Opini

ISLAM YANG LENGGANG

Oleh: Tyo Prakoso

ISLAM YANG LENGGANG
{Ilustrasi: Google Image)

Setelah dibikin gusar gegara khotbah-yang-gitu-deh, saya lekas pulang dan belah ketupat. Saya rasa ketupat en sayur krecek jauh lebih bermanfaaat ketimbang khotbah yang penuh kebencian. Apalagi untuk perut yang lapar.

Sambil makan ketupat, tivi saya nyalakan. Liputan langsung dari masjid Istiqlal. Ust. Yusuf Mansur sebagai khotib. Entah apa judul/tema khotbahnya.

Yang menarik bagi saya ialah kosakata yang keluar dari beliau, perpaduan antara kosakata Betawi, Arab, dan Inggris. Maksud saya, kosakata seperti ‘saban’, ‘kalo’, ‘lagimana’, ‘duit’, ‘bocah’ dan lainnya, bersanding dengan kosakata kekinian seperti e-market, start up, e-commerce.

Ust Yusuf Mansur mencoba menemukan titik antara kisah Kurban Nabi Ibrahim-Ismail dengan peluang ekonomi umat Islam di era kiwari.

Baca Juga:  "Nikah Beda Agama, Kenapa Tidak?" (Bag 1)

Saya pikir itu keren. Lebih keren lagi karena Ust. Yusuf Mansur enggak menutupi kebetawiannya. Logat betawinya nyentreng banget.

Entah bagaimana saya ingat Gus Dur: kalau kamu Islam, en menghilangkan dan menafikan identitasmu–Islam yang kau jalani bukan Islam Rahmatan lil Alamin. Bahkan bukan Rahmat bagi dirimu sendiri.

Maksudnya, kira-kira begini: kalau kamu Islam dan sekaligus orang Jawa, jadilah Islam yang tetap menjadi orang Jawa. Gemar nyekar, sarungan, dan datang tahlilan. Tentu saja dengan pulang membawa besek.

Begitu juga dengan Sunda, Batak, Aceh, Ternate, Dayak, Betawi, Tiongkok, dan identitas lainnya.

Terima kasih Ust Yusuf Mansur. Saya melangkahkan kaki untuk nyekar dengan lenggang!

Baca Juga:  Siaran Pers: Apresiasi Percepatan Restitusi, Namun Perlindungan Hukum Juga Penting

***

Penulis: Tyo Prakoso, Redaktur Gerakan Aksara

 

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close