Opini

Harto dan Panglima Besar Terlibat Kasus Penculikan Sjahrir

Harto dan Panglima Besar Terlibat Kasus Penculikan Sjahrir
Perdana Menteri Sutan Sjahrir (Foto: Google Image)

Oleh: Martin L

Tanggal 27 Juni 1946, Perdana Menteri Sjahrir diculik sewaktu mengaso di Solo. Yang menculik Batalyon Yusuf. Komandannya Mayor Abdul Kadir Yusuf. Karena Perdana Menteri diculik, Presiden Sukarno mengambil-alih pemerintahan, mengumumkan negara dalam keadaan darurat. Malamnya Bung Amir memimpin rapat kabinet. Bung Amir mengusulkan, kekuasaan Presiden Sukarno hanya selama masa darurat. Untuk sementara kabinet bertanggung-jawab kepada Presiden. Kalau keadaan sudah pulih, pemerintahan dikembalikan kepada Sjahrir.

Sjahrir diculik atas perintah Jenderal Mayor Sudarsono. Si Darsono ini Panglima Divisi III yang membawahi wilayah Yogya. Dia atasan langsung Letkol Suharto. Harto ini salah satu komandan resimen Divisi III. Mayor Yusuf salah satu komandan batalyon di resimennya Harto. Begitu mendapat kabar si Darsono terlibat penculikan Sjahrir, Presiden Sukarno memanggil Suharto. Ngasih perintah supaya Harto menangkap atasannya, si Darsono. Tapi Harto nyari-nyari alasan. Katanya, bukti kesalahan si Darsono kurang lengkap. Harto malah ngasih saran sama Presiden:

“Pak, kalau begini keadaannya, saya tidak berani menangkap Jenderal Mayor Darsono. Tapi kalau Bapak ngasih surat perintah lewat Panglima Besar, saya pasti nangkap.”

Sikap Harto sudah kelewatan. Dia berani membangkang perintah Presiden. Dia tidak berhak ngajarin Presiden memberi surat perintah lewat Panglima Besar. Itu sebabnya Bung Karno menyebut Harto si koppig. Koppig itu artinya keras kepala. Pembangkang!

Baca Juga:  Our Youth Need to Understand and Love Indonesia

Belakangan baru ketahuan. Yang terlibat penculikan Sjahrir ini komplotannya Tan Malaka. Di situ ada Sukarni, Iwa Kusumasumantri, Chaerul Saleh, Muhammad Yamin, Ahmad Subardjo, Jenderal Mayor Darsono, Adam Malik cs. Mereka ini berharap diangkat jadi menteri kalau Tan Malaka jadi Presiden. Panglima Besar juga terlibat. Panglima Besar itu pintar berkelit. Dia mengorbankan Darsono dan orang-orang yang berharap jadi menterinya Tan Malaka itu. Bukan cuma saya yang ngomong begini. Iwa Kusumasumantri juga ngomong Panglima Besar pintar berkelit.

Sejak Januari 1946 komplotannya Tan Malaka berusaha merongrong pemerintahan. Tan Malaka maunya jadi Presiden. Dia mengaku mendapatkan testamen politik dari Sukarno-Hatta. Testamen ini semacam wasiat. Katanya, Sukarno-Hatta kuatir sewaktu-waktu ditangkap dan diadili Sekutu karena dianggap kolaborator Jepang. Lalu meneken testamen politik. Isinya; kalau Sukarno-Hatta ditangkap dan diadili Sekutu, atau berhalangan menjalankan pemerintahan, Tan Malaka otomatis jadi Presiden. Tapi niat Tan Malaka tidak kesampaian. Pemerintahan presidensial berubah menjadi parlementer. Yang memerintah Perdana Menteri Sjahrir. Perasaan Tan Malaka jadi tidak karu-karuan. Akhirnya merongrong pemerintah. Karena sudah membahayakan, pemerintah menugaskan saya menangkap Tan Malaka cs. Tanggal 17 Maret 1946 saya menangkap Tan Malaka cs di Madiun.

Panglima Besar berhasil dipengaruhi sama Tan Malaka. Dia dijanjikan posisi nomor 2 kalau Tan Malaka jadi Presiden. Panglima Besar ini orangnya mau kuasa juga. Dia ikut Tan Malaka karena mau jadi orang nomor 2. Itu sebabnya dia selalu ikut rapat-rapat Persatuan Perjuangannya Tan Malaka. Waktu Tan Malaka cs ditahan, Panglima Besar mendesak pemerintah supaya membebaskan Tan Malaka cs. Mula-mula pemerintah tidak mau membebaskan Tan Malaka cs. Karena punya wewenang, Panglima Besar sering mendatangi Tan Malaka cs dalam penjara. Disitulah mereka membahas rancangan penculikan Sjahrir. Tan Malaka cs ini tahu, kalau Sjahrir diculik, status negara dinyatakan darurat. Presiden Sukarno akan mengambil-alih pemerintahan. Sesudah Sjahrir diculik, Bung Amir yang diculik. Kalau sudah begini, Bung Karno makin mudah ditekan. Lalu dipaksa menyerahkan kekuasaan kepada Tan Malaka.

Baca Juga:  AHY, Pajak, dan Politik

Karena Panglima Besar terus-terusan mendesak pembebasan Tan Malaka cs, pemerintah melepaskan sebagian dari mereka. Ternyata begitu dilepaskan, mereka ngumpul di markas resimennya Harto. Disitulah mereka menyiapkan penculikan Bung Amir, mendatangi Presiden Soekarno ke istana, mendesak Pesiden Sukarno membubarkan kabinet Sjahrir dan meneken pembentukan pemerintahan yang dipimpin Tan Malaka.

Beberapa hari sesudah penculikan Sjahrir, Batalyon Yusuf menculik Bung Amir. Tapi gagal karena Bung Amir melawan. Saat yang sama komplotan Tan Malaka berusaha menguasai istana, tapi digagalkan sama anak buahnya Bung Ririhema. Bung Ririhema ini komandan Lasykar Pesindo yang biasa mengawal istana.

Penculikan Sjahrir itu bagian dari kudeta komplotan Tan Malaka. Harto dan Panglima Besar terlibat disitu. Tapi mereka gagal. Begitu gagal, Harto pura-pura ikut membantu pertahanan istana. Panglima Besar, yang tadinya memonitor kudeta dari alun-alun kraton, kembali ke markasnya. Dia biarkan kawan-kawannya ditahan sama anak buahnya Bung Ririhema. (Kesaksian Soemarsono)

***

Sukarno Menyesal Atas Kematian Amir Sjarifuddin
Penulis: Martin Luther, Peneliti Sejarah
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close