OpiniSoekarno

Indonesia dan Soekarno

Oleh: Wima Brahmantya

Memperingati 49 tahun wafatnya Sang Proklamator saya angkat lagi tulisan yang saya buat 7 tahun lalu.

Soekarno

“Indonesia? Ohh … Sukarno!“

Saya terkejut mendengar nama itu keluar dari mulut seorang anggota kontingen Uzbekistan, dalam festival tari sedunia di Korea Selatan tahun lalu. Penari wanita yang cantik itu mengatakan bahwa dirinya berasal dari kota Bukhara, di mana terdapat makam Imam Bukhari yang pernah dipugar oleh Sukarno.

Wow!

Mungkin sebagian kalangan menganggap Sukarno sebagai sosok yang jauh dari figur “Muslim” ideal. Dia tidak pernah terlihat mengenakan sorban, berjubah, memegang tasbih, tidak pula ada tercatat beliau sebagai orang yang ‘pandai’ dalam berdalil dan doa-doa. Bahkan semua pasti tahu bahwa beliau adalah sosok flamboyan yang sangat menggemari wanita-wanita cantik.

Fakta-fakta ini membuat sebagian orang yang merasa dirinya sangat ‘agamis’, boleh jadi memandang sebelah mata dan tidak pernah terpikir sedikit pun untuk meneladani akhlak seorang Sukarno. Tidak sedikit pula orang memberi cap “Islam Abangan” pada diri Sukarno, yang salah satunya adalah kenyataan bahwa ibunda Sukarno adalah seorang penganut agama Hindu.

Benarkah demikian? Tidakkah kita sedang terpasung oleh hal-hal yang bersifat fisik dan kulit belaka, tapi melupakan yang hakiki dan esensi?

Jika anda pernah membaca buku terkenal yang ditulis oleh Soekarno, “Di Bawah Bendera Revolusi”, anda akan mengetahui ada tiga fase dalam perjalanan jati diri seorang Sukarno, yaitu : fase nasionalis, fase sosialis, dan fase agamis.

Dan Sukarno adalah orang yang gigih dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam, setidaknya dalam pandangan saya!

Sukarno memang bukan tipikal seorang Muslim yang syariat-minded, dan ia memang terkesan tidak mau pusing dengan ide-ide seputar “penegakan syariat”. Bahkan beliau pernah mengeluarkan kata-kata ‘nakal’ untuk menyindir orang-orang yang jengah setiap melihat para wanita yang dianggap tidak berpakaian “Islami”. Dengan entengnya Sukarno berkata (kurang lebih begini) :“Kalau tuan takut berdosa melihat aurat wanita, kenapa gak sekalian mata tuan saja yang ditutup pake plester?“

Tapi kebengalan Sukarno mungkin membuat sebagian orang lupa, bahwa ia adalah manusia yang tidak bisa berdiam diri melihat anti-syariat Islam yang sebenarnya sedang terjadi di muka bumi ini : diskriminasi suku bangsa dan ras, penindasan terhadap kemanusiaan, perpecahan umat, dan ketidakadilan sosial.

Sukarno bukanlah orang yang sibuk oleh ‘teori-teori agama’, namun beliau bisa spontan menangis sedih ketika melihat bangunan masjid di Leningrad-Rusia (sekarang namanya St. Petersburg) hanya difungsikan sebagai gudang. Dunia mungkin bertanya-tanya, lobi-lobi apa yang dilakukan Sukarno sehingga pemimpin Uni Sovyet pada waktu itu, Nikita Kruschev, bersedia mengabulkan keinginan Soekarno untuk mengembalikan fungsi masjid di kota tersebut sebagai tempat ibadah, tanpa syarat! Dan jika anda berkesempatan untuk berkunjung ke St. Petersburg, anda akan mengetahui betapa berterimakasihnya kaum Muslimin Rusia terhadap jasa-jasa Sukarno.

Baca Juga:  AHY, Pajak, dan Politik

Sukarno adalah manusia pertama dalam sidang PBB yang berani secara lantang membacakan ayat Alquran yang berbicara tentang persamaan derajad sesama manusia :

QS 49 Al Hujuraat (Kamar-Kamar)

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Boleh jadi pada saat itu pemimpin-pemimpin dunia Arab merasa tercoreng wajahnya, melihat seseorang dari negeri nun jauh di sana-negeri dunia ketiga, ternyata lebih memiliki nyali untuk berbicara tentang ajaran yang diyakininya, dibandingkan mereka yang mengklaim lebih dekat dengan ajaran Islam, namun negerinya sibuk berperang satu sama lain, dan para ulamanya sibuk memproduksi fatwa-fatwa halal dan haram.

Ketika dunia harus terbagi dan berkiblat ke salah satu blok penguasa dunia, yaitu Blok Barat (yang dipimpin AS) dan Blok Timur (yang dipimpin Uni Soviet), Sukarno dengan berani mempelopori gerakan non-Blok, mempersatukan bangsa-bangsa dunia di dalamnya, menyadarkan mereka untuk tidak larut dalam permusuhan yang dikobarkan para imperialis, dan menjunjung tinggi perdamaian dunia.

Ketika dunia kebingungan menentukan ideologi mana yang lebih baik, antara ideologi kapitalisme (yang dipelopori AS dan sekutunya) dan ideologi komunisme (yang dipelopori Uni Soviet dan China), hanya satu orang di dunia ini yang penuh percaya diri menawarkan ‘ideologi alternatif’ yaitu Panca Sila, yang banyak mengambil nilai-nilai ajaran Islam, agar tercipta keadilan sosial bagi seluruh bangsa-bangsa sedunia. Dialah Sukarno!

Tidak ada yang bisa mengelak dari fakta bahwa negeri-negeri Eropa yang kaya raya dan makmur saat ini sebagian besar adalah hasil dari merampok dan menjarah kekayaan negeri-negeri dunia ketiga di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Sebaliknya, tidak ada yang bisa mengelak bahwa telah lahir negeri-negeri dunia ketiga, yang sebelumnya terjajah selama berabad-abad oleh bangsa Eropa, telah mendapatkan kembali kehormatan dan jati dirinya sehingga berani memerdekakan diri, tidak lepas dari andil ‘provokasi’ Sukarno, seorang putra Nusantara!

Baca Juga:  Fasisme Baru: RASIALISME dan POPULISME

Inilah salah satu manifestasi dari ajaran Islam yang bahkan oleh Alquran disebut-sebut sebagai perjuangan yang sangat berat, yaitu membebaskan manusia dari perbudakan, sebagaimana disebutkan dalam QS 90 (12-13) :

QS 90 Al Balad (Negeri)

Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) membebaskan budak (manusia) dari perbudakan .

Perbudakan tidak hanya ada di abad pertengahan, namun akan terus ada sepanjang waktu dalam berbagai dimensi kehidupan. Indonesia, yang (katanya) berpenduduk “Muslim” terbesar di dunia ternyata belum berhasil memerdekakan manusia dari perbudakan.

Nasib bangsa ini masih diperbudak oleh kepentingan elit politik penguasa negeri ini. Negeri kita yang katanya gemah ripah loh jinawi ini masih menjadi pelayan atas kepentingan korporasi dan asing, sehingga kekayaan alam milik kita secara terang-terangan dijarah dan dieksploitasi secara sistemik di depan mata kita sendiri, tanpa ada daya bagi kita untuk menghentikannya.

Di negeri ini masih banyak “budak” yang bekerja di bawah standar upah kerja minimum, sehingga kesenjangan antara si kaya dan si miskin semakin lebar.

Nilai-nilai keislaman itulah yang diperjuangkan oleh seorang Sukarno, sebelum pada akhirnya konspirasi besar dunia menjatuhkannya di tengah jalan!

Jadi …… apa lagi yang bisa saya katakan untuk menilai ‘keislaman’ seorang Sukarno?

Apakah keislaman kita akan tetap difokuskan pada hal-hal yang bersifat simbolik-ritualistik seperti yang terjadi saat ini, ataukah kita berani memperjuangkan keislaman kita lebih jauh untuk semangat persamaan derajad sesama manusia, pembebasan manusia dari perbudakan, persatuan umat, dan keadilan sosial, sebagaimana telah diperjuangkan seorang Sukarno?

Sukarno tetaplah seorang manusia, bukan Nabi, bukan malaikat, yang tidak luput dari kesalahan dan tidak seharusnya dikultuskan. Namun melihat keyakinan, visi, dan cita-cita besar yang diperjuangkannya, rasanya tidak salah jika saya memilih untuk tidak terlalu menghiraukan ‘cacat sejarah’ yang ditorehkannya.

Bukan karena saya berasal dari Blitar, yang makamnya (Sukarno) berjarak tidak terlalu jauh dari rumah saya. Akan tetapi, sudah selayaknya bangsa Indonesia dan umat Islam, khususnya, merasa bangga menjadi bagian dari generasi penerus perjuangan Sukarno.

Jangan kerdilkan agama Islam sebatas tradisi, ritual, dan simbol belaka, akan tetapi hidupkanlah semangatnya dalam kehidupan sehari-hari. Jangan pula kerdilkan perjuangan seorang Sukarno hanya dalam bentuk upacara seremonial dan perayaan-perayaan belaka, akan tetapi hidupkanlah semangat beliau dalam mengisi kemerdekaan negeri ini.

Terakhir, mari kita simak pernyataan Sukarno yang cukup menggambarkan bagaimana pandangan keislaman beliau :

“Cobalah kita mengambil contoh. Islam melarang kita makan daging babi. Islam juga melarang kita menghina kepada si miskin, memakan haknya anak yatim, memfitnah orang lain, menyekutukan Tuhan Yang Esa itu. Malahan yang belakangan ini dikatakan dosa yang terbesar, dosa datuknya dosa.

Tetapi apa yang kita lihat? Coba tuan menghina si miskin, makan haknya anak yatim, memfitnah orang lain, musyrik di dalam tuan punya fikiran atau perbuatan – maka tidak banyak orang yang akan menunjukkan kepada tuan dengan jari seraya berkata : ‘Tuan menyalahi Islam!’

Tetapi coba tuan makan daging babi, walau hanya sebesar biji asam pun maka seluruh dunia akan mengatakan tuan orang kafir!

Inilah gambarannya jiwa Islam sekarang ini : terlalu mementingkan kulit saja, tidak mementingkan isi. Terlalu terikat kepada ‘uiterlijke voarman’ saja, tidak menyala-nyalakan ‘intrinsieke waarden’.”

***

Wima Brahmantya ketua dewam kesenian kabupaten blitar
Penulis: Wima Brahmantya ~ Seniman dan Budayawan, – Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close