Budaya

“Ekspresi Manusia Lewat Jalur Yang Baik”

Pada akhir Mei 2018 Bandung Philharmonic Foundation menggelar konser di St Paul and The Redeemer Episcopal Church, 4945 S.Dorchester Ave, Chicago, dan pada 9 Juni 2018 di Metta’s 43 King Street, New York, Amerika Serikat.

Bandung Philharmonic Foundation adalah yayasan legal Bandung Philharmonic di Amerika Serikat. Di Chicago, Bandung Philharmonic Foundation menampilkan Michael Hall sebagai pemain viola dan Airin Efferin sebagai pianis. Mereka membawakan karya Bach, Ellenwood, Mary Kouyoumdjian, dan juga karya komponis Indonesia Marisa Sharon Hartono, dan Bubuy Bulan yang diaransemen oleh Fauzie Wiriadisastra.

“Tujuan konser ini memperkenalkan Bandung Philharmonic Foundation di Chicago tempat tinggal Robert Nordling dan Michael Hall, memperkenalkan adanya Bandung Philharmonic ke diaspora Indonesia di Chicago, serta untuk menggalang dana bagi Bandung Philharmonic Foundation. Kami berhasil menggalang dana US$ 10,030,” kata Airin Efferin kepada jurnalis MJMedia Dion Dibya. Lebih mengenal siapa Airin Efferin, berikut petikan wawancaranya:

Apa sih kegundahan Anda dan bagaimana awal tebersit membentuk Bandung Philharmonic? Apa yang melatari pemilihan orkes filharmoni dan mengapa bukan yang lain?

Karena saya jatuh cinta dengan suara orkestra filharmoni ketika saya kali pertama mendengarnya waktu kuliah di Amerika Serikat. Juga kami menganggap bahwa orkestra itu bukan hanya tentang apa yang ditampilkan di panggung, melainkan wadah untuk menyalurkan ekspresi manusia melalui jalur yang baik dan bukan yang merusak.

Banyak tantangan dan tak sedikit dukungan tentu saja saat awal membangun Bandung Philharmonic. Seberapa besar peran Ibu Anda kala itu hingga sekarang? Peran besar juga datang dari dua guru Anda yaitu Robert Nordling dan Michael Hall. Bagaimana kisahnya?

Tantangan terutama, bahkan sampai sekarang dan saya kira seterusnya adalah dana. Bagaimana kami dapat mencara dana sebegitu besar untuk operasional orkestra ini? Ibu saya membantu baik dari doa, semangat, maupun dana pribadi yang dia kucurkan untuk membantu kami. Dia pun menghubungi rekan-rekannya untuk turut membantu menyumbang dana kepada yayasan kami. Robert dan Michael membantu dari proses nol menuju ke bagaimana mengurus pemain, panggung, dan mereka pun membantu membentuk badan legal Bandung Philharmonic Foundation di Amerika Serikat untuk dapat menggalang dana di sana.

Sejak awal, personel yang dilibatkan berasal dari berbagai daerah dan alat musik juga tidak melulu alat musik yang biasa digunakan dalam orkestra, tetapi ada pula alat musik khas tradisional. Lagu-lagu yang dibawakan pun tidak melulu klasik (Barat), tetapi banyak pula yang lokal. Apa yang membuat Anda berpikir ke arah sana dan makna apa yang ditemukan di dalamnya?

Salah satu prinsip orkestra kami adalah bahwa harmoni tercipta di antara perbedaan. Justru perbedaan suara dan tipe alat-alat ini menambah keindahan dari seni yang kita lakukan. Tentu saja karena berbasis di Indonesia, kami perlu mendukung kebudayaan lokal dan berusaha mengangkatnya ke kancah internasional.

Baca Juga:  Tchaikovsky, Tokoh Dibalik Pertunjukan Balet Rusia Paling Terkenal ‘Swan Lake’

Perjalanan karier Anda tidak terlepas dari latar pendidikan di Calvin College Grand Rapids, Michigan, dan Southwestern Baptist Theological Seminary School of Church Music di Fort Worth, Texas, AS. Bagaimana Anda mengelaborasikan latar pendidikan di kedua perguruan tinggi itu dengan kearifan lokal yang menjadikan Bandung Philharmonic ini begitu istimewa?

Yang paling mudah adalah saya mengundang Robert Nordling, guru saya waktu di Calvin College untuk membantu kami membangun Bandung Philharmonic ini.

Dari sekian banyak konser baik di Tanah Air maupun di luar negeri, konser mana yang paling berkesan dan kian menumbuhkan semangat untuk terus merawat keberlangsungan Bandung Philharmonic ini?

Semua konser punya kesannya tersendiri. Ada momen-momen tertentu yang membuat kami terharu, nangis, bersemangat, dan berbahagia. Saya tidak dapat sebutkan salah satu sebab semuanya berarti.

Adakah momen tersulit saat menggelar konser (baik di dalam maupun luar negeri) dan apa itu? Lalu bagaimana mengatasinya?

Bagi saya, yang tersulit saat ini adalah human resource. Bagaimana kami dapat mengembangkan tenaga kerja profesional musik dan management seni dan panggung agar bisa sampai ke standard internasional? Salah satu cara yang kami coba tempuh untuk mengatasinya adalah dengan meningkatkan kerja sama antara profesional di Asia Tenggara. Sebab di Asia Tenggara saja, Thailand dan tentu Singapura sudah jauh lebih maju dan kami tertinggal. Karena lokasi mereka lebih dekat, kami dapat melakukan banyak transfer ilmu dengan lebih murah untuk biaya logistiknya.

Dari sejak 2016 berdiri hingga sekarang, capaian apa menurut Anda yang paling bermakna dari Bandung Philharmonic? Lalu rencana ke depan seperti apa?

Pencapaian paling bermakna adalah bahwa kami berhasil mendirikan sebuah orkestra dari nol dan kini masih terus berdiri, masih terus berusaha dan berjuang. Tiga musim sudah berlalu, dan kini kami memasuki musim keempat dengan beberapa rencana menarik seperti subscription (di mana penonton dapat membeli tiket-tiket konser selama setahun langsung di muka) lalu menggalakkan kerja sama antarregion Asia Tenggara,

Pada awal pembentukan Bandung Philharmonic agar Bandung memiliki orkes filharmoni sebagaimana kota-kota di dunia, kini mimpi apa lagi yang ingin Anda wujudkan dan bagaimana caranya?

Untuk 10 tahun ke depan saya ingin fokus membangun Bandung Philharmonic sehingga kualitasnya terus meningkat dan dapat menjadi salah satu orkestra yang ternama di region Asia Tenggara. Kami juga mempunya mimpi untuk membangun gedung konser di Bandung, sebab sampai saat ini belum ada gedung konser yang layak standar internasional di Bandung.

Sebagai pianis, Anda masuk dalam Trio Cascade. Sebenarnya apa yang ingin diraih lewat jalan ini? Lalu, bagaimana perkembangan terkini Trio Cascade?

Trio cascade adalah project awal saya sebelum memulai Bandung Philharmonic. Ini seperti pilot project dan laboratory untuk bereksperimen di berbagai jalur yang dapat saya lakukan tanpa terpentok masalah organisasi, yayasan. Menurut saya penting untuk terus mengembangkan diri dan juga bereksperimen dengan risiko yang relatif kecil untuk menemukan hal-hal baru.

Baca Juga:  Kentrung Mbah Sumeh Blitar Yang Hampir Punah

Kalau merujuk kata harmoni lalu dikaitkan dengan kehidupan berbangsa di Tanah Air yang akhir-akhir ini ada riak tidak harmonis, bagaimana Anda memaknai musik sebagai bahasa universal yang mampu menghadirkan harmoni itu?

Sebuah orkestra membentuk harmoni bukan dengan satu not, bukan dengan satu jenis instrumen, namun dengan banyak not, banyak instrumen yang berbeda yang karakter dan jenis suaranya beda, ukuran dan warnanya beda. Di dalam sebuah orkestra ada yang berperan sebagai pemimpin, ada juga yang berperan sebagai pembantu di balik layar. Ini seperti kehidupan masyarakat, tidak harus satu pendapat atau satu pemikiran, namun tetap dapat bersinkronisasi untuk mencapai tujuan yang lebih besar bersama.

Salah satu cara untuk bisa tetap meninggalkan jejak apa yang kita geluti, bisa lewat menulis buku. Apakah terpikir ke sana?

Mungkin. Namun saya merasa eksplorasi pribadi saya belum lengkap, dari elemen seperti woman leadership, pelecehan seksual yang pernah saya alamai (membuat saya ingin menggeluti #metoo movement)…banyak di dalam diri saya sendiri yang masih harus saya bereskan dan sampai saya merasa damai dengan semua itu, maka saya baru berani merangkum keseluruhannya dalam sebuah buku atau mungkin drama musikal atau film.

Pendidikan juga menjadi salah satu cara lain untuk kian menumbuhkan minat serta mewadahi bakat-bakat anak bangsa dalam bermusik khususnya orkestra. Sejauh ini, banyak anak bangsa berbakat harus belajar di perguruan tinggi di luar negeri. Apakah Anda ada rencana untuk membangun pendidikan tinggi semacam itu di Tanah Air yang menyediakan ruang untuk itu?

Sampai sekarang saya rasa untuk pendidikan musik masih jauh sekali, dan memang jika ingin bersaing di bidang musik masih harus belajar keluar. Namun tentu saya berharap suatu saat kami pun dapat membangun infrasturktur dan tenaga kerja manusia yang memadai untuk hal itu.

Apa harapan Anda tentang musik orkestra di Tanah Air dan bagaimana mewujudkannya?

Saya kenal banyak orang di Indonesia yang sedang berjuang keras untuk ini. Saya hanya bisa mengatakan, saya sangat bangga atas perjuangan mereka. Marilah kita terus asah diri kita sendiri agar dapat terus mengejar ketertinggalan kita.

Selain bermusik, apa sih hobi Anda dan bagaimana Anda menyalurkannya?

Saya sangat suka membaca dan akhir-akhir ini mulai menjalankan impian dari kecil yaitu scuba diving. Diving juga sangat melepas stress saya dan menumbuhkan kecintaan terhadap berbagai ekosistem dan kekayaan alam, bukan hanya kekayaan manusia seperti musik.

Airin Efferin, Pendiri Bandung Philharmonic

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close