partai; antara lain mengenai bahaya provokasi, pentingnya kongres fusi, selamatkan Resolusi Jalan Baru, dan bahayanya serangan tentara Belanda. Dan tidak sedikit pun menyinggung mengenai rencana pemberontakan.

Sebelum melanjutkan perjalanan ke Madiun dan Bojonegoro, pada minggu pertama bulan September 1948, Muso menyempatkan diri hadir dalam rapat umum yang diselenggarakan oleh FDR Surakarta di Alun-alun Utara Keraton Surakarta Hadiningrat. Rapat umum dihadiri puluhan ribu massa. Sehingga banyak kalangan menilai ini merupakan show of force PKI.

Selain sosialisasi Resolusi Jalan Baru, sekali lagi Muso mengingatkan pentingnya menggalang front untuk melawan Belanda. Karena, ketika itu, tentara Belanda sudah sampai di sebelah selatan Kota Salatiga, tepatnya di Tengaran.

Di tengah-tengah berlangsungnya rapat umum, ada kejadian yang tampaknya sepele, tapi sesungguhnya mengandung arti politik yang sangat penting. Kejadiannya begini.

Baca Juga:  Mengenal Koteka “Si Lambang Kesetiaan”

Pada penyelenggaraan rapat umum tersebut, posisi podium menghadap ke utara. Muso duduk di baris kursi terdepan, menghadap podium. Ia didampingi Amir Sjarifuddin, yang duduk di sebelah kiri. Sedangkan Siswoyo, sebagai salah seorang pimpinan FDR Surakarta, duduk di kursi baris kedua, persis di belakang Muso. Ketika kita sedang berbincang-bincang, tiba-tiba nyelonong seorang wartawan menemui Muso, lalu menyerahkan sepucuk surat.

Jejak Muso di Solo 4Secara pribadi Siswoyo mengenali siapa wartawan tersebut. Dia seorang wartawan yang berorientasi Murba. Sejenak kemudian Muso membuka surat, yang terdiri hanya satu lembar. Di lembar surat tertulis satu kalimat, yang ditulis dengan huruf besar. Sehingga Siswoyo yang duduk di belakang Muso, dengan jelas dapat membacanya. Kalimat yang tertulis dalam surat tersebut berbunyi: “Bung Muso, jangan percaya orang-orang PKI Van der Plas.” Muso, begitu pula Amir yang turut membacanya, tertawa terkekeh-kekeh.

Selesai rapat umum di Alun-alun Utara, hari itu juga FDR menyelenggarakan ceramah umum di Gedung Hadiprojo, Singosaren, Solo. Muso dan Amir Sjarifuddin juga hadir. Dalam ceramahnya, Muso kembali menjelaskan mengenai Resolusi Jalan Baru. Ia juga menyampaikan perkembangan pembangunan di Uni Soviet. Dan mengatakan bahwa Uni Soviet pasti akan membantu Indonesia.

Lantas pada bagian lain ceramahnya, ia menggarisbawahi mengenai pentingnya menggalang front nasional anti-imperialis dan meneruskan perang kemerdekaan. Esok harinya, Muso dan rombongannya, melanjutkan perjalanan ke Madiun untuk kampanye atau sosialisasi Resolusi Jalan Baru.

Perjalanannya ke Madiun, kelak sejarah mencatat, adalah akhir dari riwayat hidup dan perjuangan revolusionerrnya. Menyusul Peristiwa Madiun, dikabarkan pada 31 Oktober 1948 ia gugur, oleh “laras senjata” bangsanya sendiri.

Gugurnya Muso, sempat menjadi spekulasi pemberitaan di sejumlah koran. Sebab ada yang memberitakan Muso terbang ke Siam (Thailand)….

***

DASAR KONSEPSI PANCA CINTA
Penulis: Andreas Joko Waskito
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close