OpiniPendidikan

“GENCATAN SENJATA” GANDHI MENGANTARKAN BHAGAT SINGH DKK KE TIANG GANTUNGAN

Oleh: Martin L

GENCATAN SENJATA GANDHI MENGANTARKAN BHAGAT SINGH DKK KE TIANG GANTUNGAN
(Gambar: Google Image)

23 Maret 1931, tepat 88 tahun yang lalu. Tiga pemuda revolusioner India; Bhagat Singh, Sukhdev Thapar dan Shivaram Rajguru dihukum gantung di kompleks penjara Lahore. Sebelum algojo mengaitkan tali ke leher Bhagat Singh dkk, ketiga pemuda ini berteriak lantang: “Inquilab Zindabad!” (Hidup Revolusi). Eksekusi dilaksanakan setelah Mahatma Gandhi dan Raja Muda Inggeris untuk India Lord Irwin meneken pengukuhan hukuman mati atas Bhagat Singh dkk pada 5 Maret 1931.

Polisi membawa jenazah Bhagat Singh dkk ke Desa Gandha Singh Wala, 10 kilometer dari Lahore. Jenazah-jenazah yang masih berbalut kain kafan ini diturunkan di tepi Sungai Sutlej yang membelah desa Gandha Sing Wala, dimutilasi dengan kapak dan parang, lalu dibakar. Abu dan sisa potongan jenazah mereka dibuang ke dalam sungai.

Kematian Bhagat Singh dkk menyulut amarah rakyat India. Dimana-mana terjadi kerusuhan. Kantor-kantor polisi dan kantor-kantor pemerintah kolonial dirusak. Jalan-jalan utama diblokade dan jembatan-jembatan dirusak. Pertempuran antara pemuda-pemuda bersenjata dengan tentara kolonial merebak di berbagai tempat. Nama Gandhi, yang bertanggung-jawab atas kematian Bhagat Singh dkk, dihujat. Seringkali, dalam kunjungannya ke berbagai daerah, Gandhi dihadang dan diprotes oleh rakyat. Keputusan Gandhi ikut meneken pengukuhan hukuman mati atas Bhagat Singh dkk dianggap mempermalukan bangsa India.

Baca Juga:  Musso Datang ke Indonesia Untuk Meluruskan Jalannya Revolusi

India di penghujung tahun 1920an diwarnai pertentangan antara kubu konservatif dan revolusioner. Kubu konservatif yang dipimpin oleh Mahatma Gandhi menganggap gerakan anti kekerasan dan kasih akan memenangkan hati musuh dan memudahkan India berunding dengan Inggeris untuk memperoleh kesepakatan yang adil. Kesepakatan yang adil itu adalah terbentuknya pemerintahan dibawah persemakmuran Inggeris. Namun bagi kaum revolusioner yang terinspirasi dengan kemenangan Revolusi Bolshevik, tidak ada kesepakatan yang adil apabila dalam perundingan India berperan sebagai budak dan Inggeris sebagai majikan.

Kaum revolusioner aktif mengorganisir persatuan rakyat melawan kolonialisme Inggeris. Mereka mencita-citakan kemerdekaan sebuah negara diatas tanah yang ironisnya kini terpisah menjadi India, Pakistan dan Bangladesh. Kaum revolusioner yakin, kemerdekaan hanya bisa dicapai melalui perjuangan rakyat bersenjata. Selain merebut kemerdekaan, kaum revolusioner juga berjuang melawan feodalisme, kapitalisme, sikap sektarian, sistem kasta dan tradisi kolot yang membelenggu rakyat India. Kaum revolusioner bertambah populer, terutama di Kalkutta, Bombay, Madras, Lahore, Kanpur dan Chittagong. Teriakan-teriakan Inquilab Zindabad bergema di berbagai sudut negeri. Aksi-aksi petani, buruh dan pemuda-pemuda bersenjata meningkat.

Baca Juga:  Kultur Universiter

Gandhi tidak menginginkan gerakan anti kekerasan berubah menjadi perjuangan rakyat bersenjata. Tidak mau pula kehilangan populariteitnya. Hal inilah yang melatar-belakangi munculnya kesepakatan Gandhi dan Lord Irwin mengukuhkan hukuman mati atas Bhagat Singh dkk.

Sumber:

Percakapan dengan Shatya Dev & Shelvaraj di Jakarta, 26 April 2015.

Ajay Ghosh, “Bhagat Singh and his Comrades”, CPI Publication, 1979

Malik Arjuna Sharma, “Role of Revolutionaries in the Freedom Struggle”, Marxist Study Forum, Hyderabad, 1987.

Ishwar Gaur Dayal, ”Martyr as Bridegroom: A Folk Representation of Bhagat Singh”, Anthem Press, 2008.

***

Penulis: Martin Luther,
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close