OpiniPendidikan

EKSPEDISI KUDUNGGA

Oleh: Muhlis Suhaeri

EKSPEDISI KUDUNGGARamai-ramai ngomongin perpindahan ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur, jadi ingat pernah bekerja bareng Tim di Tempo Institute. Tahun 2015, Tempo Institute membuat buku berjudul “Ekspedisi Kudungga”.

Ide besarnya, menyusuri jejak kerajaan tertua di Nusantara tersebut, melalui peninggalan bangunan, budaya, kesenian, hingga tata cara hidup atau teknologi yang membentuk struktur masyarakatnya hingga kini. Juga munculnya kota-kota baru, sebagai wujud dari pertumbuhan ekonomi, hasil batu bara, minyak dan lainnya.

Tempo Institute menerjunkan tiga tim ke Kaltim. Saya bareng Jefri Aries (fotografer, sudah meninggal) ke wilayah pedalaman Kaltim. Tim 2, Kartika Chandra dan Aditia Noviansah ke wilayah pesisir Kaltim. Tim 3, Endah Wahyu Sulistianti, Yopie Nugraha dan Muhammad Faizur Rahman sebagai tim video dokumenter.

Selama 34 hari, saya dan Jefri keliling hampir seluruh wilayah Kaltim, kecuali wilayah Balikpapan ke selatan, yang rencananya dijadikan wilayah ibu kota itu. Untuk mempermudah koordinasi, kami menyewa rumah di Kota Tenggarong, Kutai Kartanegara.

Rumah semi permanen dua lantai tersebut, menghadirkan drama tersendiri. Ada suara orang berjalan pakai sendal bakiyak (kayu), tiap malam. Kletak-kletok-kletak-kletok…..

Dari Tenggarong, kami menyusuri jalan menuju pusat kerajaan tertua di Indonesia, Kutai Kartanegara atau Kutai Hindu. Wilayah bekas kerajaan tertua ini, dibelah sungai terluas di Indonesia, Sungai Mahakam. Ada binatang khas di perairan ini, pesut Mahakam atau pesut air tawar.

Di lokasi yang ditenggarai sebagai pusat kerajaan tersebut, kami masih bisa melihat struktur parit kuno yang menggelilingi wilayah suatu kota. Melindungi kota dari banjir atau serangan musuh. Seperti juga wilayah Kalimantan lainnya, sungai menjadi jalur transportasi utama, sehingga teknologi perkapalan juga berkembang dengan baik. Di sekitar wilayah itu, masih ditemukan kemampuan dan teknologi yang diwarisi hingga kini, pada pembuatan dan galangan kapal.

Masuk ke wilayah pedalaman, kami menuju ke Kutai Timur. Menyusuri Gua Kongbeng yang menjadi daerah pengungsian para Brahmana, ketika kerajaan Kutai Hindu kalah dalam peperangan dengan kerajaan Kutai Ing Martadipura yang mulai memeluk agama Islam.

Baca Juga:  GBHN PRODUK ORBA?

Kami menginap selama beberapa hari di Kampung Dayak Wehea, menyaksikan pelaksanaan gawai budaya. Menikmati dan menyaksikan ritual budaya di Kalimantan, merupakan ekstase religi yang akan terus menautkan kerinduan. Pada alam, budaya dan keramahan penghuninya.

Selanjutnya, kami menyusuri gua-gua karst di Sangkuliran, Kutai Timur. Menyaksikan jejak peradaban purba di gua ini, semakin menegaskan bahwa peradaban yang kita kenal saat ini, tidak lahir dan hadir begitu saja. Dia lahir dari suatu pergulatan atas penguasaan hajat hidup, ekonomi dan politik yang tidak sederhana. Jejak itu menapak hingga kini, terlihat secara kasat mata, menyasar pada hutan adat warga yang terus disasar oleh penguasaan sawit.

Bergeser ke wilayah hulu Mahakam, melihat migrasi awal masyarakat Dayak dan kampung-kampung baru yang terbentuk. Kampung baru, teknologi pertanian, ukiran, kerajinan, manik-manik, hingga tato menjejak pada ciri dan kehidupan khas warga.

Kemudian, kami ke Kutai Barat untuk melihat ritual adat yang dianggap memiliki jejak kuno kerajaan Hindu. Seekor kerbau diikat seutas tali panjang sekira belasan meter, supaya leluasa bergerak. Pada ujung tali yang dipilin dari serat pohon, sebuah patung setinggi tiga meter menancap kokoh menjejak bumi.

Inilah ritual Belontangk. Diantara teriakan-teriakan lantang para pemuda pemberani desa, mereka mulai menancapkan belati ke tubuh kerbau yang terus berlari.

Dari Kutai Barat, kami kembali ke daerah awal. Menyusuri wilayah Kutai lama di Kedang Ipil, Kutai Kertanegara, kita bisa menyaksikan jejak peradaban kuno dan baru, yang membentuk Kaltim hingga saat ini.

Jejak itu melekat pada dinding bebatuan tegak setinggi belasan meter, terpencil dan tersembunyi. Ada sebentuk batu-batu besar disusun sebentuk ruang pertemuan, besar terbuka menghadap dinding batu. Juga ukiran-ukiran pada bebatuan kuno.

Baca Juga:  BURUH BATIK DI HARI BATIK

Tempat ini dipercaya sebagai lokasi awal menyingkirnya para brahmana, kstaria dan lingkungan istana, ketika Kerajaan Kutai Hindu mulai runtuh. Inilah jejak awal pembentuk peradaban baru yang nantinya disebut Kutai Kertanegara Ing Martadipura atau Kutai Islam. Hingga tahun 1960-an, mereka masih menganut ‘agama lama’.

Orde Baru turut membuat mereka harus menentukan pilihan atau agama baru. Sebab, di kolom KTP harus tertera nama agama. Islam menjadi agama baru.

Tak heran bila, pada awal pelaksanaan ritual Erau, selalu dimulai dari wilayah ini. Jejak budaya terlihat pada ritual Behempas. Saling memukul dengan rotan. Jejak para ksatria untuk menunjukkan kemampuan dan ilmu beladiri, terlihat di Behempas.

Jangan lupa, sempatkan diri untuk menyambangi museum di Tenggarong. Jejak peradaban dan perkembangan masyarakat, bisa terlihat jelas di sana. Bahkan, ketika menjelang maghrib, kami dapat bonus foto di museum.

Saat Jefri Aries memotret rembang cahaya yang mulai memudar di atas museum, ada tiga frame terlihat dengan jelas. Bayangan putih terbang di atas museum.

Frame pertama terlihat bayangan putin agak kabur.

Frame kedua terlihat bayangan jelas dengan kepala putih di ujung bayangan.

Frame ketiga telihat bayangan mulai pudar.

Andai saja saya tak di sana saat itu, pasti saya tak percaya. Sebab, saya tak begitu percaya pada hal-hal seperti itu.

Menarik untuk melihat sejarah dan jejak peradaban di wilayah yang kini, bakal menjadi wilayah ibu kota. Apalagi dengan mulai masuknya para pekerja minyak sebelum kemerdekaan hingga sekarang. Pekerja illegal logging awal tahun 70-an. Atau, perkebunan sawit, dan tambang batu bara.

Para pekerja tersebut, turut membawa pertautan dan budaya baru. Juga friksi dan pengelolaan sumber daya alam.

Nah, buku Ekspedisi Kudungga, pasti sangat relevan saat ini, untuk mendefinisikan lagi Kalimantan Timur…

***

EKSPEDISI KUDUNGGA
Penulis: Muhlis Suhaeri ~ Penulis, Penerima Penghargaan Mochar Lubis Award (2008), Adiwarta (2008 & 2009), Adinegoro (2010)

 

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close