Blitar KitaBudayaOpiniPendidikan

Jejak “GBHN” di Candi Penataran

Oleh: Wima Brahmantya

Jejak “GBHN” di Candi Penataran
Candi Penataran di Blitar – Jawa Timur (Foto: Google Image)

* GBHN: Garis-Garis Besar Haluan Nusantara

Saya ini direktur utama, tapi juga merangkap tour-guide. Paling tidak dua minggu sekali saya datang ke Candi Penataran untuk memandu para bule yang magang di perusahaan saya.

Barangkali ada yang mikir, kok mau-maunya seorang boss jadi pemandu wisata. Ya memang persoalannya saya belum nemu seorang pemandu yang bisa menjelaskan sejarah candi, fungsi bangunan, berikut detail cerita pada relief …… pake bahasa Linggis! Beberapa staf saya bisa bahasa Inggris dengan baik, dan sudah saya bekali manual-guide sejarah Candi Penataran. Tapi begitu para bule nanya aneh-aneh dan minta penjelasan seputar relief, mendadak staf-staf saya itu bengong kayak iwak tombro. Ya sutra lah, untuk sementara saya memang harus rela merangkap jadi tour-guide. Kecuali kalo bule magangnya pas cowok semua, biasanya langsung saya serahkan ke staf urusan pandu wisatanya dengan senang hati.

Tapi sebenarnya selain persoalan teknis di atas, saya sendiri merasakan enjoy ketika menjelaskan sejarah leluhur kepada para bule tersebut. Ada rasa kebanggaan tersendiri ketika melihat ekspresi kekaguman mereka terhadap bangunan kuno cantik yang telah berdiri jauh sebelum masa Renaissance di Eropa tersebut. Juga bagaimana melihat keheranan mereka terhadap kemungkinan bahwa nenek moyang Nusantara pernah berlayar jauh hingga ke benua Amerika dengan keberadaan figur-figur di relief candi yang sangat mirip dengan suku Maya. Dengan kebanggaan saya juga menunjukkan kepada mereka panggung pertunjukan di mana setiap tahunnya para seniman Blitar, Nusantara, dan Dunia ‘manggung bareng’ dan di akhir acara berikrar bersama-sama untuk menjunjung tinggi persaudaraan dan perdamaian dunia.

Namun di luar kekaguman para bule, saya sendiri juga tidak pernah berhenti mengagumi kebesaran nenek moyang kita. Salah satu hal yang membuat saya kagum adalah bagaimana sejarah pembangunan Candi Penataran yang berkesinambungan oleh tiga kerajaan berbeda.

Baca Juga:  Reserse Narkoba Polres Blitar Tangkap Pengedar Sabu Saat Transaksi

Sejarah tentang Candi Penataran bisa dibaca di Prasasti Palah yang ada di bagian tenggara dekat tangga turun menuju area patirtan. Ya silakan dibaca sendiri sampe mewek, karena kisah dalam prasasti tersebut pake huruf Pallawa dengan bahasa Sanskerta (yang belum disediakan fiturnya oleh Google Translate). Di situ diceritakan bahwa Candi Penataran dibangun oleh raja terakhir Kadiri yaitu Prabu Srengga (Kertajaya) pada tahun 1194 M. Nama asli candi ini adalah “Candi Palah”, karena dibangun untuk memuja Bathara Palah yang menguasai Gunung Kelud. Candi yang pembangunannya dimulai oleh Kerajaan Kadiri ini kemudian dilanjutkan oleh Kerajaan Singhasari, dan akhirnya pembangunannya disempurnakan oleh Kerajaan Majapahit.

Apa yang hebat di sini? Bahwa pembangunan candi ini dilakukan secara berkesinambungan oleh tiga kerajaan yang berbeda, dan ketiganya sama-sama menjadikan candi ini sebagai “candi negara” alias pusat spiritual.

Padahal jika dilihat dari sejarahnya, hubungan antara ketiga kerajaan besar tersebut tidaklah harmonis. Kejatuhan Kadiri pada masa Kertajaya terjadi akibat serangan Ken Arok yang kemudian menjadi pendiri sekaligus raja Singhasari. Ini artinya pergantian era kejayaan dari kerajaan Kadiri ke Singhasari ditandai dengan peperangan.

Begitu pula dengan kemunculan Kerajaan Majapahit. Kekuasaan raja terakhir Singhasari, Kertanegara berakhir akibat serangan Jayakatwang yang merupakan keturunan Kertajaya yang berniat membalas dendam. Raden Wijaya yang merupakan menantu Kertanegara bersama-sama dengan Tentara Mongol berhasil menghancurkan pasukan Jayakatwang, dan kemudian Raden Wijaya naik takhta menjadi raja pertama Majapahit. Di masa Kerajaan Majapahit inilah Candi Penataran yang merupakan ‘warisan’ dari Kerajaan Kadiri justru dibangun secara besar-besaran.

Baca Juga:  Ibunda Jokowi Liburan ke Blitar Kunjungi Perpus Dan Makam Bung Karno

Artinya, walau hubungan antara ketiga kerajaan tersebut ditandai oleh peperangan dan pertumpahan darah, tapi untuk memelihara ‘aset berharga’ mereka bisa menghilangkan ego masing-masing. Karena mereka paham bahwa Candi Penataran adalah kebanggaan bersama, dan rumah yang sama untuk memuja Sang Pencipta.

Lihat saja candi ramping yang berada di bagian depan kompleks Candi Penataran. Bangunan yang dinamakan “Candi Angka Tahun” (karena ada pahatan angka tahun pembangunan di pintu masuk) ini dibangun oleh Kerajaan Kadiri. Tapi oleh Kerajaan Singhasari dan Majapahit candi ini tidaklah dihancurkan, malah dipercantik. Sementara di era modern ini berapa banyak monumen penting di suatu daerah yang dirobohkan dan diganti oleh para pejabat baru yang menggantikan pejabat sebelumnya. Jangankan monumen, lha wong nomenklatur saja seringkali berubah-ubah setiap kali ada pergantian pejabat, seolah-olah setiap pejabat ingin terlihat “eksis” dan lepas dari bayang-bayang pejabat sebelumnya. Beberapa kali kita dibingungkan oleh istilah US, EBTANAS, UAN, UNAS dsb (jangan lupa, selalu ada anggaran tersendiri dari negara untuk sekedar perubahan nama).

Maka di sini sebenarnya prinsip dasar GBHN yang salah satu keunikan dari NKRI (yang sayangnya sudah dihilangkan sejak Amandemen UUD’45) sudah dilakukan oleh nenek moyang kita terdahulu. Pembangunan dilakukan secara berkesinambungan dengan prinsip saling melengkapi, bukan saling meniadakan. Seperti kebijakan Repelita di zaman pak Harto dulu.

Sementara hari ini kita sering saksikan para fans dan cheerleaders eksis di medsos membanggakan pembangunan pujaan hatinya masing-masing. Para fans om Joko selalu membanggakan pembangunan infrastruktur, seolah-olah presiden-presiden sebelumnya tidak ada yang bisa membangun infrastruktur. Lalu kemudian para fans pak Beye menjadi baper, ga mau kalah, terus ikut memamerkan hasil pembangunan infrastruktur di zaman pak Beye. Sementara mereka lupa bahwa pembangunan infrastruktur-infrastruktur tersebut sebagian besar pastinya diinisiasi presiden sebelumnya, karena demikianlah hakikat pembangunan nasional itu harus berkesinambungan.

Apakah kita bisa meneladani kebesaran hati para nenek moyang kita terdahulu? Atau justru mental kita saat ini benar-benar kerdil hanya berpikir kepentingan ego golongannya masing-masing?

Itulah salah satu pelajaran dari Candi Penataran yang bisa saya dapatkan. Itulah kenapa saya tidak bosan-bosannya mengantar turis ke tempat ini dan menjelaskan sejarah candi ini dengan rasa kebanggaan.

***

Wima Brahmantya ketua dewam kesenian kabupaten blitar
Penulis: Wima Brahmantya ~ Seniman dan Budayawan, Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.
Tags

Leave a Reply

Close