OpiniPendidikan

IRONI SANG PEMULA (‘Monyet’ dalam ‘Bumi Manusia’)

Oleh: Manuel Kaisiepo

IRONI SANG PEMULA
(Foto: koleksi probadi penulis)

“Siapa kasih kowe ijin datang kemari, monyet !”

……………………..

“Kowe kira, kalo sudah pake pakean Eropa, bersama orang Eropa, bisa sedikit bicara Belanda lantas jadi Eropa? Tetap monyet !”………..

(Herman Mellema kepada Minke, dalam ‘BUMI MANUSIA’ karya Pramoedya Ananta Toer).

****

Saya tidak menonton film ‘Bumi Manusia’-nya sutradara Hanung Bramantyo, yang lagi laris di kalangan penonton remaja, generasi millenial.

Kata teman yang sudah menonton, film yang diangkat dari novel Pramoedya Ananta Toer itu memang “disesuaikan” dengan selera millenial saat ini.

Saya tidak menonton filmnya, hanya baca bukunya, sejak pertama kali diterbitkan tahun 1985, yang diberikan sendiri oleh pengarangnya, Pramoedya Ananta Toer, bersama bukunya yang lain, SANG PEMULA (1985).

‘BUMI MANUSIA’ adalah sekuel dari tetralogi (‘Bumi Manusia’, ‘Anak Semua Bangsa’ , ‘Jejak Langkah’, dan ‘Rumah Kaca’), mahakarya Pramoedya Ananta Toer selama masa pembuangannya di Pulau Buru, yang membuat pengarangnya masuk nominasi peraih Nobel Sastra.

Saya baca berulangkali tetralogi ini,….dan selalu terpukau, khususnya kepada tokoh utamanya, MINKE.

Kita semua tahu, Minke adalah jelmaan fiksi dari tokoh historis R.M. Tirto Adhi Soerjo (TAS), salah satu perintis nasionalime Indonesia modern, juga “bapak pers” pelopor jurnalistik di Indonesia. Dia juga perintis dalam banyak bidang lain,…..”Sang Pemula” !

Seakan sudah menjadi takdir.

Setiap perintis atau pemula, yang menjembatani “dunia lama” menuju “dunia baru”, akan menghadapi dilema yang sama. Dia tercerabut dari dunia lamanya, teralienasi; tapi juga tidak sepenuhnya diterima di dunia baru.

Baca Juga:  Mahathir, Rizal Ramli, dan Pulau Malaria

Bahkan di dunia baru itu, dia akan mengalami berbagai reaksi negatif, termasuk yang bernada rasialis, seperti yang dialami tokoh TAS dan Minke.

Seperti ditulis Prof. Dr. A. Teeuw, tokoh Minke dalam ‘Bumi Manusia’ “….menampilkan kelahiran manusia Indonesia modern, langsung menembus #deritaganda: perpisahan pahit dengan dunia feodal tradisi Jawa, dan penghinaan konfrontasi terhadap sistem kolonial dalam wajah aslinya yang jahat….”.

Maka bukan tanpa alasan Pram memilih nama Minke sebagai plesetan ‘monkey’ (monyet). Itulah cara Pram mengejek rasialisme yang dipraktikan kolonial Belanda, yang menganggap rendah pribumi Jawa.

“Pramoedya Ananta Toer mengangkat persepsi orang Eropa tentang orang Jawa sebagai monyet-monyet ke dalam tingkat retorika yang lebih tinggi”, tulis Prof. Frances Gouda dalam bukunya, DUTCH OVERSEAS, Colonial Practice in the Netherlands Indies, 1900-1942.

Rasialisme yang begitu nyata, tulis Frances Gouda, tercermin dari ungkapan Belanda yang populer masa itu : “…al draaght een aap een gouden ring, het is en blijft een lelijk ding” (walaupun mengenakan cincin emas, seekor monyet tetap saja makhluk buruk rupa) !

Itulah nasib yang dihadapi Minke, tokoh fiksi dalam ‘ Bumi Manusia’, sekaligus tokoh historis Tirto Adhi Soerjo, seperti diuraikan Pramoedya dalam karya nonfiksinya, sebuah kajian sejarah yang menantang, SANG PEMULA (Hasta Mitra, 1985).

Baca Juga:  Petarung, Melaporkan dari Hati yang Gelap

Ironisnya, peran Tirto Adhi Soerjo sebagai perintis nasionalisme Indonesia modern, #sengaja dihilangkan dalam dokumen sejarah yang dibuat Belanda.

Hal itu bisa dimaklumi. Bukankah sejarah Indonesia era itu “ditulis dari loji-loji gudang dan di atas geladak kapal-kapal VOC”, seperti kata sejarawan van Leur ?!

Pramoedya mengungkapkan (berdasarkan dokumen dan data historis) bahwa C. Snouck Hurgronje, G.A.J. Hazeu dan D.A. Rinkes adalah para ilmuwan Belanda pengabdi politik kolonial yang telah membuat kesengajaan, sehingga seorang inisiator utama kebangkitan nasional seperti Tirto Adhi Soerjo menjadi ‘non-person’ dalam sejarah bangsanya sendiri.

Tapi lebih ironis lagi, setelah Indonesia merdeka, peran kesejarahan TAS sebagai “sang pemula” juga kurang diakui bangsanya sendiri; tidak mendapat tempat yang proporsional dalam historiografi Indonesia modern.

Itulah nasib, ironi sekaligus tragedi yang dialami tokoh historis Tirto Adhi Soerjo (TAS).

Lebih ironis lagi, yang justru dikenal di kalangan milenial saat ini adalah sosok fiksi-nya, Minke, lewat filmnya Hanung Bramantyo.

Dia dikenal bukan sebagai ‘Sang Pemula’, tapi sebagai pemuda millenial dengan kisah asmaranya…!

Memang, Tirto Adhi Soerjo adalah tokoh yang sengaja “dilupakan dan terlupakan” !

***

Manuel Kaisiepo, MissJune News
Penulis: Manuel Kaisiepo ~ Pengamat Politik 
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close