Opini

DASAR KONSEPSI PANCA CINTA

Oleh: Andreas Joko Waskito

Sebagaimana kita ketahui, tugas nasional proletariat Indonesia yang terdekat ialah menghimpun kekuatan rakyat dengan seluas dan sekuat mungkin untuk menyelesaikan Revolusi Agustus sampai ke akar-akarnya. Dan inilah juga tugas pendidikan nasional kita. Di dalam melaksanakan tugas ini, pendidikan nasional kita juga sekaligus bertugas menyiapkan syarat-syarat, baik dalam bidang ilmu maupun dalam bidang moral dan etik, bagi manusia-manusia muda yang kelak akan membangun Indonesia baru yang bahagia bagi kaum pekerja.

Dasar-dasar apa yang mesti kita berikan kepada manusia-manusia muda pembangun Indonesia baru itu?

Pertama, kita mesti mendidik mereka untuk mencintai dan menghormati kerja dan manusia yang bekerja. Moral dan kesopanan burjuis yang mengagung-agungkan “raja-raja uang” dan menganggap rendah “mereka yang bekerja” harus kita ganti dengan moral mencintai dan menjunjung tinggi kerja dan manusia pekerja. Suatu kehormatan untuk menjadi manusia kerja dan sesuatu yang hina untuk tidak bekerja dan hidup dari hasil keringat manusia lain.

Kedua, anak-anak didik kita sejak kecil mesti kita didik untuk mengenal dan mencintai tanah air Indonesia. Patriotisme adalah satu prinsip pendidikan kita yang sangat penting. Mesti kita berantas pikiran-pikiran untuk mengejar “ilmu untuk ilmu” dan menggantinya “ilmu untuk tanah air dan rakyat”.

Baca Juga:  SEPTEMBER ADALAH BULAN INDONESIA

Ketiga, suatu hal yang prinsipiil dan sangat mendesak bagi tiap manusia biasa di seluruh dunia ialah masalah perdamaian dunia. Adalah suatu yang sangat luhur untuk mencintai dan berjuang untuk perdamaian, untuk mencintai sesama manusia dari negeri mana pun. Adalah suatu kejahatan untuk merusak cinta kasih antara sesama manusia.

Keempat, penyelesaian Revolusi Agustus sampai ke akar-akarnya akan lebih cepat tercapai kalau rakyat makin tinggi taraf ilmu dan kebudayaannya. Juga Indonesia baru yang bahagia bagi manusia pekerja tidak mungkin diwujudkan hanya oleh otak dan tangan manusia yang menyala-nyala semangat revolusionernya saja, tetapi oleh mereka yang menyala-nyala semangat revolusionernya dan juga yang cakap dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Oleh karena itu kita harus mendidik anak-anak dan pemuda-pemuda kita untuk mencintai ilmu, di mana pun berlomba-lomba untuk mengejar dan mengembangkan ilmu, dalam keadaan bagaimanapun juga berpijak kepada pemikiran secara ilmu. Dari mana sumbernya ilmu dan untuk apa ilmu ditemukan? Alam semesta kita penuh mengandung hukum-hukum ilmu pengetahuan yang tak terbatas. Sebelum manusia ada hukum-hukum alamiah telah ada, tetapi hukum alam ini belum merupakan ilmu karena manusialah yang mengenalnya, merenungkannya, menyimpulkannya, dan akhirnya merumuskannya. Mula-mula ditemukan berbagai ilmu dalam tingkat yang rendah dan berangsur-angsur manusia menemukan, merumuskan lebih sempurna dan menyimpulkan hukum-hukum ilmu tersebut, sampai yang serumit-rumitnya dan yang sepelik-peliknya. Perkembangan ilmu ditemukan oleh manusia berdasarkan praktek kerja mereka dalam mengadakan kontak langsung atau tak langsung dengan fakta-fakta dan realitas alam serta perkembangannya, terutama dalam hubungannya dengan proses produksi. Perkembangan ilmu makin lama makin rumit, makin pelik, makin kompleks dan akan berkembang terus, karena perkembangan ilmu mempunyai sifat tak terbatas. Dan perkembangan ilmu ini makin cepat setelah manusia mulai menggunakan Marxisme sebagai senjatanya. Ilmu ditemukan dan dikembangkan oleh manusia karena manusia membutuhkannya untuk memperbaiki taraf hidupnya, untuk menjaga keselamatannya. Jadi karena perkembangan ilmu sangat tergantung dari manusia, maka memisahkan ilmu dari kepentingan manusia, apalagi menggunakannya untuk menghancurkan kepentingan manusia adalah perbuatan jahat, perbuatan tak berilmu dan merusak perkembangan ilmu. Jadi mencintai ilmu tak mungkin dipisahkan dengan mencintai manusia karena manusia pencipta ilmu.

Baca Juga:  MENYELAMI PANCASILA SEBAGAI DASAR INDONESIA MERDEKA

Kelima, kita juga harus mendidik anak-anak dan pemuda-pemuda kita untuk mencintai ayah dan ibu, sebabnya sangat sederhana, karena ayah dan ibulah yang melahirkan kita dan karena ayah dan ibu mencintai kita. Tiap manusia, membutuhkan keselarasan hidup dalam keseluruhan kehidupannya, juga dalam hubungan dengan ayah dan ibu dan sebaliknya dari orang tua terhadap anak-anaknya. Jadi keselarasan hidup antara ayah-ibu dengan anak-anaknya adalah sebagian dari kebutuhan mutlak manusia. Oleh karenanya kita tak boleh berbuat yang dapat merusak kebutuhan mutlak tadi dan kita harus mendidik anak-anak dan pemuda-pemuda kita untuk memelihara dan memupuk keselarasan hidup tadi.

Dengan begitu jelaslah bahwa tugas pendidikan tidak hanya harus mendidik manusia-manusia berilmu, tetapi juga manusia-manusia dengan moral dan etik tipe baru, tipe kaum pekerja.

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close