OpiniPendidikan

Dari Roma ke Davos: SOEDJATMOKO dan KLAUS SCHWAB

Dari Roma ke Davos SOEDJATMOKO dan KLAUS SCHWAB 1
DR, SOEDJATMOKO (Foto: Istimewa)

Oleh: Manuel Kaisiepo

Membaca ulang pemikiran dalam buku THE FOURTH INDUSTRIAL REVOLUTION (2016) karya Klaus Schwab, pendiri dan Ketua WORLD ECONOMIC FORUM (WEF), membuat saya teringat cendekiawan besar Indonesia, Dr. #Soedjatmoko, akrab disapa Pak Koko.

Lebih khusus lagi, saya teringat Jurnal #PRISMA, edisi ekstra, akhir tahun 1973 dengan topik “Membudayakan Masyarakat Dunia” (Reconstituting the Human Community).

Yang menjadi Redaktur Tamu sekaligus penulis Kata Pengantar untuk Prisma edisi istimewa itu adalah Dr. Soedjatmoko sendiri.

***

Prisma, nomor ekstra, akhir tahun 1973 (Foto: Istimewa)

Buku Schwab memuat pikiran-pikiran besar tentang masa depan bersama umat manusia dihadapkan pada kemajuan teknologi mutakhir dan dilemanya dalam segala aspek kehidupan, termasuk juga aspek moral dan etika.

Tahap kemajuan teknologi mutakhir yang dikenal sebagai “Revolusi Industri Keempat”, telah membawa transformasi dan perubahan mendasar yang skala, cakupan, serta kompleksitasnya belum pernah dialami umat manusia sebelumnya.

Baca Juga:  MITOS TENTANG MILITER

Tentu, pikiran dan gagasan serta rekomendasi yang dianjurkan, bukan hasil pemikiran Schwab sendiri. Ini hasil pergumulan berbagai pemikir hebat, negarawan, ekonom terkemuka, para industrialis, mantan CEO perusahaan multinasional dari berbagai negara yang bergabung dalam World Economic Forum di Davos, Swiss.

Tetapi pemikiran, concern dan rekomendasi dari Davos itu sebenarnya tidaklah baru. Dia adalah “kelanjutan” dari pergumulan pemikiran dan concern serupa 47 tahun lalu di Roma dan Bellagio, Italia. Substansi “pesan” yang disampaikan sama.

Pada Maret 1972 di Roma, berlangsung pertemuan para pemikir dunia dalam forum THE CLUB OF ROME, membahas proyek riset global mereka yang dikerjakan oleh Massachussets Institute of Technology (MIT) di bawah Profesor Dennis L. Meadows dan timnya.

Riset itu kemudian dibukukan dengan judul THE LIMITS TO GROWTH (“Batas-batas Pertumbuhan”), sebuah buku yang sangat fenomenal saat itu.

Baca Juga:  Defisit Demokrasi: "CRITICAL CITIZENS" dan "FREE RIDERS"...!!

Pertemuan berikutnya Februari 1973, Club of Rome kembali membahas “The Limits to Growth”, dan menghasilkan sebuah dokumen berjudul “The Club of Rome – The New Threshold” (“Ambang Pintu yang Baru”).

Kemudian dalam pertemuan berikutnya lagi Juli 1973 di Bellagio yang disebut Colloquium III Bellagio, dihasilkan sebuah dokumen penting: “RECONSTITUTING THE HUMAN COMMUNITY”.

Dalam rangkaian pertemuan dua kelompok penting itu, Kelompok Roma dan Kelompok Bellagio, Dr. #Soedjatmoko aktif sebagai pembicara, bahkan ikut menjadi perumus akhir dari dokumen-dokumen penting di atas.

***

Hasil rumusan dan rekomendasi dari pertemuan kedua kelompok pemikir dunia itulah yang kemudian diterjemahkan dan dimuat dalam Prisma edisi ekstra di atas.

RRedaksi Prisma sungguh beruntung karena dalam edisi istimewa itu, Dr. Soedjatmoko sendiri bertindak sebagai Redaktur Tamu sekaligus menulis Kata Pengantar. Itu 47 tahun lalu !

Pemikiran-pemikiran baru dan rekomendasi yang diajukan Schwab dan kelompok pemikir di Workd Economy Forum saat ini rasanya adalah “lanjutan” dari tema besar yang sudah dibahas hampir setengah abad lalu.

***

Manuel Kaisiepo, MissJune News
Penulis: Manuel Kaisiepo ~ Pengamat Politik
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close